Pantai Pasie Saka, Aceh Jaya; Jangan Mati di Sini

Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
 “Sekali ada yang meninggal di sini, kami satu minggu tidak ke laut. Atau sampai mayatnya ketemu. Baru kami akan ke laut lagi.”
*****
Siang menjelang sore, awal dari perjalanan panjang saya dan keluarga untuk menyusuri sisi barat Aceh hampir saja tersangkut di kabupaten Aceh Jaya. Kala itu seorang pemuda desa Jeumpheuek berbicara dengan nada sedikit tegas ketika saya meminta ijin untuk memasuki salah satu daerah wisata di kabupaten Aceh Jaya. Pantai Pasie Saka.
Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
Total ada 4 bukit yang harus di naiki...
Sedari awal perjalanan dari Banda Aceh ke Pantai Pasie Saka, saya sudah curiga. Fakhri dan makmur, berganti-gantian memainkan handphone mereka. Hanya untuk memastikan kalau rombongan kami (saya dan keluarga beserta 4 teman blogger Aceh lainnya) bisa masuk ke pantai yang mulai naik daun di awal tahun lalu. Entah berapa orang sudah yang mereka hubungi. Saban mereka memutuskan pembicaraan, raut wajah mereka berdua sama. Kecewa. Itu artinya, benar bahwa pantai pasie saka tutup!

Jujur, sempat terlintas rasa kecewa yang sangat besar ketika saya mendengar update-an dari rekan seperjalanan kali ini. Tapi, jalanan yang sudah ditempuh, mobil yang sudah di sewa, serta anak-anak yang kadung ikut, tak mungkin kami surut walau selangkah. Kita nekat!

Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
Dari jalanan Banda Aceh-Aceh selatan, tepat pada kilometer 116, mobil yang kami pacu dari Banda Aceh ini, berbelok ke sebelah kanan. Memasuki sebuah desa dengan susunan rumah bantuan pasca tsunami lalu. Sesekali, masih terlihat sisa bangunan hancur yang muncul dari balik semak belukar. Selang beberapa menit, sampailah kami di ujung jalan. Tertulis sayup-sayup, desa Jeumpheuk. Beberapa pemuda berdiri di ujung jalan. Ada yang sedang bersantai di bawah pohon. Ada yang sedang duduk menghisap rokok di bawah rumah panggung.

“Hanjeut jak dek!” ( tidak boleh jalan dek) ketika makmur dan fakhri mencoba menjelaskan maksud dan tujuan kami datang ke desa mereka. Desa ini, merupakan desa terakhir sebelum akhirnya kami bisa mencapai sebuah pantai “tersembunyi” dengan tekstur pasir putih seperti gula. Menurut kabar yang beredar, nama Pasie Saka ( Pantai Gula) memang di ambil dari tekstur pasirnya yang sangat menyerupai gula pasir.

Mereka, pemuda yang ada dihadapan saya, bersikukuh untuk tetap melarang kami melanjutkan perjalanan menuju ke pantai “gula pasir”. 

“Dek, neutulong meuphom siat. Menyoe na yang meuninggai lam laot, sigoe minggu kamoe hana meulaot. Kiban dapue kamoe?” Dek, tolonglah mengerti kami sedikit saja. Andaikata ada yang meninggal di laut (di seputaran desa) satu minggu kami tidak melaut. Bagaimana dapur kami akan berasap?

Saya, istri, dan teman lainnya terdiam dan berdiri mematung. Saya melemparkan pandangan ke Fakhri. Berharap ia bisa mencairkan suasana yang mulai menyamai udara Aceh Jaya yang memang panas. Syukurnya, Fakhri, pria tambun ini paham apa yang harus dilakukannya sesegera mungkin. Dan, tak perlu waktu lama. Suasana mencair dan solusi diberikan.

Tidak boleh ikut anak-anak dan istri. Hanya pria saja, ijin dulu ke pak Keuchiek (kepala desa) dan harus bersama guide dari desa. Deal!

Pantai Pasie Saka
Ironi, mungkin ini adalah kata yang cocok untuk mengambarkan keadaan desa Jeumpheuk. Di satu sisi, mereka mengharapkan pemasukan dari sector pariwisata. Di sisi lain, mereka juga tak ingin bila tidak ke laut. Saya akhirnya mengerti. Tempat yang indah ini “terpaksa” ditutup. Bukan salah mereka sebagai pemililk lahan. Tapi salah pengunjung yang tak pernah mau mengerti local wisdom desa tersebut.

Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
Tapak demi tapak saya susuri semak belukar dan jalan setapak yang menanjak. Sesekali saya masih bisa mendengar suara Ziyad yang mencoba memanggil saya. Dia ingin ikut, tapi kesepakatan adalah kesepakatan. Merusaknya, sama dengan merusak hati masyarakat setempat. Berat memang, tapi semua ada harga yang harus di bayar.

Sepanjang jalan menuju Pantai Pasie Saka, bang Hamdan, Guide kami, menjelaskan bahwa ini sedang musim angin barat. Ombak laut sedang besar-besarnya. Kami di himbau untuk tidak mendekati pinggir laut sedikitpun. Kalau tidak mau berakhir dengan korban yang meninggal karena mencoba Selfie di salah satu sudut batu karang di tepi pantai Pasie Saka.

Kami semua mengangguk. Dan, tak lama, debur ombak terdengar mendentum layaknya meriam yang menyerang kapal. Beberapa ekor monyet berlarian ketika kami menyambangi pesisir pantai.
“Ini ya bang?” Tanya saya kepada bang Hamdan.

