Minggu, 02 Juli 2017

Salah Kaprah Tari Saman!

anak-anak di Gayo Lues tengah belajar ber Saman ( foto by : www.leuserlestari,com credit Zulfan Monika) 
Mukanya yang ramah tiba-tiba berubah. Menjadi tak lagi bersemangat. Sepertinya bathinnya bergumul. Merutuki keadaan yang sudah terlanjur salah. Saya, benar-benar merasa bersalah di siang itu. Ini semua, berawal dari sebuah pertanyaan yang sederhana.

“Apakah di sini, ada kelompok Tari Saman Wanita, Pak?”

Tak dinyana, pertanyaan itu membuat ruangan yang riuh menjadi diam. Seolah malaikat maut baru saja menyelesaikan tugasnya. Hening. Tak bergeming. Hanya angin yang bertiup dari lembah-lembah bukit Gayo Lues yang berusaha mencairkan suasana.

“inilah dia, semua orang sudah salah paham. Tari Saman itu, tidak ada penarinya yang perempuan” jawabnya datar. Sambil menahan bulir-bulir air mata yang mulai jatuh perlahan. Saya, hanya bisa mematung. Merutuki keadaan terus menerus. Ingin berteriak ke diri sendiri, Pantengong Kau Yud! Baru pertama kalinya ke Kabupaten Gayo Lues, bertemu dengan pejabat setempat, malah sebuah pertanyaan konyol yang kau tanyakan?!

Deg!

Jujur saja, saya adalah satu dari sekian puluh ribu orang di Indonesia ini yang tidak paham kalau sebenarnya Tari Saman, tidak ditarikan oleh kaum hawa. Lalu apa yang terlihat selama ini di setiap pentas, panggung, telivisi, dan acara-acara besar daerah ataupun Negara? Itu, tari apakah ia?

Apakah kamu tahu, bagaimana Tari Saman yang sebenarnya? Lalu tarian yang ditarikan selama ini oleh kaum hawa, tari apa?

Tari Saman, oh Tari Saman...

Salah Kaprah Tari Saman!
pakaian asli penari Saman ( foto by www.lintasgayo.com)
Sepulang dari pertemuan siang itu, saya berusaha menenangkan pikiran dengan minum kopi di salah satu warung yang ada di kota blangkejeren. Di sana, Supri, sudah menunggu. Dan mulailah Ia bercerita, setelah sebelumnya ia mengatakan, kenapa sampai saya tanyakan hal sekonyol itu kepada seorang pejabat daerah Gayo Lues.

Tapi, sekali lagi, saya begitu karena saya benar-benar tidak tahu. Media yang selama ini menjadi corong informasi tak pernah memberikan gambaran jelas mengenai apa dan bagaimana Tari Saman sebenarnya. Bahkan, kacaunya lagi, di Jakarta sana, tarian Saman yang versi kaum hawa ini, menjadi salah satu kegiatan ekstra kurikuler. Jadilah ia, tarian Saman versi wanita.

“Bang, Tari Saman, adalah tarian yang begitu melekat pada kami, orang Gayo, khususnya yang mendiami kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh Tenggara dan masyarakat Gayo yang berada di Kabupaten Aceh Tamiang (Tamiang Hulu), Aceh Timur (daerah Lokop atau Serbejadi). Sedangkan masyarakat Gayo yang ada di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah mereka tidak punya Tari Tradisional Saman. Melainkan tari Didong.” Fakta awal yang disampaikan oleh Supri, membuat saya bengong. Tadinya saya berpikir kalau tari Saman adalah milik seluruh masyarakat Gayo, ternyata ada klasifikasi yang begitu detail.

Syahdan, menurut penuturan dari mulut ke mulut. Tarian Saman yang ada di kota seribu Bukit ini, dibawa oleh seorang Syeh Saman. Seorang ulama yang membawa Islam masuk ke tanah Gayo. Sedangkan menurut beberapa pendapat, dahulu, masyarakat Gayo telah mengenal Pok-ane,  sebuah kesenian yang mengandalkan tepukan kedua belah tangan dan tepukan tangan ke paha sambil bernyanyi riang.

Lalu, syeh Saman, mulai memasukkan unsur-unsur Islam di dalam kesenian tersebut. Persis seperti kesenian wayang kulit yang digunakan oleh sunan kalijaga dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa sana. Jadi, bukankah wajar kalau kaum hawa, tidak masuk dalam konteks tarian ini. Karena, dalam Islam, wanita dan pria tak boleh dicampur begitu saja.

ini bukan Tari saman, tapi Tari Ratoeh Duek ( foto : www.hananan.com )

“lalu kenapa ada wanita yang menarikan saman, bang Supri?” saya mulai tak sabar mendengar lebih detail darinya. Dia mulai bercerita mengenai kalau Tari Saman, memiliki proses yang panjang. Mulai proses Rinnenan, sampai Bejamu Saman. Supri memberikan jawaban tanpa jeda. Saya mulai kelimpungan dan pusing. Ternyata wajar, bila akhirnya Tari Saman, menjadi sebuah warisan dunia dalam hal non benda.

