Kamis, 15 Desember 2016

Aceh Gempa, Salah Siapa? [Opini]


Ziyad dan Bilqis, dua abang beradik ini, kalau kompak, semua orang dibuat iri oleh mereka. Kalau sedang ribut soal mainan, satu rumah bisa ikut repot dibuatnya. Ziyad, selaku anak yang sulung sering sekali menjaga adiknya. Lagi pula memang itu yang selalu saya ajari kepadanya. Kalau adiknya itu perempuan, dan cantik. Sehingga harus dijaga sebaik mungkin.
Suatu hari, bilqis main di kandang bebek milik neneknya bersama sang abang. Sesekali, ia mengejar bebek serati. Sesekali ia meneriaki sang bebek sampai lari ketakutan tak tentu arah. Bahkan, tak jarang ia akan menarik ekor sang bebek sampai bebek tersebut menjerit kesakitan lalu dua abang beradik ini akan tertawa bersama. Begitulah kehidupan anak-anak. Tidak ada rasa baperan #eh

Tak lama berselang, bilqis nangis sejadi-jadinya. Abangnya, ziyad, lari mengejar suara tangis sang adik lalu berusaha mendiamkannya. Lalu, ziyad menuntun adiknya masuk ke dalam rumah sembari terus berusaha menenangkan Bilqis.
Akhirnya saya tahu, kalau bebek yang selama ini dikejar-kejar oleh bilqis malah mengejar bilqis. Ziyad berusaha membela bilqis dari kejaran bebek, dan bilqis pun selamat. Masalah selesai? Belum! Ternyata, secara runut, ziyad menjelaskan kalau bebeklah yang salah. Bukan adiknya. Di sini saya merasa, kalau ada yang salah dalam pemahaman kedua anak saya. Bagaimana mereka bisa menyalahkan bebek yang sudah notabenenya adalah binatang peliharaan? Orang dewasa manapun, tidak akan percaya hal tersebut, bukan?

Sepintas, saya jadi teringat apa yang sering diceritakan oleh teman-teman penggiat konservasi yang akhir-akhir selalu mengisahkan betapa sulitnya mereka menengahi konflik manusia dengan satwa liar. Terutama gajah Sumatra dan orangutan Sumatra. Tak jarang dalam pertikaian tersebut timbul korban jiwa di pihak manusia. Tak sedikit pula dari pihak penghuni hutan.

Entah bagaimana ceritanya, para politikus, beberapa media, selalu menceritakan dan menyebut kalau yang salah adalah si gajah yang masuk ke pemukiman manusia. Sehingga dianggap hama. Pun begitu dengan orangutan.

Saya punya satu pertanyaan, ini yang manusia siapa? Yang nulis berita, yang bicara mengenai berita, atau si Gajah Sumatra dan Orangutan yang jadi “manusia” sehingga boleh dianggap sebagai pengacau?

Sependek pengetahuan saya, manusialah yang dituntut untuk beradaptasi dengan alam, bukan sebaliknya. Lalu kenapa tiba-tiba manusia menuntut gajah atau orangutan untuk beradaptasi dengan perkembangan manusia yang terus merambah ke dalam hutan? Anehkan? Bingungkan?

Kita lanjut lagi, cerita ziyad dan bilqis, sebenarnya adalah cerita yang biasa terjadi disekitar kita. Hampir rata-rata orang tua masa kini maupun masa lalu, selalu mengajarkan anaknya (hanya demi membuatnya senang dan tidak menangis lagi) bahwa bisa dia jatuh yang harus dipukul atau dimarahi itu adalah lantainya. Bukan sang anak.

Tahukah kamu, justru sifat itulah kini yang dibawa oleh sebagian manusia dimanapun mereka berada. Ketika alam murka, maka alam yang salah. Ketika gajah merusak kebun sawit, yang salah adalah gajah. Bukan manusia yang terus merambah hutan. Begitulah…

Hutan Ulu Masen yang kini menghilang sehingga menyebabkan banyak babi turun ke kota. Sering terjadi banjir dan longsor di kawasan barat selatan Aceh. Salah siapa? Bukan salah manusia yang merambah hutan dan menjadikannya lahan Sawit. Tapi salah pemerintah yang tak mau membuat sungai lebih dalam sehingga air gunung lancar menuju ke laut. #situSehat?

