Tuesday, May 29, 2018

Ija Kroeng, Meng-Gaya-kan Tradisi


“Aceh ini, begitu kaya akan motif-motif khas. Yang mungkin, jaman sekarang nggak semua orang bisa membuatnya lagi, Yud”

Ungkapnya di suatu sore yang cukup cerah. Diorama rumah yang sekaligus menjadi workshop kerjanya terkesan begitu klop dengan obrolan kami. Bang khairul, owner dari Ija Kroeng ini masih terlihat begitu semangat sebagaimana saya mengenalnya beberapa tahun silam.

Di sela-sela obrolan kami, bang Khairul memperlihatkan kepada saya sebuah buku yang cukup tebal. Buku Perhiasan Tradisional Aceh, begitulah judulnya. Dalam setiap halamanya, terdapat berbagai macam jenis perhiasan kuno yang pernah ada di Aceh. Menariknya, di buku ini juga memperlihatkan berbagai motif-motif yang cukup unik dan bisa dikatakan cukup “acehnesse”. Terbuktilah, apa yang dikatakan olehnya bukanlah khalayan semata. Melainkan ada bukti otentik yang hampir semua motif tersebut berasal dari jaman Kesultanan Aceh Darussalam.

Dan, buku yang sangat tebal ini pula yang menjadi salah satu sumber inspirasi bang Khairul dalam setiap desain motif yang ada pada kain sarung ciptaannya. 

Kain sarung? Iya, kain sarung atau Ija Kroeng dalam bahasa Aceh, sebenarnya merupakan fashion yang melekat sekaligus kebanggaan orang melayu, dan orang Aceh tentunya. Sejarah yang panjang akan kain sarung di Aceh dapat ditemukan dalam beberapa catatan dan foto-foto di museum Belanda.  


Orang-orang aceh telah mengenakan sarung semenjak abad ke 17 tepatnya pada era kesultanan Aceh Darussalam (atau mungkin sejak Samudra Pasai?). Kala itu, sarung bagi orang Aceh bukan hanya sebagai sebuah kain atau pakaian pelengkap, melainkan sebuah entitas budaya yang melekat sekaligus menjadi ciri khas orang Aceh dalam kesehariannya. 

Lain dahulu, lain sekarang. Sarung kini hanya menjadi sebuah pakaian yang dianggap cukup kelas bawah. Tak begitu ramai lagi pria muda Aceh yang mengenakan sarung sebagai entitas budaya keacehan mereka. Kecuali bagi anak-anak pesantren tradisional di Aceh. 

Kecenderungan ini semakin diperparah dengan buta khasanah budaya dikalangan kawula muda Aceh. sehingga hal ini mendorong bang Khairul untuk terus memberikan edukasi budaya melalui kain sarungnya. “Sekarang, kalau bukan kita yang mengenalkan ke anak-anak muda Aceh, siapa lagi Yud? Kapan mereka bisa bangga pakai sarung asli Aceh dengan corak-corak asli Aceh? dan yang terpenting, Tujuan saya adalah untuk mengedukasi anak muda Aceh, jika motif Aceh itu Keren!”

Dari Kerawang Gayo Ke Cap Sikureung


Ija Kroeng edisi Kerawang Gayo 
foto : Makmur Dimila www.safariku.com

Masih berbekas dengan sempurna pertemuan kami pada media tahun 2016 lalu. Kala itu, Ija Kroeng baru saja meluncurkan sarung bermotif Kerawang Gayo. Sebuah sarung dengan warna tunggal Hitam atau putih, hanya dilengkapi dengan les pita berwarna Emas, dan di sisi depannya terlukis Kerawang Gayo yang berwarna hijau, merah, kuning. Khas sekali. Begitu etnik. 

Dan kini, ia kembali meluncurkan produk Ija Kroeng yang berupa baju koko dengan motif Cap Sikureung. Saya sempat merasa takjub sekaligus mengernyitkan jidat. Serius ini Cap SIkureung? apa motif tersebut bisa klop dengan gaya anak muda masa kini? Dipakai untuk lebaran pula.

