Wednesday, August 14, 2019

Wisata Aceh di Persimpangan Jalan




Pengembangan wisata di Aceh seolah berada pada titik kebingungan antara terus memajukan sektor pariwisata atau mengalihkan ke sektor lainnya. 

Tahun 2016 menjadi sebuah titik balik. Angin segar bagi wisata di Aceh. Berawal dari dimenangkannya Penghargaan Wisata Halal Dunia 2016 atau World Halal Tourism Awards 2016 untuk dua kategori. Yaitu, Aceh sebagai World’s Best Halal Cultural Destination dan Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar sebagai World’s Best Airport for Halal Travellers.

Lain yang diharap, lain yang didapat. Pengembangan wisata, kerasnya promosi wisata yang dilakukan oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sampai komunitas sadar wisata aceh, terkesan tidak mampu memberikan pemahaman yang jelas akan arah pembangunan wisata Aceh. Bahkan cenderung jalan ditempat.

Mulai dari medio awal 2016 berbagai kasus yang berhubungan dengan wisata di Aceh terus terjadi. Kasus penutupan tempat wisata terus terjadi di daerah yang terkenal dengan slogan Serambi Mekkah ini. Berbagai alasan disusun rapi. Terbaru, kasus penutupan Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar yang seyogyanya pernah menangkan katergori sebagai World’s Best Airport for Halal Travellers pada tahun 2016 tersebut. 


Bukan tanpa alasan, penutupan diwacanakan hanya berlaku pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha saja. Katanya, untuk menghargai hari besar umat muslim di Aceh. dan memberikan kesempatan untuk pelaksanaan ibadah kepada petugas bandara. Kabar terbaru, ketika hari idul Adha lalu, bandara “hanya” tutup selama 3,5 jam. Selebihnya kembali normal.

ditutup

ini tampilan pantai yang pernah ditutup. di kawasan Aceh Jaya

Tak ada yang salah dengan hal ini. Secara hukum, Aceh memiliki kewenangan khusus untuk melaksanakan Syariat Islam secara mandiri. Di sisi yang lain, ada berbagai aspek yang harus dipertimbangkan untuk objek vital dalam sebuah daerah dan negara ini, untuk bisa ditutup begitu saja. Bagaimana dengan yang sudah reservasi tiket? Bagaimana dengan jumlah penerbangan yang banyak di pagi hari? Bagaimana dengan pendapatan daerah yang masuk dalam kategori daerah tertinggal ini?

Wisata Halal Tidak Sama Dengan Wisata Syariah Atau Religi 

Wisata Halal, merupakan wisata yang mengutamakan unsur kehalalan beberapa aspek yang terkait dengan wisata itu sendiri. Halal dalam berwisata berarti, penyediaan tempat wisata yang meliputi Hotel, rumah makan/restoran dan lainnya menggunakan material halal dan thoyyib (baik). Standar kehalalan ini-seharusnya-diukur melalui prosedur yang mampu memenuhi sertifikat halal. Sehingga terjamin dari berbagai bahaya dan baik. Sehingga, pasar yang disasar dari branding wisata halal ini adalah semua orang. Tanpa memandang agama yang dianut.



jargon wisata Aceh

Tujuan awal dari branding wisata halal adalah, didengungkan oleh pihak Pemerintah Indonesia untuk mengejar wisatawan muslim dari negeri non muslim. Yang mengalami kesulitan ibadah dan kesulitan mendapatkan makanan yang halal sesuai dengan kaidah Islam. Sehingga tak heran, jika pasar wisata halal ini juga dikejar oleh Jepang, Thailand, dan beberapa negara lainnya.

Jika istilah syariah lebih kepada mengatur manusia dan seluruh aspeknya, sedangkan istilah halal lebih kepada mengatur material dan seluruh penanganannya. Tidak ada istilah kolam renang halal, yang ada kolam renang syariah, yang penerapannya berupa menutup aurat bagi wanita serta tidak bercampurnya pria dengan wanita pada satu kolam renang. (kutipan dari www.cheria-travel.com)

Daya tarik wisata syariah diartikan sebagai segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan dan nilai yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan muslim. Wisata Syariah, sudah barang tentu wajib memastikan segala aspek syariah terpenuhi. Sehingga, dalam wisata syariah, bisa dipastikan untk mengharuskan peserta beragama Islam karena wisata ini bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan keislaman para pesertanya.