Lalu babi? Ya salah babi, kenapa harus turun gunung! Jadi babi itu wajib ditembak, diburu, ataupun disiksa sampai anak cucu. Tapi tahukah kamu, salah satu yang menyebabkan babi akhirnya turun gunung karena populasinya mulai over alias kebanyakan karena tak ada lagi harimau yang memakannya. Kenapa? Karena harimau sudah beralih fungsi, dari hewan menjadi hiasan. Siapa yang salah? Babi!

Pasal satu, manusia tidak pernah salah. Pasal dua, kalau manusia salah maka kembali ke pasal pertama!

Lalu, apa hubungannya dengan gempa di Pidie Jaya?

Seharian ini, ada beberapa foto beredar di timeline facebook saya. Dalam foto tersebut digambarkan kalau Pantai Manohara, salah satu pantai yang cukup terkenal di pidie jaya ditutup untuk selama-lamanya. Karena pantai itu disebut sebagai tempat maksiat. Tempat muda-mudi sekitar mereudu berdua-duaan dengan yang bukan pasangan sah dan halal mereka. Tempat ini pula disebut-sebut sebagai tempat pengundang bala sehingga gempa terjadi di pidie jaya.

foto by Facebook.com

Secara terminology Islam, salah satu sebab terjadinya musibah sering dikaitkan dengan dosa anak manusia. Salah satu yang tercatat adalah “Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)" (QS. Asy-Syuura: 30).

Kawan-kawan sekalian, sekarang, kita renungi bersama ayat dari kitab Suci ALQURAN ini. Itu yang salah sebenarnya siapa? Pantai yang tiba-tiba dijadikan tempat mesum atau si pelaku mesum yang menjadikan pantai tersebut kotor akan dosa. Bingung ya? Sama. Hehehe

Begini, bila kamu sedari awal menyimak cerita Ziyad dan konflik manusia dengan hewan liar di atas. Sebenarnya siapakah yang paling bersalah dan disalahkan oleh Allah? Pantai Manohara tempat di mana para kawula muda bisa ciuman, yang saya yakin jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan orang yang memancing ikan serta liburan bersama keluarga di pantai tersebut. Ataukah salah si pelaku yang melakukan zina di pantai tersebut? Masih bingung?

Salah mana? Orang yang teriak maling sehingga membuat maling tersebut tertangkap oleh pihak berwajib, ataukah salah si maling yang karena gara-gara dia, membuat gabuk orang satu kota untuk mengejarnya dan tidur tak tenang ?  Sampai di sini sudah paham bukan?

Aneh? Tentu saja. Saya sering mengistilahkan hal yang seperti dengan “Menembak Nyamuk Dengan Meriam”. Nyamuknya hanya mati sebagian, yang ada rumah malah hancur dan bolong-bolong. Ujung-ujungnya? Tetap digigit nyamuk!

Menutup pantai tidak akan menyelesaikan masalah zina ataupun mesum. Pun, menutup pantai yang merupakan alam ciptaan Allah tidak akan menyelematkan kita dari bahaya alam lainnya.

Masih ingat, ketika seorang ustad di youtube mengatakan kalau tsunami Aceh karena dosa orang Aceh? Karena orang Aceh suka makan ganja, karena orang Aceh suka melakukan tarian striptis di pantai. Apakah kamu mengiyakannya? Tidak bukan? Yang ada malah beramai-ramai kalian tuntut agar si ustad meminta maaf dan mencabut pernyataannya.

Lalu kasus yang hari ini terjadi di Pantai Manohara? Kenapa yang terjadi malah salah si pantai? Bila memang setiap musibah yang datang karena suatu tempat di Aceh ini, maka itu artinya Aceh ini biang terjadinya Bala Musibah! Karena tsunami dan gempa terdahsyat di abad ini pernah terjadi di Aceh. Itu salah Aceh, kan?

foto jalan menuju pantai Manohara Pidie Jaya ( credit by : Facebook.com)

credit foto by : Facebook.com

Kawan, ingatlah satu hal, setiap musibah yang datang bukan karena salah suatu tempat dijadikan tempat maksiat atau bukan. Tapi karena oleh perbuatan tangan kalian sendiri. Banjir datang bukan salah hutan yang gundul tapi salah manusia yang serakah menebang hutan.


