Tips Booking Hotel yang Mudah, Murah, dan Aman

Melakukan perjalanan wisata atau kunjungan kerja (bisnis) ke luar kota, luar daerah, bahkan luar pulau saat ini semakin mudah untuk dilakukan karena biaya tiket pesawat yang semakin murah terutama untuk kelas ekonomi. Walaupun labelnya kelas ekonomi, tapi tetap saja jauh lebih nyaman dan lebih cepat apabila dibandingkan dengan menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum yang berlabel eksekutif. Apalagi kalau tujuannya cukup jauh dan memakan waktu berjam-jam.

Tips Booking Hotel yang Mudah, Murah, dan Aman
Travelling – sumber gambar : innonthedrive.com
Bagian penting dari sebuah perjalanan adalah tempat menginap. Memilih tempat menginap saat ini juga tidak begitu sulit mengingat ada banyak pilihan yang bisa kita sesuaikan dengan selera. Mulai dari, hotel, guest house, villa, hingga kos-kosan per hari atau per minggu. Namun yang jelas, hotel adalah tempat menginap yang paling banyak dipilih dan paling mudah ditemukan.

Selain itu, hotel memiliki banyak variasi dan segudang pilihan. Misalnya saja, kita bisa memilih hotel murah dengan fasilitas yang sederhana jika budget tidak banyak. Jika memiliki budget cukup, kita bisa saja memilih hotel yang lebih mewah dengan fasilitas yang lebih lengkap.

Tapi namanya hotel, dengan fasilitas yang paling sederhana sekalipun, saat beristirahat terasa sangat nyaman dan pelayanannya sebagian besar memuaskan.

Jika dahulu, metode yang digunakan untuk booking hotel biasanya adalah dengan menelpon pihak hotel untuk menanyakan, apakah kamar seperti yang diinginkan tersedia? Berapa harganya? Dan lain-lain.

Cara konvensional ini, sebagian besar di era modern sudah mulai ditinggalkan. Mengapa? Karena memakan waktu, membutuhkan banyak biaya terutama biaya telepon atau pulsa. Dan jika ingin membandingkan harga, kita harus menelpon satu persatu hotel-hotel yang kita incar. Sungguh merepotkan bukan?

Tips Booking Hotel yang Mudah, Murah, dan Aman
sumber gambar : telegraph.co.uk

Namun saat ini, internet bisa memudahkan semuanya. Sebagian besar hotel sudah memiliki website. Walaupun kita bisa mengecek ketersediaan kamar di website hotel, namun kadangkala informasinya ada saja yang kurang sehingga mengharuskan kita untuk melakukan panggilan telepon. Ujung-ujungnya biaya kembali keluar lebih banyak.

Yang termutakhir, pihak hotel bekerja sama dengan agen travel online (OTA) untuk mempromosikan hotel mereka. Dengan kerjasama tersebut, pihak ketiga seperti agen online berlomba-lomba menghadirkan kemudahan bagi para pelanggan. Buktinya bisa kita lihat dengan mengunjungi beberapa website agent online atau dengan mengunduh aplikasinya baik untuk gadget berbasis Android, Windows Phone atau untuk perangkat Apple.

Beberapa keuntungan dan kemudahan yang bisa kita dapatkan dengan memesan secara online melalui aplikasi atau website agen travel diantaranya adalah:
  • Kita bisa memilih hotel dengan mudah berdasarkan berbagai kriteria. 
  • Kita bisa langsung membandingkan harga beberapa hotel sekaligus dalam waktu singkat. 
  • Kita bisa membayar langsung hotel tersebut tanpa DP yang kadang-kadang ujung-ujungnya nggak jelas.
  • Sering ada diskon dan voucher.

Agar booking hotel menjadi lebih mudah, murah, dan aman, melalui online travel agent, ada beberapa tips yang perlu kamu perhatikan. Berikut diantaranya.

Tinggalkan metode direct booking

Memesan kamar dengan langsung datang ke hotel (direct booking) seringkali menyisakan beberapa masalah seperti:
  • Perasaan was-was, apakah bisa mendapatkan kamar atau tidak, terutama pada saat high season. 
  • Sulit mendapatkan kamar yang diinginkan seperti yang dekat dengan kolam renang, yang memiliki pemandangan bagus, atau kamar-kamar spesial. 
  • Selain itu, metode ini tidak bisa diandalkan pada musim musim liburan.
  • Tidak praktis, metode ini cukup merepotkan.