Ada tiga jenis wisata religi. Pertama, wisata dengan tujuan beribadah (pilgrim) seperti haji dan umroh. Kedua, wisata bersifat islami contohnya berwisata ke Turki untuk melihat sejarah kebudayaan Islam usai melakukan ibadah Umroh. Ketiga, wisata halal yakni pemenuhan ibadah muslim saat mereka berwisata seperti mushola dan restoran halal.

Kesimpulannya? Silakan Anda simpulkan sendiri. Bagaimana baiknya. 

Mereka Yang Terus Berbenah Dan Maju Jalan 

Di sisi lain, dalam tahun 2019 ini, Dua kabupaten di Aceh terus melangkah maju dalam membangun sektor pariwisatanya. Pulau Banyak, yang berada di Kabupaten Singkil. Satu lagi, Bur Telege di Kabupaten Aceh Tengah. Pulau Banyak misalnya, hanya butuh waktu tiga tahun untuk berubah menjadi lebih baik. Menjadi lebih siap dalam menyambut para wisatawan yang haus akan wisata. 

Pemandangan di Pulau Rangit yang berada dalam kawasan Pulau Banyak, Aceh Singkil

Sebut saja, perubahan yang begitu mencolok atas pulau Panjang. Sebuah pulau yang tiga tahun lalu hanya sekumpulan kebun kelapa, kini mulai berbenah. Jauh, dari kesan sebuah kebun. Mulai dermaga apung yang istagramable, sampai penginapan yang dikelola oleh pihak Desa dalam bentuk BUMDES sampai pihak swasta. Penyewaan sepeda keliling pulau di Pulau Balai disajikan. Mereka mulai berani menyajikan makanan khas daerahnya. Mulai percaya untuk menyuguhkan paket wisata dengan spot-spot yang menarik lainnya.

Senada dengan perkembangan itu, Bur Telege yang berada di kawasan tengah Aceh tak mau ketinggalan. Masih terbayang jelas beberapa tahun silam, ketika pertama kali melangkahkan kaki ke sini. Hanya semak belukar. Hanya ada anjing liar yang menggonggong tak tahu diri. Kacaunya, tempat tersebut memiliki potensi wisata dengan pemandangan yang aduhai. 

Jika pulau Banyak dengan pemandangan laut yang biru berbalut hijau toska, beningnya air bak akuarium raksasa. Di Bur Telege, pemandangannya bukit yang berpunggung danau Lut Tawar yang hijau dan tenang. Hijaunya pinus bersusun rapi. Ditambah, hawa sejuk yang membuat suasana begitu syahdu. Kini, pemuda desa setempat mulai membenahinya. Bersama-sama dengan Pemerintah Kabupaten, mereka mengubah kawasan tersebut menjadi begitu ramah untuk kunjungi. 


Bur Telege, hari ini!

Berbagai wahana permainan dibangun. Toilet lengkap dengan air bersih. Kawasan yang tadinya semak belukar berubah menjadi taman bunga. Atraksi wisata tak tertinggalan. Ia kini, menjadi primadona baru dalam menikmati indahnya danau Lut Tawar dari atas bukit. Bagi dua daerah ini, terus melangkah maju adalah tujuannya. Demi keadaan yang lebih baik. Demi kesejahteraan ekonomi masyarakat yang lebih baik. 

Mereka paham, view ini dapat di jual dengan baik tanpa harus ada kontradiksi apapun. 

Akhir kata, arah manakah yang akan ditempuh oleh Aceh dalam memajukan pariwisatanya? Halal, ataukah Syariah? Mungkin, ia masih akan bingung sampai beberapa tahun ke depan. 

2 comments:

  1. Sebenarnya dari kacamata aku bang, aceh lebih bingung dari yang abang perkirakan. Malah bisa dikata tidak tau apa yang di perbuat. Contoh paling jelas adalah Gamifest. Bukan tidak ada positifnya ini event, tapi event nya hanya sebagai pemenuhan kegiatan saja rasanya. Ah,. Ini hanya ooiniku, mungkin penggagas dan pemerintah sama sekali tidak bingung, hanya saja belum menemukan formula yang tepat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihihi saya menulisnya dengan selembut mungkin lho ya.. itu kamu sendiri yang mengatakan demikian ya? :D

      Delete

Hai... Terima Kasih sudah membaca blog ini. Yuks ikut berkontribusi dengan meninggalkan komentar di sini 😉

082160247799

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search