Gempa, banjir, tsunami, atau musibah alam lainnya, terjadi bukan karena salah tempat. Tapi terjadi karena kesalahan kita dan kehendak yang Maha Kuasa. Ia memberikan musibah sebagai cobaan sekaligus pengingat. Mencoba untuk mencari hambaNya yang taat, sekaligus pengingat bagi hambaNYA yang lupa akan kewajibannya sebagai manusia.

Sebelumnya, maafkan saya yang menulis judul sedikit fantastis dan terkesan seperti tak punya perasaan sebagai bagian dari orang Aceh. Anggap saja judul itu sebagai daya tarik, sehingga kawan-kawan mau membaca tulisan saya yang tak seberapa jelas ini.

Pidie Jaya, bagi saya adalah sebuah rumah kedua. Di sini, saya belajar banyak hal mengenai kehidupan Aceh pesisir. Pidie jaya, adalah tempat di mana saya, memiliki keluarga kedua yang memberi begitu banyak warna dan cerita.  Dan kini, Pidie Jaya, luluh lantak. Dihantam gempa tanpa ampun. Tiba-tiba, kini lini masa dunia media mulai berkicau bak pasar malam. Menyalahkan alam yang menghukum manusia. Mencari kambing hitam atas musibah yang terjadi. Inikah kita hari ini? Selalu lupa bercermin?



Beberapa tulisan yang terkait :





  1. Pengelolaan pantai dengan baik, dan inovatif, bisa selesaikan masalah-masalah "maksiat" itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups benar sekali.. semua ada solusinya bila kita mau duduk bersama

      Hapus
  2. turut berduka kepada saudara-saudara kita disana

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih bang Anggoro atas kepeduliannya

      Hapus
  3. kenapa bukan yg mesum aja ya yg dilarang,,,kenapa sampai pantainya harus jadi korban,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. masalahnya itu bukan hanya terjadi di pidie bang.. tapi hampir rata di tempat lain.. sepertinya kita salah mengartikan syariat islam :)

      Hapus
  4. Iya neh salah bebeknya eh.... nggak setuju suatu tempat ditutup, apalagi kawasan wisata gratis gara2 ulah sekelompok orang,

    BalasHapus
    Balasan
    1. ntah apa si bebek kejar2 si bilqis.. ckckckc

      Hapus
  5. Ini salah kamuuu kenapa kamu gak kasih tahu dari awal kalau tulisan ini layak dimuat *eh

    Tetaplah menulis tentang Aceh mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiaaaah mau dimuat di mana Koh?? di majalah bekas?? hahaha

      terima kasih Koh untuk suntikan semangatnya :)

      Hapus
  6. Salah bebek....#ehhh
    Turut berduka atas musibah yg terjadi di Pidie, semoga tetap kuat masyarakat disana.

    Sedihhh juga yaa....kenapa musti pantainya yg ditutup. Semoga hanya sementara penutupannya, setelah Aceh kondisinya stabil pasca gempa akan dibuka kembali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin.. saya pun berharap demikian. lalu masyarakat di sana bisa berbenah menjadikan pariwisata sebagai sektor pendukung ekonomi mereka

      Hapus
  7. Soal kerusakan itu tidak ada yang patut disalahkan selain manusia itu sendiri. Soal bencana saya melihat secara teori alam saja, kenapa banjir terjadi karena penebangan hutan, kenapa gempa terjadi karena pengeboran minyak bumi dan lain-lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pengeboran minyak bumi, sangat amat jarang sebagai pemicu bang bro :)

      Hapus
  8. Pernah dua kali ke pantai Manohara pas KKN dulu. kalo sorean penuh muda-mudi boncengan..... #ilfilLiatnya
    mau pantainya ditutup, tetap saja yang gitu-gituan bakal pindah tempat. caranya perketat peraturan atau sering2 razia di pantai, dan tempat-tempat lain..

    BalasHapus
    Balasan
    1. razia sebenarnya juga bukan menjadi solusi sih kak Tina.. tapi, yaa utk jangka pendek mungkin bisa kali lah ya :)

      Hapus
  9. anak kecanduan rokok, yang disalahkan penjual atau bahkan pabrik rokok. Murid tidak naik kelas yang disalahkan (bahkan wali murid terlibat) adalah wali kelas atau bahkan tempat anaknya bersekolah.