Manfaatkan aplikasi di gadget

Untuk kemudahan dan kepraktisan memesan kamar hotel menggunakan aplikasi di gadget adalah yang direkomendasikan. Kita bisa memesan hotel kapanpun dan dimanapun melalui aplikasi di smartphone atau tablet dalam waktu yang singkat. Metode pembayarannya pun bisa dilakukan dengan menggunakan mobile banking, internet banking, atau melalui Paypal, kartu kredit, dan lain-lain.

Hindari "Pesan sekarang, bayar nanti" Melalui agen online

Beberapa agen online ada yang mempermudah pelanggan dengan memberikan ketentuan untuk bisa memesan sekarang namun membayar nanti saat menginap. Akan tetapi, kadang-kadang, kamar yang kita pesan bisa diambil oleh orang lain karena kita hanya membayar deposit, bukan membayar penuh. Apalagi kalau permintaan kamar hotel sedang banyak.
Untuk lebih amannya, pilihlah yang bisa langsung membayar penuh di awal dengan ketentuan bisa mendapatkan refund apabila harus membatalkan pesanan.

Jangan malas cek tetangga sebelah

Agen travel online saat ini juga banyak banget jumlahnya. Untuk bisa mendapatkan kamar hotel yang paling murah dan paling sesuai dengan keinginan, kamu wajib mengecek 2-3 agen online yang terkenal.

Perhatikan tax and service

Ini adalah ketentuan saat booking hotel melalui agen online yang tidak boleh kamu lupakan. Ada beberapa agen online yang tidak menyertakan biaya pajak dan pelayanan dalam harga hotel yang ditawarkan. Jadi, sedikit teliti akan membantu kita booking hotel melalui agen online dengan lebih aman.

Jangan malu berburu diskon dan voucher

Bukan rahasia apabila agen online seringkali menawarkan berbagai diskon dan voucher. Misalnya dengan mendaftarkan email. Biasanya kita akan mendapatkan kiriman voucher atau tawaran diskon melalui email yang kita daftarkan. Dengan itu, kita bisa menghemat pengeluaran terutama untuk biaya penginapan. Jadi jangan ragu-ragu untuk berburu voucher dan diskon hotel melalui agen online.
  

Banyak Jalan Ke Pulau Banyak, Aceh Singkil

Wisata Aceh Singkil
Pelabuhan Jembatan Tinggi kota Singkil
foto : bang Arie Yamani
Saya sempat stress ketika dikatakan kalau ke Pulau Banyak yang terletak di kabupaten Aceh singkil ini harus ditempuh dengan jalan darat selama 16 jam. Belum lagi, kita diharuskan menyeberang dari Jembatan Tinggi kota Aceh Singkil ke Pulau Balai yang akan memakan waktu selama 4 jam. Itupun bila cuaca laut bagus atau bersahabat.


Dalam hati saya bertanya-tanya, Pulau Banyak ini, sebenarnya masih di provinsi Aceh atau sudah masuk Negara lain sih? Jaraknya yang cukup jauh bila dihitung dari ibukota provinsi Aceh, ternyata tidak membuatnya menjadi terasingkan. Hal ini terbukti, dengan terus meningkatnya kunjungan wisatawan ke kabupaten terbarat Aceh. 

Perjalanan panjang yang saya tempuh bersama keluarga ternyata memang layak. Pemandangan yang spektakuler tersaji begitu saya menginjakkan kaki di pulau Balai. Bahkan, ziyad dan bilqis, kedua anak saya, sampai hari ini masih ingin kesana lagi. Lalu kamu, kapan?

Setelah saya susuri jalan ke pulau banyak dan berhasil kembali dengan selamat ke Banda Aceh, ternyata ada Banyak Jalan Ke Pulau Banyak.