Tari yang lebih diperuntukkan untuk menyebar-luaskan Islam di tanah Gayo ini, juga dijadikan sebagai ajang mencari jodoh. Loh kok? Iya, dalam prosesnya, Tari Saman ini menjadi sebuah media silahturahmi antar kampong atau desa. Setiap kali pemain tampil yang biasanya ditarikan oleh para Pemuda kampong tamu, maka, akan ada barisan pemudi-pemudi yang mencoba melirik-lirik calon suami. Uhuy..

“Itu tari kreasi bang. Kalau tidak salah, namanya, Tari Ratoeh Duek” supri menjawab singkat. Sekaligus membuat saya akhirnya paham dan menutup pembicaraan singkat kami mengenai Tari Saman. Kalau tari Saman yang kini heboh seantero bumi, bukanlah tari saman yang sebenarnya. Melainkan sebuah tari kreasi yang bernama Ratoeh Duek.

Perbedaan Tari Saman dengan Ratoeh Duek

Tari Saman dan Tari Ratoeh Duek, merupakan dua jenis tari yang sangat jauh berbeda. Berikut adalah perbedaannya yang berhasil saya kumpulkan dari berbagai sumber.



Jadi, kawan, berhentilah menyebutkan tari Ratoeh Duek sebagai tari Saman. Karena tari Saman, merupakan sebuah identitas masyarakat Gayo dan Negeri Aceh yang tak boleh lekang dimakan jaman. Tak terbayangkan oleh saya, ketika masyarakat gayo berusaha mengembalikan identitas mereka melalui perhelatan tari Saman 10001 ( sepuluh ribu satu penari) yang akan dilaksanakan tanggal 13 Agustus 2017 mendatang.

“dek Yudi, kami ini kabupaten baru, kami nggak punya apa-apa selain Hutan Leuser dan Tari Saman. Makanya, kami berharap dengan tari Saman ini, orang-orang seperti dek yudi akan mengenal kami lebih dekat.” Tutup obrolan saya dengan seorang pejabat di gayo lues pada siang itu. Setelah sebelumnya saya merasa begitu bersalah.

kala Tari Saman Massal tahun 2015 lalu di Kabupaten Gayo Lues
Begitulah, siang itu menjadi begitu bermakna. Pergulatan bathin mengenai tari Saman, akhirnya terselesaikan. Pun, saya berharap, kita mau menggunakan Tari Saman pada tempat yang semestinya.

Ah iya, hampir saya lupa. perbedaan yang paling mencolok dari kedua tarian ini adalah, salah satu tujuan dari Tari Saman adalah untuk mencari calon pengantin. Sedangkan tari Ratoeh Duek itu... ya gitulah.. hehe



 **referensi : websitenya bang supri dkk
  1. Duh jadi selama ini? salah besar dong ya bang yud??

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, sebagian besar yang ditampilkan itu tak lebih dari sebuah tarian kreasi. lalu banyak media lebih senang menyebutnya sebagai tari saman. karena lebih mudah di jual

      Hapus
  2. Iya, saya juga baru tau kalo Saman itu cowo doang waktu ngadain acara Indonesian Cultural Day di Glasgow. Temen yg orang Aceh bilang kalo tari saman banyak turunannya.. nah kalo yg kmaren ditampilin di Cultural Day namanya saya lupa tapi di brosurnya tetep ditulis Saman karena lebih menjual.. hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada beberapa saman memang.. tapi hampir bisa dipastikan tidak ada yang perempuan bang Andi :)

      Hapus
  3. Ilmu yg bermanfaat. Izin copas

    BalasHapus
    Balasan
    1. loh kok di copas? kenapa tidak di reshare?

      Hapus
    2. tak baek mengkopas bang hehehe

      Hapus
  4. Info seperti ini harus rajin disosialisasikan agar kekeliruan yang terjadi tidak semakin berkembang. Semoga keaslian sebuah budaya tetap terjaga dari waktu ke waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar sekali mbak Annie.. untuk itulah saya menulisnya di blog sederhana ini agar ada beberapa penulis blog lainnya mengerti

      Hapus
  5. Baru tau saya. Selama ini entah laki atau pompuan yang nari, ya pokoknya taunya itu tarian saman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itulah dia mbak.. makanya saya mencoba perjelas :)

      Hapus
  6. jadi selama ini salah kaprah..awal liat tari ratoeh dueh di jogja, ya itu disebut saman hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. dan seperti ada pembiaran

      Hapus
  7. Mungkin karena aku pernah melihat Tari Saman ditarikan oleh pria, aku jadi nggak menyimpulkan bahwa tarian ini identik dengan wanita hehe. Tapi makasih banget infonya, bang. Sekarang jadi tahu ada yang namanya Tari Ratoeh Duek, dan apa bedanya sama Tari Saman. Hm, berarti aku pernah melihat Tari Saman sungguhan dong ya, karena ditarikan tanpa musik.