    Kalau anaknya sudah kecanduan rokok, dia akan berusaha di manapun tempatnya asal bisa merokok, tidak kedapatan orang tua.

    Kalau anaknya tidak disiplin, dikenal sbg pelanggar aturan sekolah, pemalas, mau pindah ke sekolah manapun akan tetap begitu.

    Solusinya? tuntun si anak ke jalan yang benar. Kalau bukan dia sendiri yang mengubah dirinya sendiri, lalu siapa lagi? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertama saya sampaikan turut berduka atas musibah di pidie jaya. Saya pernah tinggal di meureudu 2014-2015.
      Saya sependapat dengan Aldiandar. Saya tambahkan analoginya.Umpakan seseorang atau sekelompok orang dibunuh dengan pisau, haruskah pisaunya dimusnahkan? Tentu saja tidak, tanpa pisau pun juga bisa terjadi. Tapi yang perlu diperbaiki adalah siapa sipemegang piasau itu. Kalau masalah pantai manohara, saya berpikiran tidak harus pantai yang ditutp, tatapi tata kelola yang perlu dibenahi. Terapkan aturan aturan yang wajib diberlakukan kepada pengunjung, kemudian tata kelola pedagang, seperti bagusnya tempat-tempat santai duduk disnaa. itu yang perlu di tata ulang. Ini pemikiran saya, mohon maaf jika kurang berkenan. Pantai manohara kalau dikelola dengan baik bisa sebagai pendapatn daerah dan masyarakat sekitar. Membuka lapangan pekerjaan.

      Hapus
    2. Saya suka komentar bang Alfiandar :)

      Hapus
    3. tidak, saya sangat berkenan ketika ada komentar2 membangun begini bang Salim :)

      Hapus
  10. Semoga masyarakat sadar ya mas akan dampak apa sebelum dan sesudah hal yang dikerjakanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. amien.. saya juga berharap demikian mas :)

      Hapus
  11. Sepaham kita Yud! Miris sama pantai yang ditutup. Bukankah hal itu malah membuat pelaku mesum lebih leluasa ya karena lokasinya jadi lebih sepi :/

    Ah jadi kangen Ziyad & Bilqis!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaaa bener banget!


      btw semoga bisa ketemuan pas di bali ya Kang :D

      Hapus
  12. Belum pernah ke Manohara, jadi tidak tau dengan baik apa yang sebenarnya terjadi disana. Terima kasih bg Yudi, sudah menggambarkan Manohara dengan baik. Semoga musibah yang menimpa Pidie kembali menjadi teguran bagi kita semua untuk selalu taat akan perintah-perintahNya. Aaamiiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. saatnya meluaskan sudut pandang dengan banyak2 keluar jalan jalan ke luar kampung :)

      Hapus
  13. Aminn, Insyaallah...!!! Menurut hemat saya melihat dari pengalaman yang kita lihat bersama paska Tsunami Aceh, Pidie Jaya akan lebih maju kedepan. mungkin ini teguran pada petinggi daerah khusunya dan kita pada umumnya, agar selalu adil dalam mengambil kebijakan. Bak kata "orang makan durian dan kita hanya menikmati aroma".

    Salam saya untuk Ziyad & Bilqis
    Katakan pada mereka permainannya menjadi motivasi bagi yg lain.

    Ketika kita melirik makanan aceh mungkin Ayam Tangkap yang terlintas, sekarang Mungkin kita bisa buat referensi makanan baru yaitu "Bebek Tangkap".
    Hehehhee....

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bang Afwi, seharusnya demikian, tapi terkadang kita sering lupa diri sehingga diingatkan oleh yang Maha Kuasa :)

      Terima kasih juga untuk om Afwi sebagai ketua KNPI sudah sudi mampir ke blog sederhana ini

      Hapus
  14. Saya waktu ke Pidie Jaya di hari ketiga pascagempa Pidie Jaya, sempat menjumpai seorang warga yang tinggal di desa terakhir menuju Pantai Manohara. Dia bilang di akhir obrolan, "musibah ini terjadi hanya gara-gara Pantai Manohara itulah."

    Saya terdiam. Ingin mendengar sambungan ucapannya. "Banyak mudah-mudi bikin maksiat disitu," sambungnya.

    Jelas sudah, yang salah bukanlah alam (Pantai Manohara) tapi manusia (muda-mudi yang bikin maksiat).

