Wednesday, October 31, 2018

Festival Danau Sentarum, Merajut Silaturahmi Antar Suku

Festival Danau Sentarum
Panggilan mendadak datang. Harus segera berangkat di detik-detik terakhir. Menarik, namun tidak dekat. Perjalanan kali ini, bisa dipastikan adalah sebuah perjalanan memacu diri. Memompa adrenalin dalam diri, untuk membuktikan diri ini masih begitu layak menjelajah negeri. Menjemput mimpi, mengejar satu-persatu nilai budaya di sebuah negeri yang besar ini. Indonesia, sebuah negara yang begitu kaya akan budaya dan bentang alam. 

Grogi, membawa tubuh merespon secara berlebihan. Maka demam, batuk, dan bersin-bersin menjadi sebuah kesimpulan dalam ke-parno-an. Bagaimana tidak, kali ini, saya diundang untuk bisa menghadiri sebuah festival yang masuk dalam 100 event Wisata Nasional 2018.  Bangga, senang, haru, dan pastinya menjadi sebuah tantangan. 
Festival Danau Sentarum
asyik, paling tidak ngerasain sensasi terbang naik pesawat non singa!
Dari Banda Aceh, untuk bisa terbang ke sebuah kecamatan yang terletak di ujung utara provinsi Kalimantan barat, bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi, jika mengingat umur tak lagi muda. Tubuh tak lagi mampu memberi tenaga lebih. Malam begadang, berteman dengan tangisan bayi. Pagi sampai sore hari, memacu motor untuk menyaingi abang ojek dalam hal antar mengantar anak serta istri. Namun, perjelanan ini, begitu sulit untuk dibiarkan begitu saja. 

Festival danau sentarum, begitulah tema acaranya. Sebuah festival yang diadakan di Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Iya, taman nasional! Bisa dipastikan, suasana hutan raya membentang, udara sejuk terpampang, dan luasan danau luar biasa tersajikan. Posisi tepatnya, adalah di kecamatan Lanjak, kabupaten kapuas Hulu, bagian dari Provinsi Kalimantan Barat. Masih sama-sama barat dengan Aceh. namun waktu mahatarinya beda 2 dua jam! 


Lapangan Terbang Pangsuma Kapuas hulu
Dekat? Tidak, kawan! Dari banda aceh, kamu harus terbang ke Jakarta, atau ke Batam. Dan bisa dipastikan transit di Medan, lalu terbang lagi ke Jakarta. Dari sini, terbang lagi ke Pontianak yang bandara udaranya, keren! Bila dibandingkan dengan kedatangan saya pada tahun 2008 lalu, bandara ini, begitu luar biasa kini. 

Ah, iya, dari bandara Supadio, Pontianak, saya terbang lagi naik pesawat jenis ATR ke bandara Putussibau. Sudah? Belum. Dari bandara, saya dan tim bertotal 6 orang ini, harus naik mobil sewaan menuju ke kecamatan Lanjak yang berjarak 3 jam perjalanan darat. Capek kah engkau membaca paragraf ini, kawan? Yakinlah, saya yang menjalaninya juga capek. Ditambah, selama terbang, saya flu. Lengkap sudah!

Merajut Silaturahmi Antar Suku


Kawan, saya selalu penasaran akan suku Dayak yang ada di Kalimantan. Budayanya, tariannya, makanannya, sampai sejarah dari perjalanan mereka. Dan, perjalanan ini, adalah hal yang cukup tepat bagi kamu, yang memiliki ketertarikan akan budaya Indonesia lebih jauh.

Festival Danau Sentarum
mereka yang menunggu antrian naik ke panggung untuk unjuk kebolehan
Dentingan Sape, alat musik petik dari suku dayak, mendayu-dayu. Mengisi panggung sederhana di tengah malam. Menghipnotis siapapun yang mendengarnya. Saya, terpukau! Bertalu-talu, sahut menyahut, mengisi langit kota Lanjak. Tak lama, gema lagu Indonesia Pusaka berhasil membuat air mata ini luruh. Bola mata ini menjadi panas, menahan sesak haru. Semua menyanyikannya, ribuan penonton yang duduk dengan rapi tanpa ribut, tanpa perbedaan, tanpa egoisme kesukuan, di ujung terluar Indonesia. Yang langsung berbatasan dengan negeri Jiran. Namun, masih dalam bingkai Nasionalisme yang tinggi!

Ini keren! Ungkap saya dalam hati. Tak lama, panggung hiburan rakyat ini mulai mengisi malam yang kian larut dengan tarian daerah. Saya makin terpukau, penarinya cantik-cantik, bukan hanya dengan model tarian kreasi yang ditampilkan, akan tetapi, pesan-pesan yang disampaikan. Total tarian yang dihadirkan, jika saya tak salah, ada 13 (tiga belas) tarian kreasi yang menceritakan kehidupan sehari-hari suku dayak dan suku melayu. 

Festival Danau Sentarum
Ferry Sape, salah satu seniman Sape asli Kapuas Hulu, foto By : Dwi Rino (http://akunrino.id/) 
“Dek yudi, mungkin, bagi orang diluaran sana, Festival semacam ini dianggap berlebihan. Namun bagi kami, para penduduk di ujung negeri, ini adalah wahana kami merajut kembali tali silahturahmi yang lama terputus” ungkap pak Antonius, Kepala Dinas Pariwisata,  Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kapuas Hulu. Raut wajah serius, warna kulitnya yang putih, memerah sudah karena lelah. Namun, semangat masih bergelora dari bola matanya. 