    Btw, mau kasih masukan soal infografis. Paragraf pembukanya bisa dipotong itu, bang, potong kalimat terakhir. Lalu karena sudah dibagi jadi kolom, Tari Saman dan Tari Ratoeh Duek, jadi nggak perlu lagi menyebutkan Tari Saman dan Tari Ratoeh Duek di setiap baris. Semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. siap komandan! ini juga yang bikin masih orang.. ane nggak paham soalnya :D

      Hapus
  8. yg paling menarik rupanya saman ini dulunya jadi tarian dan dakwah dalam menyebarkan agama islam di gayo lues ya. Salut, infografisnya izin share ke kwn2 ya bg :)

    BalasHapus
  9. Informasi yang seperti ini harus disebarkan. Sayapun baru tahu tentang tari saman sebenarnya dilakukan oleh pria, dan infografis-mu ini membantu bang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah sudah mulai tersebar bang

      Hapus
  10. Makasih pencerahannya bang. Semoga kesalahan yg telah menahun ini bisa diperbaiki. Sehingga tari Saman yg asli tetap lestari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. amien.. semoga nanti klo bartian ketemu dengan hal yang begini, kamu bisa menjelaskan yang sebenarny, kamu itu mencintai siapa.. #eh

      Hapus
  11. semoga masayarakat gayoe senantiasa berada dalam lingkungan islami dan semakin taaat kepada Allah

    BalasHapus
  12. Menarik bro informasiny. Dulu pas awal2 kuliah aku sempat salah menggunakan istilah saman. Ternyata banyak bedanya. Karena di kampus kebetulah ada grup Rampoe, jadi aku sedikit belajar membedakan tari2 Aceh dari mereka!
    Informatif sekali apalagi dibuat infografis. Keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih bang hanif.. sekarang bang hanif udah bisa membedakan mana yang setia dan mana yang tidak bukan?

      Hapus
    2. Dia tetap setia padaku kok mas

      Hapus
  13. Oh No sebagai guru, sering sekali menonton tari Ratueh Duek itu disebut sebagai tari Saman tak terkecuali di sekolahku, murid-murid cewek menari pas dipanggil disebutkan bahwa mereka menarikan tari Saman. Semoga kekeliriuan ini bisa dibenahi

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah... begitulah kak,.. makanya yudi menulis hal ini dan bisa membantu teman2 untuk menyebarluaskan semuanya

      Hapus
  14. OOO ternyata tari saman yang saya tau itu, sejarah dan fakta yang terjadi seperti ini toh. Informasi yang sangat bermanfaat apa lagi tentang sejarah kebudayaan kita :D hehehhe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. yups, terkadang ada beberapa hal yang membuat kita ragu seperti apakah sebenarnya budaya kita :)

      Hapus
  15. Bang Yud, mantep banget artikelnya, saya jadi tau kalau tarian Saman itu cuma laki-laki aja krna sebelumnya saya taunya kalo tari Saman itu dimainkan perempuan dan laki-laki.

    Makasih buat infonya bang. Keep writing and sharing! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh kak liana..

      untuk liana keepwriting juga ya.. jalan2 selalu sampai lupa kalau kita dulu pernah... :D

      Hapus
  16. Dan ini rupanya alasan kenapa dibuatnya acara 10001 saman di Agustus mendatang yang menghabiskan dana milyaran rupiah. Mereka yang demo kemarin menolak kegiatan ini, harusnya baca tulisan bg Yudi, supaya mereka paham kenapa harus dibuatnya kegiatan ini. Supaya masyarakat luar tidak salah presepsi terhadap tari saman selama ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kak Yelli, dan sangat disayangkan bila ada pihak2 yang setuju mengenai pagelaran tersebut.

      Hapus
  17. ini tulisan yang sempat viral :)
    semoga saja aku ada kesempatan ke aceh dan lihat sendiri tarian kedua tarian ini.

    Bicara tarian saman untuk mencari calon pengantin, kayaknya... ya gitulah :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi iya Koh itu juga karena dibantu sama temen2 yang lain kok :D

      Hapus
  18. Iya, benar sekali ini. Tari Saman serupa dengan tarian dari Minang, dulunya dimainkan oleh laki-laki. Bukan perempuan. Karena tujuan awalnya adalah sebuah permainan dan penyebaran agama Islam juga. Sekarang penari jadi lebih banyak perempuan karena pengaruh modernisasi dan penyetaraan gender. *tsaaah *beraaaat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah saya baru tahu kalau tari piring di padang demi itu hehehe

      Hapus
  19. Oh ternyata yang selama ini saya kira tari saman Bukankah tari saman. Emang di ibukota saya lihat yang menarik kebanyakan perempuan dan dipertunjukkan di pentas pentas suatu acara yang bersifat budaya. Jadi kalau besok-besok melihat perempuan menarikan yang katanya tari saman saya bisa mengatakan bahwa itu bukan tari saman. Hore saya mendapat pencerahan...

    BalasHapus
  20. Jadi gimana bang setelah fakta ini "terkuak"? :) apakah perlahan akan dibenarkan, atau tetap dibiarkan? banyak juga fakta2 yang seperti ini, misal HUT kota Palembang 17 Juni yang seharusnya 16 Juni, juga, penjajahan belanda di Indonesia yang 350 tahun padahal "hanya" hampir 300 tahun? :D

    omnduut.com

    BalasHapus

Start typing and press Enter to search