Wisata Aceh Singkil

  • Bila kamu sedang berada di Banda Aceh, kamu bisa menggunakan angkutan umum ke Kota Singkil dengan harga tiket Rp. 500.000 untuk pulang pergi. Jarak tempuh 14 sampai dengan 16 jam perjalanan darat nonstop. 
  • Nah, untuk kamu yang dari luar Aceh, ada baiknya bila ingin langsung ke Pulau Banyak, kamu bisa melalui Medan. Jarak tempuhnya hanya 8 sampai 9 jam perjalanan darat nonstop. Untuk harga tiketnya sendiri mulai dari Rp. 110.000 sampai Rp.120.000 
  • Kalau tidak ingin capek di kenderaan umum, kamu bisa naik pesawat “Susi Air”. Baik itu dari Sumatra Utara ataupun dari Banda Aceh. Selain bisa menghemat jarak tempuh, harga yang ditawarkan juga TERNYATA tidak terlalu mahal! 
  • Tarif Pesawat ke Singkil dari Banda Aceh untuk penumpang dewasa Rp. 363.000* dan Rp. 47.000 untuk anak di bawah dua tahun. 
  • Jadwal penerbangan Singkil-Medan dalam seminggu hanya ada tiga hari saja. Yaitu hari Senin, Rabu, dan Jumat. Begitupun dari Banda Aceh-Singkil. 
  • Lalu, untuk menuju pulau Banyak, kamu memang harus menggunakan kapal. Nah, ternyata sekarang juga sudah ada kapal ferry yang beroperasi seminggu dua hari. Harga tiketnya, hanya Rp 25.000 saja. 
Wisata Aceh Singkil
Km Mutiara Bahari milik Bang Mus
  • Sedangkan untuk kamu yang mencintai laut seperti mencintai kekasih hati, kamu tetap bisa menyeberang ke Pulau Banyak setiap hari dengan menggunakan kapal KM Masyarakat setempat. Tenang, rata-rata kapal yang dipakai untuk penyeberangan Singkil-Pulau Balai sudah kapal kayu berukuran 25 sampai 30 GT. Jadi di jamin nyaman dan aman. Harga tiketnya juga masih terjangkau kok, yaitu Rp 25.000 sampai dengan Rp 30.000. Saya menyarankan jika kamu mau menyeberang ke pulau balai naik Kapal KM MUTIARA BAHARI saja. Walaupun sedikit mahal, tapi pelayanannya memuaskan serta ruangannya nyaman.
  • Lalu, untuk penginapan di Pulau Balai bagaimana? Menariknya, di Pulau Balai yang merupakan salah satu pulau dengan penduduk paling ramai di Kepulauan Pulau Banyak ini, hampir di setiap sudut pulau kamu bisa menemukan losmen ataupun homestay. Harga per-malamnya juga variasi. Mulai dari Rp. 50.000 dengan fasilitas kamar mandi di luar kamar. Sampai ada yang 175.000 per malam dengan fasilitas pendingin ruangan. 
  • Saya dan keluarga, ketika piknik ke Pulau balai memilih penginapan Homestay Muarmata. Harga kamar per-malam hanya Rp.120.000 dengan fasilitas, kamar mandi dalam, dan kipas angin. 
Bicara soal makan atau kuliner. Terus terang, di Pulau Balai, kamu akan sedikit kesulitan menemukan makanan khas. Terlebih lagi pulau ini tidak terlalu besar. Tapi tenang, warung makan masih tersedia hampir di setiap sudut pulau kok. Harga perporsinya juga masih murah. Mulai dari 15.000 sampai 25.000. 

Tips; Hampir disetiap homestay menyediakan paket Makan. Jadi lebih baik anda memesan sekaligus. Per porsi hanya 20.000. kelebihannya adalah, selain kamu bisa makan sepuasnya, ikan yang disajikan juga masih segar-segar.

Wisata Aceh Singkil
penginapan Muarmata 
Wisata Aceh Singkil

Nah, begitulah sekiranya cara mudah ke pulau Banyak. Ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Bila tahun lalu ke Pulau Balai kamu harus bawa uang cash yang banyak, kini di sana, kamu bisa tarik uang cash di beberapa warung grosir di Pulau Balai. (via mesin EDC)

Soal jaringan seluler, Pulau Balai juga telah menikmati jaringan 3G. jadi, kami tetap bisa online dan terhubung dengan dunia luar. Kamu tetap bisa internetan sembari terus meng-update cerita. 

Oh iya, untuk island hoping, kamu bisa menyewa motor boat (disarankan yang bermesin ganda). Harganya juga variatif. Mulai dari 100.000 per-orang sampai per paket Rp. 700.000. Biasanya, dalam satu hari, kita akan dibawa ke lima atau enam pulau. Tergantung jarak, waktu, dan cuaca.

Wisata Aceh Singkil
mau mandi cantik seperti Ziyad juga boleh
Untuk snorkeling, ataupun kayaking, di pulau balai kamu bisa menghubungi agen travel ataupun masyarakat setempat untuk mengetahui harga yang pasti. Tapi, di sana tersedia kok. 

Jadi, dengan segala kemudahan yang ada, dengan segala infrastuktur yang mendukung, maka alasan apalagi yang membuat kamu belum mengunjungi salah satu pulau cantik di barat Indonesia ini?

