Tuesday, February 20, 2018

Inilah Tari Saman, Dari Generasi Ke Generasi


Anak-anak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama berpakaian pramuka duduk berjejer diatas tikar plastik. Mereka duduk dengan kaki terlipat ke belakang. Tangannya bersedekap. Perlahan mereka merapatkan bahu. Sesuara air sungai yang berasal dari gunung Leuser menjadi musik latar berpadu dengan cuitan burung-burung fly kacer yang hinggap di dahan pokok kopi arabika.

Tak lama, seorang anak yang menjadi pengangkat mulai berguman, suaranya merdu namun tetap “laki”. Beberapa saat kemudian, puji-pujian mengalir dari seluruh mulut para siswa tersebut. Dengan berpakaian pramuka, ditempat yang teduh dan seadanya, ditengah suasana sejuk nan syahdu, mereka menarikan tarian kolosal kebanggaan orang Gayo, Tari Saman!
Add caption

Ini, adalah kali kesekian saya menyaksikan masyarakat kabupaten Gayo Lues, Aceh-Indonesia menarikan tari yang telah menjadi warisan dunia. Sejak dijadikan sebagai warisan dunia tak benda oleh UNESCO pada 24 November 2011, Tari Saman meraih popularitas yang baik di seluruh penjuru negeri. Berawal dari Gayo, Aceh, Saman mulai digemari dan digeluti secara meluas tidak hanya di Indonesia namun juga dunia. 

Saman, sebuah tarian model duduk asli dari masyarakat Gayo Lues ini, sedikit berbeda dengan tarian lainnya. Saya pernah menyaksikan sendiri, bagaimana anak-anak duduk dalam lautan manusia yang berpakaian hitam berbintik oranye. Lalu tak jauh dari mereka ada deretan bapak-bapak tua berambut putih pun dalam pakaian yang sama. Sesaat kemudian, mereka melakukan gerakan gelombang, tepuk dada, memainkan pergelangan mereka, apik sekali! Inilah kali pertama saya menyaksikan perhelatan Tari Saman terbesar di dunia. Jumlah penarinya kala itu adalah 12.277 Penari yang semuanya adalah PRIA!

Tari Saman 10.001 Penari tahun 2017 lalu
Kala itu, seorang punggawa tari saman berdiri di atas panggung. Di tengah Lapangan Seribu Bukit, di pagi yang mulai menyala, lalu dengan sebuah microphone ditangannya, ia berseru lantang!

“Jangan tertawakan budaya (tari saman) sendiri, karena budaya itu datangnya dari hati orang-orang Gayo!!”
quote by pak Bungkes

Seketika diorama manusia yang hadir duduk terdiam, bulir-bulir air dari sudut mata mulai mengalir. Bulu kuduk ini berdiri, saya seketika itu berhasil menyatu dengan ribuan anak adam yang duduk berjajar di tanah lapang. Begitu spektakuler, begitu luar biasa, begitu magis, begitu syahdu. 

Tari Saman 10.001 Penari tahun 2017 lalu
Hari itu saya sadar, penetapan Tari Saman sebagai Warisan Dunia Non Benda oleh UNESCO bukanlah tanpa sebab. Tarian ini begitu mengakar dalam diri orang Gayo. Bila kamu berkesempatan datang ke kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh-Indonesia, cobalah kamu temui anak-anak kecil, lalu mintalah mereka menarikan Saman. Niscaya sambil tersipu malu, mereka akan merapatkan barisan dan mulailah langgam-langgam Saman terucap dari bibir kecil mereka.

Begitulah, Saman bagi masyarakat bersuku Gayo ini bukan hanya sekedar budaya, namun sebuah jati diri yang tak boleh dimakan masa. Turun-temurun mereka menjaganya, merawatnya, lalu melestarikannya tanpa henti. Dari mulai kakek sampai ke cucu. Dari mulai yang tua sampai muda. Mulai dari yang sehat sampai yang (maaf) disabilitas. Semua, semuanya, ikut menarikan Saman setiap kali mereka diberikan kesempatan. 

Tari Saman 10.001 Penari tahun 2017 lalu
Ada banyak versi yang menceritakan asal-muasal tari Saman, dan saya tak ingin membahas satupun perihal itu. Terlalu banyak versi, terlalu banyak klaim. Biarlah Saman itu seperti hari ini. Ditarikan oleh banyak pemuda. Malang melintang penjuru bumi untuk menarikan tarian kebanggaan mereka. 

Yuks baca lagi tentang Salah Kaprah Tari Saman 

Di Gayo sendiri, jika kamu ingin menyaksikan perhelatan Saman ini, kamu bisa datang ketika musim panen raya tiba. Biasanya, acara “Besaman” akan digelar dari satu kampung ke satu kampungnya lagi. Acara itu bisa terlaksana sampai semalam suntuk. Lengkap dengan tarian pengiring wanita yang bernama tari Bines.