Jadi, Cap Sikureung, (Melayu: Cap Halilintar) adalah nama dari stempel sultan-sultan Aceh Darussalam yang mulai dipakai pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam (1607-1636 M) dengan bentuk menyerupai stempel Kerajaan Monghul, India pada masa Jahangir Khan (1619 M). Disebut Cap Sikureueng karena stempel tersebut berbentuk 9 (sembilan) lingkaran di mana tertera nama-nama sultan Aceh Darussalam, baik yang sedang berkuasa maupun nama-nama sultan sebelumnya. (disadur dari tulisan pak Drs. H. Nurdin AR, M.Hum)

“Begini Yud, mungkin akan banyak orang yang tak setuju dengan ide ini. Tapi tujuan saya adalah membangkitkan lagi ghairah kecintaan akan tradisi, budaya, dan lambang-lambang sejarah Aceh di mata anak muda jaman sekarang. Dan bisa dipastikan tak semuanya mereka akan peduli tentang budaya negerinya. Jadi, inilah salah satu cara yang terpikirkan oleh saya untuk memberikan edukasi kepada mereka.” 

Apa yang dikatakannya tak salah. Saya harus menganggukkan kepala. Persis seperti mainan kucing yang ada di dashboard mobil. Tak banyak lagi anak aceh ataupun anak-anak di nusantara ini yang bangga akan kedaerahannya. Bagi kids jaman now blazer ala korea jauh lebih keren. Atau jaket ala Dilan jauh lebih memikat hati para gadis. Padahal dia lupa, kalau harga emas itu semakin berat. 



Hari semakin sore, magrib tak ayal lagi akan datang menyapa. Ada banyak hal yang lagi-lagi saya dapatkan dari obrolan kami. Setidaknya, saya bisa memahami, bahwa masih banyak pemuda Aceh dan di Nusantara ini yang ingin menjaga tradisi budaya serta khasanah sejarah daerahnya. Ada banyak cara kreatif yang ditampilkan oleh mereka. Dan, itu semua hanya demi lestarinya nilai kebanggaan akan negeri sendiri. 

Ah iya, kini, Ija Kroeng tidak hanya sarung, namun telah merambah ke baju, celana sarung, goodie bag dan syal. Jadi, jangan bingung kala disebutkan merek Ija Kroeng, namun yang dipakai bukan sarung melainkan syal. 

“Intinya Yud, ide kreatif itu jangan berhenti di meja diskusi. Akan tetapi dia harus dieksekusi. Mungkin ini terlihat ketinggalan jaman, tapi saya yakin, motif-motif aceh masa lalu akan kembali mendunia bersama dengan ija Kroeng didalamnya.” Ungkap bang Khairul kepada saya sesaat setelah kami membubarkan diri dari meja diskusi dengan diiringi oleh adzan magrib yang berkumandang. 



Ija Kroeng;
Alamat Workshop : Jl.Teuku Umar Lr.Mahya No.51 Setui 
(jln stlh RS Harapan Bunda) B.Aceh
No Tlp : +6285320910099
instagram : @ijakroeng

  1. Padahal di Myanmar sarung (di sana disebut longyi) jadi pakaian sehari-hari sampai sekarang, tua muda, cowok cewek, dan jadi kesan tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Myanmar.

    Modelnya didatangkan langsung dari Turki ya? Hihihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha kan orang Aceh memang ada arab2 eropa gitu bro.. mana muka gw keliatan rada2 cina campur arab kan? #siapinTongSampah

      Delete
  2. Habis liat ini ak kepo akun IGnya buat mau beli.. bnyak yg 7dah sold out aahh

    ReplyDelete
  3. Jadi Ija Kroeng di Aceh hanya untuk pria ya, Kak Yudi? Kalau untuk wanita namanya apa?