Banyak Jalan Ke Pulau Banyak, Aceh Singkil

Gayo Lues, Tempat Dua Warisan Dunia Dititipkan

wisata aceh gayo lues
“Kalau ingin menyelamatkan Leuser, selamatkan dulu masyarakat Gayo Lues ini”
Tubuhnya yang tambun, membuat suaranya terdengar sedikit berat. Tanpa alas kaki, pria yang kami tunggui selama satu jam lebih ini memberikan sebuah kesimpulan yang mencengangkan. Logat bicaranya, seperti pria Gayo Lues kebanyakan. Sedikit mirip dengan logat batak, becampur melayu, bercampur Aceh. Entahlah, saya tidak terlalu paham perihal tersebut. Pria itu, masih duduk ditengah-tengah di antara saya, manager-manager saya, dan seorang pendamping dari pihak Pemda kabupaten Gayo Lues.  

“kita ini, hanyalah orang-orang yang tidak dikenal. Masyarakat umum hanya tahu Leuser, tapi tidak mengetahui keberadaan kami. Makanya, dengan semangat yang ada, kami ingin menyampaikan kepada dunia, kalau Leuser adalah gayo, Gayo adalah Leuser.”

wisata aceh gayo lues
jalan menuju Gayo Lues dari kota Takengon yang berkabut
Bulu kuduk saya merinding. Di tengah siang bolong, di dalam sebuah kamar yang cukup luas. Pria tambun itu melanjutkan pembicaraannya. Ada semangat yang menyala terlihat jelas dari bola matanya. Baginya, politik hanyalah sebuah perantara. Untuk tetap bisa menjaga kelestarian Hutan Leuser.  Pria itu, adalah Bupati Kabupaten Gayo Lues, yang bernama ; H. Ibnu Hasyim.

Beban yang kami tanggung semakin berat. Tujuan awalnya, saya dan team hanya ingin bersosialisasi mengenai pelaksanaan TARI SAMAN 10001 MANUSIA. Sebuah perhelatan maha besar ini, akan dilaksanakan pada bulan November 2016 mendatang. Tepatnya, tanggal 24 november. Sebuah event yang akan membuat siapapun yang hadir bertekuk lutut. Menyaksikan salah satu warisan dunia yang telah diakui oleh Unesco beberapa waktu silam, bergerak dengan jumlah yang mengerikan.
wisata aceh gayo lues
rumah pohon di kawasan ginting pineng
Tahun 2014 lalu, Kabupaten Gayo Lues, untuk pertama kalinya, melaksanakan tarian Saman dengan jumlah peserta sebanyak 5005 orang penari. Bisa kamu bayangkan? Saya sendiri sampai terbengong-bengong dibuatnya. Ada 5005 (lima ribu lima ) anak manusia Gayo menarikan tarian kebanggaan mereka secara serentak dan dengan tepukan yang sama. Mereka melantunkan syair puji-pujian kepada sang Pencipta, Junjungan Nabi Muhammad, lalu memberikan petuah-petuah yang salah satu isinya adalah petuah menjaga alam. Apalagi bila bukan Leuser.

Jujur saja, ini adalah pertama kalinya saya melangkahkan kaki menuju negeri 1000 bukit. Kabupaten GAYO LUES yang beribukota Kota Blangkejeren, merupakan sebuah mimpi yang (lagi-lagi) menjadi nyata. Jalanan yang menukik tajam ke atas, sembari sesekali melewati hutan pinus yang segar. Lalu disambut dengan kabut serta gulungan awan putih, adalah sebuah sensasi perjalanan yang akan sulit saya lupakan.
wisata aceh gayo lues
kawasan genting pining, Gayo Lues
Kabupaten ini, sebenarnya kabupaten baru. Terbentuk pada tahun 2002 yang merupakan pecahan dari kabupaten Aceh Tenggara. Tuhan, menitipkan dua warisan dunia terhebat pada kabupaten muda ini. Kawasan Ekosistem Leuser, dan Tari Saman Asli Gayo! Keduanya telah mendapatkan pengakuan dunia. Tari saman, sendiri diakui oleh UNESCO pada tahun 2012 lalu. Hingga hari ini, semua orang sering keliru. Saman bisa ditarikan oleh kaum hawa, pada kenyataannya, ini adalah SALAH! Saman tidak boleh ditarikan oleh kaum hawa. Melainkan hanya pria saja. Lalu yang ditarikan oleh kaum hawa selama ini apa? Itu adalah tari Ratoeh Jaroe.

Setiap kali, saya berjalan mengelilingi kota Blangkejeren yang jalanannya tak bisa lurus. Setiap itu pula saya tersenyum. Tuhan begitu menyayangi negeri mungil ini. Dengan luas yang tak seberapa, Allah memberikan kekayaan yang luar biasa. Sempat terlintas, bilakah ini menjadi tempat terakhir di bumi. Sungguh! Itu sudah cukup.