Penari Bines pada Acara Saman 10.001
Menariknya, dalam acara Besaman inilah masyarakat Gayo Lues menjalin silahturahmi yang erat. Bahkan ada yang sampai menjalin hubungan pernikahan dari Tari Saman. Percaya atau tidak, itulah pada kenyataannya. 

Kawan, inilah Saman, dari generasi ke generasi. Ini, bukan tentang pencatatan dan penghargaan, ini adalah tentang pelestarian nilai-nilai budaya!

Tari Saman 10.001 Penari tahun 2017 lalu

Penari Saman Massal 10.001

Para pengarah Tari Saman pada acara Saman 10.001 tahun 2017

  1. Tari saman memang ditarikan oleh laki-laki ya? Pasti terasa sekali harunya ketika ditarikan oleh banyak orang begitu ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak. Yg perempuan itu bukan Saman.tp tari kreasi kak

      Delete
  2. ini memang tarian yang keren banget mas... super super kerennnn

    ReplyDelete
  3. Foto-foto nya keren sekali. Kebayang melihat orang menari Saman sebanyak itu pasti bikin merinding. Semoga tarian in selalu lestari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amien.. makasih bang arief.. ini hanya kebetulan saja keren dari sekian banyak yg kacau hahaha

      Delete
  4. Salah satu tarian kesukaanku. Paling seneng pas gerakannya yang cepet banget itu :D
    Kalau penarinya sebanyak itu kebayang deh serunya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. lalu tiba2 nanti mereka slow lalu kenceng lagi weeeeew

      Delete
  5. Aku merinding lihat video yang tahun 2017. Keren banget. Dan terus berdoa semoga tari saman dan tari lainnya di Indonesia tetap terjaga, serta generasi muda makin mencintainya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amieen.. kami berdoa klo nanti ada lagi event begini akan saya infokan dan semoga bang Sitam bisa datang

      Delete
  6. Warisan Budaya Tari Saman ini yang harus tetap dipertahankan dan tetap diajarkan kepada anak-anak, Jika tidak akan menjadi dongeng. Salut dengan anak-anak muda Gayo.

    ReplyDelete
  7. Kutak mau tahu, musti ke Aceh pokoknya!

    Bang foto-fotonya ajib sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus klo aku ke amrik siapa yang kawanin bang??

      Delete
  8. Banyak sekali penarinya. Tp ak seneng adanya hal yg seperti ini. Moga2 daerah lain juga meniru konsepnya biar tari2 lain ttp lestari seperti tari saman

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amien. Bener bang Alan, dalam setiap local wisdom selalu ada hal yang sangat baik utk kita

      Delete
  9. Pengen belajar tari saman tapi belum nemu tempatnya di Jakarta. Daan pengen banget ke Gayo.. Takengon.. hohoho.. bener2 pengeeeen... Sabang dan Meulaboh udah, Gayo belum..
    Btw mas Yudi ini tinggalnya di Aceh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak Dewi, saya tinggal di banda Aceh.
      btw kak, nggak boleh wanita belajar Tari Saman kak, ini khusus tarian pria

      Delete
  10. Kali ini merinding baca tulisannya bang Yudi dan lihat gambar-gambar di dalamnya.

    Meskipun bukan orang Aceh, saya begitu bangga melihat tarian ini. Saya tahu tarian ini susah sehingga jika ada salah satu penari ada yg melakukan kesalahan, alih-alih mencemooh, saya lebih memilih teriak menyemangatinya.

    Berapa kalipun saya nonton tarian ini, saya gak akan bosan

    ReplyDelete
    Replies
    1. alamaak segitunya bang, Tulisan dikau jauh lebih keren!

      jadi, kapan ke aceh lagi ?

      Delete
  11. ya ampun mas, keren sekali ini foto-fotonya..
    dan berapa lama tuh buat ngumpulin dan latihan dengan 10.001 penari seperti itu??
    Luar biasa sekali euy!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. duuuuh saya jadi pengen beliin kopi untuk kak Endah deh hehe
      menurut ketua panitiannya, hanya butuh waktu kurang dari 6 bulan, dan mereka hanya perlu latihan tidak sampai seminggu kak :)

      Delete
  12. Wihh,.. mantap-mantap kali bang fotonya? videonya gak ada ya?

    ReplyDelete
  13. ada, tapi nggak pinter edit hehe

    ReplyDelete
  14. Aceh, 2017 tadi saya ke sono bang, ikut acara penas tani. Jujur, agak nyesal juga belum terlalu eskplore serambi mekah. Mudah2an nanti bisa kesono lagi,,,tapi bawa istri dan anak deh....

    ReplyDelete
    Replies
    1. amien... via malaysia aja bang, lebih murah hehe

      Delete
    2. Betul, kemarin ada teman yang via Malaysia....next time deh.

      Delete
    3. Sip, semoga dimudahkan dalam rezeki dan kesempatan ya mas

      Delete
  15. Wah,salut banget
    Semoga akan terus lestari budaya indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amien.. begitupun dengan berbagai macam budaya lainnya di indonesia

      Delete

Start typing and press Enter to search