“bukan, masih dibalik bukit itu” sambil menunjuk ke sebelah kanan dari tempat kami berdiri. Alamak, masih harus naik bukit lagi? Dengan senyum manis, bang hamdan menjawab, bahwa masih ada dua bukit lagi yang harus ditapaki.

Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya

Belum sempurna nafas yang tersengal (inilah yang membuat saya malah trekking hiks) sudah harus menapak lagi. Waktu terus berjalan, mentari sudah mulai sore, deburan ombak masih berdegup sempurna.

Saya hanya terdiam. Makmur, Fakhri, Khairul, dan Zulvan duduk berjajar ditepian bukit. Memandangi arah yang sama. Melepas penat dan menikmati ciptaan Tuhan yang luar biasa. Sekeping syurga yang diturunkan di desa Jempheuk, kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya. Betapa ini begitu indah, hingga wajarlah banyak orang yang ingin mendatanginya. Berlarian dipasirnya yang lembut dan bak gula pasir. (minus manisnya doang).
Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
Hari itu, saya mengerti banyak hal. Bang Hamdan, Pasie Saka, desa Jempheuk dan wisatawan yang direnggut maut, semuanya menjadi sebuah frame besar. Saya jadi teringat akan percakapan saya dengan seorang penggiat Kawasan Ekosistem Leuser, beliau mengatakan;
“manusia hari ini aneh, masa alam yang diminta beradaptasi kepada manusia. Bukannya seharusnya manusia yang beradaptasi dengan alam”
Bukan Pantai Pasie Saka yang salah karena ombak besarnya, tapi salah manusia yang lebih mengedepankan egonya. 


&&&
Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
Additional Information  (By Makmur Dimila) :
  1. Selanjutnya jika ingin ke Pasi Saka, pengunjung wajib lapor ke Keuchik Jeumpheuk, untuk diarahkan dengan siapa dan bagaimana cara mencapai lokasi objek wisata itu.
  2. Bawalah bekal sendiri ke Pasi Saka, dengan membelinya di supermarket atau kedai-kedai yang dijumpai di Jalan Nasional Banda Aceh – Aceh Selatan.
  3. Saat seramai sebelum kejadian naas itu, satu kelompok turis dikenakan biaya Rp150 ribu/trip (maks 10 orang). Sekarang, beri saja sesuai dengan pelayanan sang pemandu, jika tak ingin dikatakan seikhlasnya.
  4. Sebaiknya datang di Musim Angin Timur, ketika angin bertiup dari barat, sehingga laut tidak bergelombang.
  5. Datang di musim angin apapun, wisatawan dilarang mandi di Pasi Saka, karena arusnya dalam.
  6. Pantai ini cocok untuk camping ground, trekking, dan x-trail/tourbike.

Cerita lain tentang perjalanan "Susuri cahaya aceh dari pantai barat" yang di sponsori oleh Dinas Pariwisata Provinsi Aceh adalah sebagai berikut :

Yudi Randa

Saya, menyukai dunia travelling, Mencintai membaca, Mencintai duduk bersama keluarga sembari menikmati secangkir kopi, menyenangi berbagi bersama. Bisa di Hubungi di yudi.randa@gmail.com

14 komentar:

  1. Aku baru tahu kalau Pantai Saka ditutup. Dulu sempat hits ya. Tapi bagus juga kalau ada yang mau menjadi guide. Jadi pantai lebih terjaga dan pengunjung bisa dikontrol. Dibolehkan kamping di situ, Bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah klo soap camping saya nggak sempat tanya cit, tapi tempatnya keren emang hehe

      Hapus
  2. Jadi pantai ini ditutup karena ombaknya sedang besar ya? Apa pemerintah desa pernah terlintas ide untuk menyiagakan tim SAR di lokasi untuk mengantisipasi pengunjung yang "bandel"?

    BalasHapus
    Balasan
    1. pantai ini tutup karena beberapa bulan lalu ada yang meninggal.
      untuk menyiagakan Tim Sar di lokasi tersebut kayaknya belum bisa Wijna, dananya kan nggak sedikit

      Hapus
  3. Beginilah ironisnya wisata di Aceh @_@
    btw, penasaran apa yang dilakukan Fakhri untuk "melunakkan" hati abang pitu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba tanya sama fakhri besok pas ketemu sama dia hahaha

      Hapus
  4. Akhirnya sampai juga ya di Pasie Saka itu. Hehe. Dan benar kata kawanmu itu, manusialah yang harus beradaptasi dengan alam, bukan sebaliknya. Dengan kata lain, manusia baik pengelola maupun turisnya harus sama2 sadar wisata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yups benar sekarli Mur, apalagi perihal keirian diantara mereka, ini kan aneh saja

      Hapus
  5. semoga cepat dibuka ya kalau sudah kondusif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah di buka sih win... tapi just for a men :D

      Hapus
  6. Kok sedih ya. pantai yg berpotensi gini malah mau ditutup.
    kayanya sdm di dalamnya g siap, atau belum adanya lembaga lokal yang mengelola dgn baik. sayang sekali :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. mereka bukan tidak siap, tapi pengunjungnya terlalu "keras kepala" mas :)
      dan memang daerah ini daerah yang sedang berkembang, mudah2an kedepannya lebih baik lagi

      Hapus
  7. Serem amat yaaa kalo ada yg meninggal mereka ngak bisa melaut, kan kasihan ngak dapat pemasukan tp itulah solidaritas

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu dia om.. makanya aku ngerasa mereka juga serba salah. jadi mau tidak mau ya di tutup dulu

      Hapus