China Itam Di Banda Aceh

“Persahabatan dua negara besar itu di tandai dengan dihadiahkannya Lonceng Teror Dunia ( Cakra Donya)”
China Itam Di Banda Aceh
Gerbang pasar tradisional Peunayong, Banda Aceh

Membicarakan Aceh dan Banda Aceh khususnya, sepertinya tidak pernah ada habisnya. Selalu saja ada hal baru yang bisa di ceritakan. Kota yang berumur lebih dari 800 tahun ini, mempunyai keunikan tersendiri. Berjuluk sebagai serambi Mekkah, dan menjalankan syariat Islam sebagai dasar hukum kedua setelah hukum Negara Indonesia. Banda Aceh, sering mendapatkan kesan negative dari pihak luar. Begitu banyak yang mempertanyakan eksistensi agama lain di kota Banda Aceh selaku ibukota Provinsi.
Banda Aceh secara historis sebenarnya merupakan kota yang mungkin paling toleransi sejak jaman pemerintahan para sultan dahulu. Berdiri dari puing-puing kebesaran kerajaan hindu/budha, ternyata tidak menisbatkan Banda Aceh sebagai sebuah kerajaan yang kejam. Hal ini terbukti dari berbagai situs yang masih berdiri. Pun demikian dengan agama, budaya, serta istiadat yang masih dipertahankan oleh suku atau komunitas agama selain Islam.

China Itam Di Banda Aceh
Vihara Di banda Aceh
Aceh, berarti Arab, Cina, Eropa, dan Hindia. Kata-kata ini, sebenarnya sudah merupakan sebuah jawaban atas kekhawatiran pihak luar selama ini. Syariat Islam, tidak menghilangkan sikap toleransi warga Aceh, khususnya Banda Aceh. Di Banda Aceh sendiri, semua agama yang di akui oleh Negara yang berlandaskan pancasila ini, hidup berdampingan dengan harmonis. Mulai dari Kristen, Hindu, Budha, dan Khong Hu Cu.

Bila sempat bermain ke Banda Aceh, dari Masjid Raya Baiturrahman, berjalanlah kearah utara, lalu sebrangi jembatan Pante Pirak, maka kita akan tiba ke salah satu kota Tua di Banda Aceh. Peunayong namanya. Kota pecinan tua ini, mirip dengan kota pecinan lainnya yang ada di daerah atau Negara lain. Mayoritas penduduknya adalah etnis Thionghua. Bahkan, daerah yang berdiri dari jaman berdirinya kerajaan Islam Darussalam ini, dihuni oleh suku Khe, Tio Chiu, Kong Hu, Hokkian, dll.

China Itam Di Banda Aceh
Lonceng Teror Dunia hadiah dari kaisar China
Sebenarnya, wajar saja bila orang Aceh, begitu mudah hidup berdampingan dengan etnis Thionghua. Karena, dari jaman kerajaan dulu, Aceh sudah dianggap sebuah Negara besar. sehingga, pihak kerajaan dinasti china, ingin menjalin kerjasama dan persaudaraan dengan kerajaan Aceh Darussalam. Salah satu bukti persahabatan dua negara besar itu ditandai dengan dihadiahkannya Lonceng Teror Dunia ( Cakra Donya). Lonceng ini masih bisa di lihat di museum Aceh, yang juga terletak tidak jauh dari Peunayong.

Perayaan Imlek tahun 2566, adalah salah satu bukti nyata. Bahwa masyarakat Banda Aceh begitu menerima perbedaan yang telah tercipta beratus tahun yang lalu. Saya pun, hari ini sengaja mengunjungi Peunayong untuk bisa menyaksikan pertunjukan khas dari etnis Thionghua dalam menyambut tahun baru Imlek. Barongsai!
China Itam Di Banda Aceh
Bila anda bisa teliti, diatas Bak mobil Pick Up,
ada Cewek yang pake jilbab hitam

Seperti dalam film laga cina. Si barongsai ini menari dan bermanuver sesukanya. Tapi dari itu semua, yang menarik perhatian saya adalah, salah satu penabuh timbal dari pertunjukan barongsai tersebut adalah anak pribumi Aceh! Mukanya manis, kulitnya sawo matang, dan yang membuat dia begitu mencolok adalah Jilbab! Ya, dia memakai jilbab dan bergabung dalam pertunjukkan tersebut. Dia juga menjadi salah satu penentu suara timbal dalam pertunjukkan tersebut.

Ah, betapa ketakutan-ketakutan pihak luar akan Banda Aceh, sungguh berlebihan. Banda Aceh, tidak seseram yang dibayangkan. Syariat Islam tidak mengekang para etnis Thionghua untuk beribadah. Kaum Kristen yang ingin menjalankan misa di gereja, berjalan tanpa mengenakan jilbab, juga tak mengapa. Banyak bule, yang datang lalu, tetap ingin datang kembali. Karena, menurut mereka, Banda Aceh itu MENYENANGKAN!
China Itam Di Banda Aceh
Harus bersaing, moto ama para wartawan lokal, sedangkan saya?
saya wartawan negeri Awan! hihihi


Jadi, datang dan  buktikan sendiri keragaman agama, budaya, adat, serta istiadat di negeri serambi Mekkah ini! Dan, katakan kepada dunia, kalau mereka salah menilai Aceh! 
Ayo Ke Peunayong! 
Teruntuk sodaraku di Peunayong, Gong Xi Fa Cai 2566


Banda Aceh, February 19, 2015
Dari penggemar film China, Yr

Nb: foto koleksi pribadi, Imlek Peunayong 2015
      Foto Lonceng, dari wikipedia.id

Yudi Randa

Saya, menyukai dunia travelling, Mencintai membaca, Mencintai duduk bersama keluarga sembari menikmati secangkir kopi, menyenangi berbagi bersama. Bisa di Hubungi di yudi.randa@gmail.com

10 komentar:

  1. Balasan
    1. Terima kasih kak Cut May, salam kenal kak

      Hapus
  2. Kalau penggemar film korea boleh tetep datang dan buktikan yud? ☺ btw tulisan yudi semakin kerennn salutt deh 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jazakillahu Khairan kak atas pujiannya, masih tahap belajar kok kak. mudah2an bisa lebih baik lagi amin..

      hihihi penggemar film korea, yudi bingung kak, mungkin mereka lebih suka taekwondo kali ya? hehe

      Hapus
  3. Keren. Aceh memang sesuatu ya :)
    Salam kenal, jgn lup folback ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bang Bai, salam kenal kembali, Saya Yudi bang.
      insya Allah sudah di folback bang :)

      Hapus
  4. Wih,, di Banda Aceh ada Chinatown juga toh! mantap.. pengen euy ke Banda Aceh, semoga ada kesempatan bisa kesana suatu hari..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, malah, cakupan luas wilayahnya bisa dikatakan 1/4 dari luas "kota" banda aceh itu sendiri bang Agun.
      haruslah bang, ke aceh. Kan udah nyampe ke roma toh :D

      Hapus
  5. Balasan
    1. Amin.. mudah2an bisa selamanya begitu

      Hapus