Menghitung Kekayaan Leuser

wisata aceh gayo lues
burung pipit? 
Leuser, memiliki jumlah fauna terbanyak di kawasan Asia. Ekosistem ini merupakan rumah bagi 105 spesies mamalia, 382 spesies burung, dan setidaknya 95 spesies reptil dan amfibi (54% dari fauna terestrial Sumatera). Hutan ini dianggap sebagai tempat terakhir di Asia Tenggara yang memiliki ukuran dan kualitas yang cukup untuk mempertahankan populasi spesies-spesies langka, termasuk harimau sumatera, orangutan sumatra, badak sumatra, gajah sumatera, dan macan tutul.

Sampai saat ini setidaknya diperkirakan ada sekitar 89 jenis satwa yang tergolong langka dan dilindungi ada di hutan Taman Nasional Gunung Leuser di samping jenis satwa lainnya. Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di taman nasional ini antara lain:
  • Mawas/Orang Utan (Pongo pygmaeus abelii)
  • Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)
  • Harimau loreng Sumatera (Panthera tigris sumatrae)
  • Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)
  • Beruang Madu (Helarctos malayanus)
  • Burung Rangkong Papan (Buceros bicornis)
  • Anjing Ajag (Cuon Alpinus)
  • Siamang (Hylobates syndactylus syndactylus)
  • Kambing hutan (Capricornis sumatraensis)
  • Rusa Sambar (Cervus unicolor)  ( Sumber di sini)
Di kabupaten Gayo lues, 70 persen dari luas wilayahnya adalah kawasan hutan nasional Leuser. Hari ini, mereka tengah berjibaku. Memikirkan nasib perseteruan luas hutan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Mereka menyadari betul akan hal tersebut. Sehingga, kita semua diminta untuk mencarikan solusinya.

wisata aceh gayo lues
desa Pantan Cuaca, Gayo Lues. 
Salah satu cara yang coba diangkat adalah menjadikan Kawasan Hutan leuser sebagai daerah ekowisata. Sebenarnya, (saya harus jujur) ini bukanlah ide terbaik. Tapi mengingat sulitnya pilihan yang ada, mau tidak mau hal ini harus diambil. Hampir mirip-mirip dengan kawasan Amazon di Brazil. Hutan leuser, harus bisa memberi makan kepada manusia yang hidup disekitarnya tanpa harus merusak hutan tersebut.

Di sela-sela hawa yang sedikit sejuk dan segar, saya masih melemparkan pandangan ke arah barat. Berdiri di puncak Genting Pining. Sebuah mahakarya dari Tuhan yang luar biasa. Tergeletak begitu saja. Menanti setiap jiwa-jiwa anak manusia, mereka  para petualang sejati untuk menjamahnya.

wisata aceh gayo lues

wisata aceh gayo lues

Lekukan demi lekukan dari punggung bukit barisan berjajar memberikan sebuah pemandangan yang indah. Saya, adalah pencinta laut. Tapi kini, gunung dan bukit memberikan arti yang berbeda. Leuser, Gayo Lues, dan Tari Saman, telah membuat saya jatuh cinta. Hasrat ingin mengunjunginya lagi dan lagi lebih besar dibandingkan rasa lelah kala menempuh perjalanan darat selama hampir 12 jam.

sumber foto  Youtube Zulfan Monika
Kawan, tepat 24 November 2016* nanti, datanglah beramai-ramai ke negeri seribu bukit ini. Jadilah petualang sejati sembari menikmati sajian dua warisan dunia. Leuser, dan Tari Saman. Bantulah negeri ini, melindungi tempat terakhir di bumi yang masih menyimpan keanekaragaman hayati yang begitu melimpah. Bantulah ia, menjadi sebuah destinasi wisata yang mampu memberikan penyadaran kepada setiap anak adam di bumi ini. Bahwa menjaga alam, sama seperti kita menjaga keluarga kita sendiri dari kepunahan.


Salam dari Leuser...

wisata halal aceh
Pantan Cuaca, gayo Lues. I love it!

Sebungkus Coklat Aceh dari Cilet Coklat Untuk Adik Tersayang

toko coklat di banda aceh

Dua adik iparku baru saja menyelesaikan sidang S-1 nya, biar keren katanya. Yang di Jakarta menyelesaikan S-1 nya untuk menggenapkan D-3 sebelum menggenapkan sunnah yang satu lagi. Nah si bontot, menyelesaikan S-1 nya setelah berulang kali dipelototi sayang oleh kakak-kakaknya. Bagaimana tidak, dia yang satu-satunya pria lajang di rumah malah paling lama selesai kuliahnya.

