Hai readers!
Kadang kita sering lupa dan bahkan terkesan mengabaikan tentang sejarah suatu daerah yang kita kunjungi. Menurut saya pribadi, mengetahui sejarah daerah yang kita kunjungi menjadi  suatu keharusan. Agar kita dapat feel  dalam menjelajah setiap sudut daerah tersebut.

Setelah beberapa kali menginjakkan kaki di wilayah Utara Provinsi Aceh ini. Rasanya belum sah mengunjungi kedua kabupaten kota ini tanpa mengetahui sejarahnya. 

(gambar dari portalsatu )

Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe sebelumnya merupakan satu kesatuan. Jauh sebelum ada negara Indonesia, di bumi pasai pernah berdiri gagah sebuah kerjaan Islam. Kerajaan tersebut dikenal hingga ke mancanegara. Itulah kerajaan Islam Samudera Pasai.

Menguak dari semua sejarah masa lalu. Tentunya kedua wilayah ini memiliki ragam destinasi yang layak dikunjungi. Tidak hanya tentang perdagangan yang berada di wilayah central. Namun berbagai keunikan budaya, kekayaan alam, dan keindahan buminya yang menarik minat para traveler.

Kali ini, saya mengajak teman-teman  pada sebuah tempat yang patut dikunjungi jika menginjak kaki di Aceh Utara. Yaitu sebuah destinasi sejarah, pusat education, cagar budaya bahkan untuk penelitian sekalipun. Tidak lain itulah dia Museum Islam Samudera Pasai.
Sebuah museum, yang menampilkan sekelumit tentang kerajaan samudera pasai tempo dulu. Museum ini terletak di Gampong Beuringen Kecamatan Samudera. Gedung yang berukuran 2850 M,  terletak di lahan komplek monumen pasai seluas 7,5 hektar.

Letak museum Islam samudera pasai tidak jauh dari  pusat perbelanjaan kota Geudong. Sangat mudah di akses dari jalan nasional Medan-Banda Aceh. Lalu masuk melalui jalan malikul shaleh. Hanya beberapa kilo kita langsung memasuki area lahan monumen pasai.

Dari kejauhan langsung nampak monumen pasai yang menembus awan. Museum ini, juga tidak jauh dari makam makam Sultan Malik As Shalih.

Gaya bangunan museum pasai merupakan replika dari model bangunan abad ke-13. Pada struktur bangunan di penuhi dengan replika-replika kandil. Ornamen kandil  merupakan ciri khas Kerajaan Islam Samudera Pasai. Kandil atau miskah ini bermakna penerangan yang diperuntukkan bagi para alim ulama, sebagai lampu penerang kehidupan dunia.
 (Ornamen kandil di museum Samudera Pasai)

Museum ini sangat komplit  memamer sejumlah koleksi sejarah. Seperti miniatur kapal layar, pilar pasai, nisan bersurat, manuskrip mushaf Al-Qur’an karya tulis intelektual  Aceh masa lampau, mata uang dirham, gerabah, keramik, peralatan adat, alat musik, senjata dan perhiasan.

Selain koleksi benda, di dalam museum pasai juga terdapat ruang bibliografi. Menampilkan rekam jejak histori samudera pasai dari abad ke-13 hingga abad ke-16. 

Saya rasa berlibur ke bumi pasai akan lebih bermakna. Ketika teman-teman mau singgah ke museum Islam samudera pasai ini.  Dan, jangan beranggapan hanya anak SD yang pantas ke museum. 

Hei, kita-kita yang sudah menyandang sarjana, master bahkan doktor. Saya rasa sangat penting untuk menelaah sejarah. Sebagai pembelajaran kita melanjutkan kehidupan ini.

Setelah usai memutar keliling gedung yang selalu terlihat bersih ini. Teman-teman bisa bermain lebih leluasa ke tempat lain yang fantastis di Aceh Utara.