Saya membenarkan cara duduk. Mencoba mencermati setiap pembicaraan dengan beliau di sela-sela acara. Sambil sesekali saya melirik ke pentas. Tari apa lagi yang akan disuguhkan. Bagaimana acara “hura-hura” ini dianggap sebagai sebuah ajang merajuk kembali rasa persaudaraan yang lama putus? Ah, pencitraan ini! pasti ini pembenaran, kan?! Saya masih tak percaya akan apa yang saya dengar. Sayup-sayup, angin malam bertiup. Memaksa saya menarik resleting jaket. Dingin. Malam mulai begitu larut.

Festival Danau Sentarum
 foto By : Dwi Rino (http://akunrino.id/) 
“ Di sini, ada suku melayu, dan empat suku dayak besar. Yaitu, suku Dayak Iban, Sebaruk, Sontas, Kenyah dan Punan. Mayoritasnya adalah suku Dayak Iban. Sebagian besar dari mereka juga ada yang tersebar di negeri seberang. Jadi, untuk membuat mereka kembali menjenguk saudara jauhnya adalah dengan event-event besar seperti ini.” lanjut sang Bapak yang helai-helai rambutnya tak lagi hitam. Mungkin, tak lama lagi, ia akan pensiun dari jabatan yang kini dijabatnya.

Festival Danau Sentarum
Pak Antonius memberikan keterangan resmi, setelah sebelumnya kita duduk santai
Ia menceritakan, jika di Lanjak, rumah panjangnya masih terjaga masih asli dari nenek moyangnya.  Sedangkan di perantauan sana, di Malaysia,  rumah panjangnya sudah pakai semen,  pakai seng,  sudah hidup modern. Cara hidupnya juga, masih tradisional.  Kalau dalam satu bilik makan daging,  maka keluarga di bilik lain juga bisa merasakan daging.  Karena, di bilik-bilik itu antar dapurnya ada pintu.  Pantang bagi mereka kalau satu makan daging sedangkan yang lain tidak merasakan.
Cerita semakin menarik. 

Festival Danau Sentarum
foto By : Dwi Rino (http://akunrino.id/) 
"Ini mungkin semacam kerinduan bagi warga Kapuas Hulu yang lama tinggal di Malaysia untuk datang ke Lanjak. Kerinduan ingin merasakan bagaimana leluhurnya hidup, makanya mereka datang kemari. Kalau tidak ada acara besar seperti Festival Danau Sentarum,  yang datang sedikit.  Kita perlu ada media untuk mendatangkan mereka. Salah satu media untuk mendatangkan mereka ya festival ini."

Festival Danau Sentarum, yang berlangsung selama 4 hari ini, ( tanggal 25 Oktober sampai dengan 28 Oktober 2018 ) menjadi ajang  saling kunjung keluarga. Temu rindu setelah sekian lama tidak pulang bertemu orang tua,  atau adik dan kakaknya. Merasakan tinggal di rumah Panjang yang masih terjaga. 

Festival Danau SentarumTak terasa, satu persatu para penonton mulai beranjak pulang. Lelah mulai merajalela, pegal sudah tak tahu diri. Menggerogoti sampai ke bokong. Selembar demi selembar koyok mulai menempel pada tubuh. Saya, dan tim, harus bersiap siap kembali ke penginapan. Agar esok masih ada kekuatan untuk menikmati keindahan Danau Sentarum. 

Mungkin, perjalanan ini terkesan lebay dan katrok. Memang begitulah adanya. Toh, saya memang belum pernah melakukan perjalanan yang begitu panjang. Terima kasih kepada tim GENPI yang sudah bersedia mengundang blogger alay yang selalu galau akan sempaknya yang koyak. Kawan, Indonesia ini, keren!


Festival Danau Sentarum
foto By : Dwi Rino (http://akunrino.id/) 
  1. Menarik sekali, Bang. Sebagai salah satu anak rantau, yang meskipun tidak terlalu jauh, perasaan bisa kembali ke kampung halaman itu sungguh dinantikan. Sekali dalam setahun, mungkin, ketika Hari Raya Idul Fitri.
    Saya bisa sedikit merasakan apa yang dirasakan oleh keluarga Dayar Iban yg sedang di negeri seberang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, terkadang, kita berusaha menapikkan rindu itu, walaupun ujung2nya tetap pengen pulang juga.. gitu lah :D

      Delete
  2. Ada alasan pulang bagi para perantau. Sebuah festival yang sangat berfaedah, Gema yang memanggil dari kampung halaman, yang membuat diaspora kangen untuk kembali

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Uni.. sempat kaget juga, pas diceritain klo festival ini awalnya untuk merajut silahturahmi yang terputus, pada akhirnya ini menjadi sesuatu :)

      Delete
  3. Wah, keren ya pertunjukannya bg. Sudah dipastikan cewek2 dayaknya cantik2 kan? Kayak kawan aku yang berasal dari Kalimantan saat ikut ke Bromo kemarin. Cantik orangnya, rupanya dari suku dayak, hehehe.

    Oia, mampirlah untuk melihat sekilas ceritaku ini.
    http://www.yellsaints.com/2018/11/menunggu-sunrise-di-bukit-cinta-bromo.html?m=1

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihihi no comment ya soal itu, bisa runyam urusannya hehehe

      btw, Yell, daripada ninggalin link di komentar, mendingan Yelli komentnya pake link url and name, nah di bagian url bisa taruh link blog yelli :)
      lebih baik, lebih elegan, dan pastinya lebih gede efeknya bagi blog yelli

      Delete
  4. Aku jarang sekali melihat festival. Pertama kemarin adalah festival payung karena bisa dapat akses drone di borobudur. Dan sepertinya aku ketagihan dengan acara festival.

    Nice story mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaaah dikau ini ya bang.. sekalinya dapat akses pasti selalu photonya fantastik huhuhu

      Delete

Start typing and press Enter to search