    Pantai Manohara itu bisa saja dibuka kembali, nanti, beberapa lama setelah kondisi psikologis masyarakat di sekitara pusat gempa itu pulih. Kalau saat ini kita berdebat dengan mereka, mungkin sulit, sebab mereka masih trauma. Karena pusat gempa berjarak sekitar 1 mil dari Pantai Manohara.

    Nyaaan... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nyaan baroe bereh.. terima kasih tambahannya bang Makmur
      semoga mereka bisa segera kembali berbenah dan membuka diri

      Hapus
  15. Dari Ziyad, bebek, kemudian gajah n harimau sumatra, orangutan, gempa Aceh, dan akhirnya berujung ke pantai manohara yang ditutup, kompleks banget ceritanya. Intinya, jangan mencari kambing hitam dalam setiap peristiwa, kembali intropeksi diri, bukan begitu bg Yudi, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf ya klo ceritanya malah bikin bingung :D
      padahal sudah berusaha menggunakan perumpamaan yang semudah mungkin :)

      Hapus
  16. ke depannya harus ada solusi minimal untuk mencegah korban karena gempa sebisa mungkin diminimalisir dengan pembangunan yang tahan gempa serta evakuasi yang benar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups.. saatnya menjadikan mitigasi bencana sebagai sebuah hal wajib untuk kita ketahui bersama :)

      Hapus
  17. kembali lagi bahwa indonesia bg juga berada di garis khatulistiwa. jd indonesia memang rawan dari semua bencana. hampir setiap harinya ada gempa walaupun tdk terasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar sekali bang zikrul.. kita berada di ring of firenya bumi :D

      Hapus
  18. Hmmmm, saya tidak setuju kalau pantainya ditutup. Lha pantai itu kan udah terbentuk dan ada di sana sejak jutaan tahun, ah, andai alam bisa bicara. Memang pantainya kurang syariah opo piye :(

    Alam, bumi ini, terbentuk jutaan-miliaran tahun lalu lewat proses yang begitu panjang seperti sekarang ini. Manusia, muncul di zaman purba ribuan tahun lalu, tapi sudah punya naluri merusak, semena-mena.

    Salah kita, salah manusia. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya kita diberikan pemahaman oleh Tuhan utk mengelola alam dengan benar

      Hapus
  19. kasihan manohara kalo sampai di tutup, ini muda mudi nya yang ngak bener

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.. padahal manohara baru aja dibawa pulang dari malaysia :D

      Hapus
    2. Padahal Manohara itu orang Bugis loh #eh #lospokus

      Hapus
    3. jiaaaah orang bugis emang ehem ehem ya daeng :))

      Hapus
  20. mungkin teguran dari allah..
    byar kita bisa tetap berda dalam kapasitas yg semstinya,,tidak berlebihan dan tidak jauh dari ajarannya,,
    semoga tetap di beri perlindungan,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin.. bisa jadi. tapi semua sudah terjadi. :)

      Hapus
  21. Tak terima disalahkan orangnya, malah salahkan alamnya. Itu sudah tabiat kebanyakan orang dimana-mana. Saya heran dengan pola pikir ini. Apa karena pendidikan kita tidak mencerahkan?
    Kalo berpedoman kepada perilaku orang di pantai lalu azab didatangkan, Bali harusnya lebih parah karena bulenya. Tapi penduduk lokal Bali masih (banyak) tetap memegang teguh budaya dan agama mereka.

    Dulu pantai Muara di kota Padang banyak warung seperti foto diatas. Sejak kejadian gempa warung-warung yang berpotensi untuk berbuat maksiat itu dibongkar habis oleh pemda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya malah bingung mau menganggapinya seperti apa bang alris hehe :)

      Hapus
  22. Tipikal manusia, paling gampang ya menjatuhkan kesalahan pada pihak lain, bukan mencari apa yang salah dengan dirinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. betoool! benar Daeng.. tapi, mungkin dengan diberi musibah bisa membuat dia bertafakur kali ya Daeng

      Hapus
  23. Semua sudah diatur Yang Maha Kuasa..Kita sebagai manusia harus lebih merubah diri , bukan malah bangga akan dosa"...
    judi togel online yang aman dan terpercaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. jiaaah kok malah jualan togel sih mbak hahha

      Hapus

Start typing and press Enter to search