“Bang, dah siap ni sidang, masa iya gak ada hadiah apa-apa” tagihnya sok manja, lain yang di sini, lain pula yang di jakarta. “bang, hadiahnya yang gak ada di Jakarta ya” bingung bin pusing lah, memang apa yang tidak ada dijakarta. Tapi jangan bilang Aceh tidak punya hadiah keren untuk yang punya acara macam begini, mulai dari menggenapkan ngidam istri tercinta, memenuhi impian anak untuk makan mie orang jepang, sampai memberi oleh-oleh untuk teman-teman yang hendak pulang kampong setelah puas keliling Aceh. 

Menjelajah Aceh Demi Menggenapkan Mimpi Ibunda Tercinta

suatu senja di Bakongan, Aceh Selatan
foto : safariku.com
Dua tahun lalu, saya sangat begitu membenci kata “reuni sekolah”. Bukan tak ada sebab, melainkan begitu banyak sebab yang mengharuskan saya membenci dua kata tersebut. Saban kali harus reuni baik dengan teman-teman smu di Banda Aceh, sampai alumni kampus entah itu di Aceh atau kampus di Jakarta.

Saban kali berkumpul, ini seolah menjadi ajang membanggakan diri. Ada yang sudah memiliki rumah sendiri. Ada yang sudah berhasil beli mobil mewah. Jabatan keren di perusahaan. Ada yang menjadi pemilik perusahaan. Dan berbagai hal yang menjadi tolak ukur keberhasilan serta kemapanan. Lah saya? Tak berani sedikitpun diri ini membanggakan diri dihadapan teman serta sahabat di masa-masa kegantengan begitu maksimal.

Jelajah Negeri Pedir Bersama Datsun

Saat para riser datsun experiece 2 menuju laweung
sumber foto detik.com 
Iri, wajar saja. Ketika melihat beberapa sahabat di ibukota negeri ini begitu mudahnya diundang oleh merk mobil ternama untuk merasakan sensasi berkenderanya. Saya, blogger di pelosok negeri hanya bisa menjadi pembaca setia mereka. Lalu, dalam hati berujar, semoga tahun depan saya juga bisa merasakan hal yang sama. 

Satu hal yang selalu saya yakini adalah, Mimpi dan Doa sebuah sahabat yang tak bisa dipisahkan. Dan, itu semua terjawab beberapa hari lalu ketika seorang sahabat mengabari kalau ada panggilan untuk mengikuti Datsun Riser Expedition 2 dengan rute, Banda Aceh-Sigli-Banda Aceh. 

Rute ini, jujur, tidak terlalu menarik. Mengapa? Karena pada prinsipnya, kabupaten sigli sampai saat ini bukanlah termasuk salah satu daerah yang diunggulkan pariwisatanya. Mentok-mentok, Lingkok Kuwieng. Sebuah ngarai yang katanya, menyerupai grand canyon, tapi terletak di kecamatan Padang Tijie, Sigli. Selebihnya? Hampir tidak ada.

peta indonesia, yang bermakna acara ini akan berlangsung di seluruh indonesia
Demi menuntaskan hasrat dan penasaran, seperti apa sih rasanya menjadi seorang riser yang dipercayakan mereview mobil keluaran terbaru, sembari menjelajah kampung halaman sendiri. Ajakanpun saya iyakan. Surat ijin mengemudi berlabel A menjadi syarat utama. Saya yang sangat anti dengan pengurusan SIM, akhirnya berdamai dengan keadaan. Akhirnya, sim A itu saya ajukan dan selesai dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Hari yang dinanti tiba. Peserta terdiri 6 orang dari Jakarta (5 orang) dan Bandung (1 orang) serta dari Aceh sendiri ada 6 orang. Total, 12 peserta riser. Menariknya, ada dua peserta beretnis thionghua. Dan salah satu dari mereka, Timothy, adalah partner satu team dengan saya ditambah bang Ari kus yang merupakan wartawan dari MNC. 

Segala ekspektasi yang “nggak banget”, perlahan mulai terkikis. Mulai dari acara pelepasan di Dealer Datsun Banda Aceh, acara ini mulai terlihat berbeda. Sampai berbagai macam cerita dan sudut padang dari Timo (panggilan saya ke Timothy), terhadap Aceh. 

Di awali dengan konvoi keliling kota Banda Aceh, yang secara de facto, sudah sangat familiar, akan tetapi saya menjadi histeris sendiri ketika setiap perempatan lampu merah, Route Captain mengintruksikan melalui Racom untuk tetap terus jalan. Ada mobil polisi voorijder yang terus mengaung sepanjang perjalanan. 

“Busyet..biasanya saya yang berhenti di lampu stop kalau ada rombongan pejabat lewat. Tapi hari ini saya yang lewat dan orang lain yang berhenti.. keren!” norak memang, tapi disinilah bahagianya. Kapan lagi coba? 