    Yah tradisi harus dihidupkan secara kreatif. Sarung dan baju-baju Kroeng ini, keren-keren. Kalau ada anak muda yang gak suka, selera mereka harus diangkat ke level yang lebih tinggi dan itu tugas semua pecinta budaya Aceh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. secara tatanan bahasa, ija kroeng atau kain sarung sebenarnya penempatannya untuk seluruh gender Kak Evi. Ada banyak wanita aceh yang juga memakai ija kroeng dalam kesehariannya. Jika di desa desa ada yang memadukannya dengan Ija Sawak (alias jilbab yang mirip selendang) atau dengan ija panyang ( kain panjang) kayak kain batik panjang gitu.

      Delete
  4. Baru tahu kalau Aceh punya motif sarung sendiri. Unik juga karena biasa lihat sarung motif kotak2. Kalau mau dipopulerkan kembali, usual cobain ajukan ke Pemda. Seperti di Bandung setiap hari Rabu pakai baju pangsi/kebaya ala Sunda. Siapa tahu di Aceh juga bisa. Minimal bisa memengaruhi generasi yang lebih mudah supaya tidak lupa pada Sarung Aceh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, targetnya memang ingin kembali memasyarakatkan kain sarung ala aceh bang Arief..

      Delete
  5. Menurutku keengganan anak muda mengenakan pernik budaya hanya karena ketidak tahuan. Apa lagi jika selama ini desain dan warna sarung begitu-begitu saja, seperti yang dikenakan kakek dan ayah mereka. Karena setiap generasi menghayati logika zaman mereka sendiri, itu tugasnya para pemerhati dan cinta budaya Aceh membawa sarung dan pernik-perniknya ke ruang logika mereka. Di sana harus terlibat kreativitas. Berkomunikasi dengan bahasa mereka dan lainlain. Terbitkan perasaan bangga kalau mereka menggunakan. Nah kalau sudah begitu masa iya gak sukses sih?

    ReplyDelete
  6. Setuju, ide kreatif jangan berhenti di meja diskusi, harus dieksekusi :)

    Cheers,
    Dee - heydeerahma.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi iya, begitupun dengan ide nulis untuk blog hahaha

      Delete
  7. Bagus sarungnya. Apalagi pakai motif khas daerah Aceh :D

    Btw aku kok jd inget temanku org Madura, yang tinggal di pesantren, pas kuliah dulu pakai sarung, katanya kalau di tempatnya dah biasa. Keinget juga sama

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha di Aceh budaya itu mulai tergerus jaman dan tergantikan sama celana jeans kak :D

      Delete
  8. Buat saya, Ija Kroeng ini keren lho. Saya rasa, kalau mulai diperkenalkan secara pelan-pelan, rasanya pemuda-pemuda Aceh bisa dengan bangga menggunakan sarung kembali. Motifnya keren dan simple

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan saatnya bang Darius nyobainnya langsung di Aceh ya :D

      Delete
  9. Replies
    1. yuks bang... ke Aceh atau langsung di order hihihi

      Delete
  10. wih, menarik ini Bang Yud. baru tau kalo sarungnya itu ga cuma dipake laki-laki aja, perempuan juga ternyata.

    saya jadi inget si Dendy waktu ke Aceh mau cari sarung macam itu. ternyata disebutnya Ija Kroeng :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. trus jadi beli kah??? btw kalau ke Aceh lagi kabar2i yaa.. kangen juga euy

      Delete
  11. Wah motifnya keren!
    suka saya lihatnya, sederhana tapi kelihatan berkharisma #apasih

    tapi serius, apalagi saya orangnya memang suka pakai sarung
    ini bisa jadi oleh2 khas yang keren nih kalau ke Aceh

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisaaaaa dan dikau harus ke aceh Daeng!!

      Delete
  12. Duh model dan kainnya sama-sama bikin hati meleleh. Pilih yang mana yah?

    ReplyDelete

Start typing and press Enter to search