Kandar, terlihat sibut mengarahkan sekelompok mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Fakultas Kelautan dan Perikanan. Beberapa batang pipa paralon warna putih besar tersusun di depan mereka. Sebagian dari mahasiswa memegang gergaji besi, sebagian lainnya mempersiapkan balok kayu. Sedangkan yang mahasiswi, serius dalam membantu, sebagian lainnya mendokumentasikan kegiatan tersebut. Sebagai laporan untuk ke kampus, kata mereka.



Sore, matahari bersinar cerah. Langit membiru sempurna. Angin barat bertiup cukup kencang. Membangun suhu yang tak karuan. Panas terik, bercampur angin yang membawa hawa laut. Desa Alue Naga, terletak di ujung timur ibu kota Provinsi Aceh, Kota Banda Aceh. Desa ini, juga menjadi salah satu kawasan yang terimbas sangat parah ketika terjangan Tsunami menyapa provinsi terbarat Indonesia di akhir 2004 lalu. 

Kemiskinan yang sedari dulu telah berakar di desa tersebut, pasca bencana besar tersebut, semakin menjadi jadi. Minimnya pendapatan ekonomi masyarakat Alue Naga, juga berimbas kepada kemampuan mereka menyekolahkan anak-anaknya. Walaupun desa ini masih termasuk dalam kawasan Kota Banda Aceh, kondisinya, bak jauh panggang dari api.  Pada akhirnya, kesejahteraan masyarakat berada dibawah rata-rata daerah.

Profesi sebagian besar warga desa Alue Naga terutama yang laki-laki, adalah nelayan tangkap.  Sedangkan, kaum hawanya, hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Nasib nelayan di Aceh, terutama di Banda Aceh yang berada langsung di ujung utara Sumatera, membuat nasib mereka seperti ujung tanduk. Ketika musim angin Barat, mereka harus ke bagian timur. Dan, begitupun sebaliknya. Akhirnya, hasil tangkap ikan bisa dipastikan sangat tidak tertentu ditambah lagi, biaya operasional menjadi mahal. 

suasana tempat budidaya tiram di Alue Naga. Foto by : Bairuindra.com

Peliknya keadaan sosio-ekonomi masyarakat desa Alue Naga, membuat sebagian besar para ibu rumah tangga di desa itu, turut andil dalam mencari ekonomi tambahan untuk tetap membuat dapur mengepul. Jadilah, mereka para pencari tiram di muara Kanal Krueng Aceh yang juga masih dalam kawasan desa mereka. 

cara mencari tiram tradisional, foto by; Hotli S (bigdata.id)

Tak cukup sampai para kaum hawa, bahkan, beberapa anak-anak yang masih usia sekolah pun ikut membantu ibunya dalam mencari Tiram. Permasalahan selanjutnya adalah, dalam mencari tiram ini, sangat bergantung dengan siklus pasang surut air laut. Sehingga, ketika air surut di pagi sampai siang hari, bisa dipastikan, sebagian besar anak anak tersebut tidak akan mengikuti kegiatan sekolah. Beberapa program bantuan telah diusahakan, namun kondisi kekurangan ekonomi itu, seolah tak mau pindah dari desa Alue Naga, Alur Naga bila kita ingin mengartikannya ke bahasa Indonesia. 

Asa Itu Hadir Dari Budidaya Tiram


“Dulu, kami kerjanya begitu bergantung sama pasang surut bang. Sekarang, dengan masuknya program budi daya tiram, kami bisa memanen kapan saja. Ukurannya juga sudah standar. Bahkan, dalam sehari kami bisa dapat Rp.150.000. Bukan perhari pun, bang. Tapi hanya dalam beberapa jam saja. Selebihnya, saya bisa ngurus anak, suami, dan rumah tangga” ungkap Yulia, Istri Kandar yang juga ketua Kelompok Perikanan “Lhok Akok” binaan dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi. 

Yulia tidak sendiri. Ada 9 anggota lainnya dalam kelompok tersebut, dan semuanya adalah perempuan, berprofesi ibu rumah tangga. Beruntung, suami Yulia, kini menjadi salah satu Penyelia dalam program budi daya Tiram tersebut. 


Cerita ini, bermula ketika Iskandar, nama asli pria yang lebih dikenal Kandar ini, bertemu dengan Ichsan Rusdi seorang tenaga pengajar dari Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala. Medio 2015, Ichsan yang lulusan Master Perikanan dari Unibraw Malang, melakukan serangkaian mapping mengenai potensi dan masalah yang ada di sepanjang pantai Kota Banda Aceh. 

Salah satu fokus utamanya adalah tiram. Berbekal keilmuannya, ia bersama timnya dipercaya untuk melakukan penelitian mendalam seputar persoalan yang melanda para pencari Tiram.  Pun, disaat bersamaan, salah satu perwakilan pemerintah provinsi Aceh, Sardani M Syarif, telah lebih dahulu melakukan budidaya tiram menggunakan median ban bekas. Pun Dani, ikut melibatkan Kandar dalam hampir setiap uji cobanya. 

Merasa gayung bersambut. Pertemuan tiga pihak, tercipta. Kandar sebagai penyelia, Sardani M Syarif sebagai penggagas awal sekaligus perwakilan pemerintah, dan Ichsan sendiri, dari akademisi. Ichsan merasa akan mampu memecahkan masalah rumit dan kompleks di desa Alue Naga tersebut. 

Perpaduan yang apik ini, berhasil mengantarkan Ichsan sebagai salah satu penerima penghargaan Satu Indonesia Awards Astra tahun 2017. Ia menjadi salah satu anak muda dari Banda Aceh, yang dianggap mampu memberikan solusi akan keadaan rumitnya sosio ekonomi petani tiram di Alue Naga. 

Tak sampai di situ, melalui branding dan promosi yang dilakukan oleh Ihcsan melalui yayasannya yang Bernama Yayasan Pendidikan Kemaritiman Indonesia, lagi-lagi berhasil menjadikan kampung Alue Naga, sebagai salah satu Kampung Berseri Astra 2017. 

Di tahun yang sama pula, desa Alue Naga resmi menjadi desa binaan PT Astra Group. Melalui program Kampung Berseri Astra, kampung ini terus berbenah. Program yang berfokus dan berkomitment pada peningkatan Pendidikan, kesehatan, lingkungan dan kewirausahaan. Bahkan, melalui program ini pula, Astra Grup telah memberikan beasiswa selama lebih hampir 4 tahun kepada para siswa-siswi di Alue Naga. 

“Tugas saya, hanya membantu manusia-manusia yang memang wajib saya bantu. Semua keberhasilan ini, bukan milik saya, namun milik mereka. Saya hanya ingin menjadikan mereka manusia yang merdeka. Selebihnya, semua ini, adalah milik mereka. Mereka Kelola sendiri demi mereka terus berdikari.” Ungkap Ichsan di sela-sela acara Bincang Inspirastif Astra. 

Ichsan Rusdi, menatap harapan di ujung Alue Naga. foto by bairuindra.com

Kini, masalah pelik terurai perlahan. Tak tuntas memang, namun asa terlihat semakin benderang. Tak ada lagi anak-anak yang harus membantu orang tuanya di jam operasional sekolah. Tak ada lagi, ibu-ibu yang harus berendam di air asin selama berjam-jam. Kampung Alue Naga, mulai berseri. Seberseri senyum Yulia dan Kandar di sore itu. 



*keterangan foto paling atas, Pengambil Tiram di Alue Naga, Banda Aceh foto by Pikiranmerdeka.com