Tujuan awal, dalam rangkaian Datsun Riser Expedition 2 Banda Aceh – Sigli adalah Museum Aceh. Biasa? Tunggu dulu! Bagaimana bila ke museum Aceh lalu disambut dengan tarian Ranup Lampuan? Sebuah tarian selamat datang bagi orang-orang yang dianggap penting. Tolong garis bawahi, dianggap penting! Bangga dong, secara seumur-umur dapat tari ranup lampuan itu pas acara intat Linto (mengantar pengantin pria ke rumah pengantin wanita). Lah ini? 

tari Ranup Lampuan
Siang menjelang, cuaca Banda Aceh menunjukkan taringnya. Setelah seminggu hujan dan angin kencang, siang itu Banda Aceh panas. Perjalanan keliling kota Banda Aceh berakhir di sebuah rumah makan khas Aceh. Lagi-lagi, saya kaget luar biasa. Makanan yang tersaji semuanya “kelas Satu” dan lebih kerennya itu adalah unlimited orderan. Mau nambah? Silahkan. Mau bawa pulang? Ntar dulu ya.. hehe

Perjalanan berlanjut menuju ke daerah bekas kerajaan Pedir, Pidie. Jika biasanya saya dan keluarga menyusuri lembah seulawah untuk bisa sampai ke kota Sigli. Tidak kali ini. Team Datsun memaksa mobil dengan ban ring 13 ini melewati jalan lintas Krueng Raya-Laweung. Bagi penggila touring Aceh pasti tahu jalur ini. Parah! Berliku, menanjak, dan berbatu. Serunya dimana? Ini lagi-lagi adalah jalur impian saya. Sudah lama saya ingin melewati jalur ini. Saban kali bertanya kepada teman, setiap itu pula mereka mengatakan “jangan”! 

andaikata dapat bawa pulang hehe
Tikungan demi tikungan, tanjakan demi tanjakan, mobil LCGC ini terus melaju. Sesekali Timo nyeletuk, “enak ternyata ya di Aceh bang Yud” dalam hati saya merasa bangga sekaligus miris. Sepertinya Timo mabuk gulai kambing. Jalan jelek begini dibilangnya enak? Apa tidak salah? Sepanjang perjalanan dari bukit soeharto di krueng raya, sisi kiri memang menawarkan pemandangan yang luar biasa. Bukit, dan laut. Sebuah perpaduan sempurna, bukan?

Tibalah kami, di sebuah gua yang berapa tak jauh dari jalan Laweung-Sigli ini. Gua tujuh. Lagi-lagi saya terperanjat tak percaya. Seumur-umur baru kali ini saya masuk ke gua tujuh yang cerita sudah saya dengar semenjak saya kecil. Ada banyak cerita mistis, mitos, dan legenda yang mengelilingi gua kuno ini. (lain waktu akan saya ceritakan lebih detail)

adakah yang bisa menemukan wajah ikan?
Puas menjelajah gua, Route captain memaksa saya dan team untuk segera melaju ke jalanan beraspal kembali. “Main course” dari acara ini ada di desa Dayah Tanoh, Kecamatan Garot, Kabupaten Pidie. Di mana pula itu? Jangan tanya kepada saya. Pun ini adalah (lagi-lagi) kunjungan pertama saya ke desa tua ini. 

Dari jalan provinsi, kami berbelok ke kanan. Untuk selanjutnya memasuki kecamatan Garot, Pidie. Tak ada informasi apapun yang saya dan team terima mengenai desa ini. Yang saya tahu, kami mau makan malam di desa ini. Alamak.. jalanan berbatu, penerangan minim. Di kejauhan terlihat nyala api yang berkedip-kedip tertutup rimbun pohon bambu. 
disambut sama tarian rapai geleng di desa Dayah Tanoh Sigli
sumber foto : detik.com
Beberapa warga sudah berkumpul. Tua muda berdiri berjejer di depan pintu masuk dayah (balai pengajian). Wanita berdiri di sebelah kiri, pria di sebelah kanan. Satu persatu mereka tersenyum. Ada yang terheran-heran melihat Timothy yang beretnis thionghua. Ada yang mencoba curi-curi pandang melihat beberapa wartawan yang sibuk mengambil gambar. Bau harum dari bambu yang di isi leumang mulai menganggu konsentrasi. Terlebih lagi ketika leumang disajikan bersama kuah santan bercampur durian. Hiks..kolestrol..

Bu Kulah, nasi yang dibungkus dengan daun pisang lengkap dengan lauk..
Tak sedikitpun dalam benak saya, kalau acara datsun yang awalnya terkesan biasa saja, memiliki surprise yang luar biasa. Sebuah konsep ekowisata mencoba diperkenalkan secara tidak langsung. Baik kepada peserta maupun kepada masyarakat setempat. Tarian rapai geleng menjadi salam pembuka bagi saya dan team. Di sambut dengan tepukan tangan yang membelah langit malam. Hidangan makanan bak acara lintoe baroe tersaji sempurna di dalam dayah. Lengkap dengan bu Kulah. Lagi lagi, sajian makanan ini hanya untuk tamu-tamu yang dianggap penting. Betapa bahagianya saya, ketika merasakan sensasi “kampong Aceh” era tahun 80an. Kala konflik belum merebut masa kecil saya. 

nyan hai.. na cina nak foto selfie.. neudong laju..beugaya dek.. bah keunong foto” (nah lho, ada orang cina mau foto selfie, cepat berdiri. Bergaya terus dek, biar bisa ikutan foto) seorang ibu berjilbab hitam yang berdiri dibelakang saya nyeletuk kepada anak perempuannya. Ini, bukan kali pertama saya dianggap mirip orang cina, mirip wakil ketua DPRA Aceh lah, mirip apoy wali band lah, dan ntah mirip siapa lagi. 

saat dikirain orang "cina"  (saat malam hari..)
Saya hanya tersenyum melihat tingkah polah masyarakat kampung dayah tanoh malam itu. Ketulusan, keramahan, dan keikhlasan yang luar biasa dalam menerima tamu jauhnya. Saya, timo, dan irwan yang cina tulen tetap di sambut meriah tanpa pernah membedakan warna kulit. Tanpa membedakan agama, suku dan ras. Jujur, saya merasa begitu bangga dengan masyarakat Aceh di desa kecil ini. Jauh berbeda dengan masyarakat Aceh yang sudah sok kota. 
ini abang semalam kan? yang cina aceh itu kan? celetuk seorang anak gadis di samping saya
“dong laju beubagah dek.. ta selfie dua teuh” (cepat berdiri dek, kita selfie berdua) ungkap saya tiba-tiba yang disambut dengan tawa riang ibu-ibu dibelakang saya. 

awak Aceh cit lagoe.. lon pike ureung cina.. (orang Aceh ternyata, kirain orang cina)

&&&


Foto kiriman hikayatbanda.com (@yudiranda) pada

Untuk kamu yang pengen ikutan acara Datsun Riser Expedition 2 yang akan berlangsung di seluruh indonesia sampai bulan maret 2017 mendatang, silahkan daftar di sini





.:: VOTE FOR ACEH ::.

Aceh sedang mengikuti Kompetisi Pariwisata Halal Nasional. Berlangsung sejak 26 Agustus – 15 September 2016.

Jika menang di kategori yang masuk nominasi, akan mewakili Indonesia pada ajang World Halal Travel Award 2016 di Dubai.

Silakan vote demi kemenangan Aceh di Kompetisi Pariwisata Halal Nasional untuk kategori 1, 2, 10, 14 lewat laman:


Pantai Segara dan Solaris Hotel Kuta yang Penuh Pesona

Pantai Segara dan Solaris Hotel Kuta yang Penuh Pesona

Bali memang selalu mendapat tempat di hati. Semua spot di Bali memiliki daya tarik tersendiri. Pantai Kuta adalah salah satu bagian dari keindahan pulau ini dan menjadi Primadona bagi setiap pengunjung yang datang. Apalagi lokasinya yang berada sangat dekat dengan Bandara Ngurah Rai. Tak heran jika obyek wisata yang satu ini selalu ramai dan jadi pilihan favorit bagi wisatawan local maupun mancanegara. 

Tak jauh dari Pantai Kuta, ada Pantai Segara yang masih dalam wilayah pesisir Pantai Kuta. Pantai Segara juga menawarkan pengalaman lain yang cukup berbeda dari kebanyakan pantai di Bali. Pantainya cukup tenang dengan ombak yang tak begitu besar, beberapa perahu juga Nampak berjejer di bibir pantai berpasir putih ini. Pemandangan tersebut semakin menambah kekhasan Pantai Segara dengan beragam aktivitas nelayan lokal yang selalu sibuk di wilayah pantai ini.

Pantai Segara dan Solaris Hotel Kuta yang Penuh Pesona

Di Pantai Segara tak pernah kehabisan pesonanya, kamu bisa meliha pemandangan berupa aktivitas pesawat dan juga panorama menarik saat senja tiba. Perahu yang berjejer di bibir pantai dengan warna-warna cerahnya, tentu bisa jadi bidikan menarik lensa kamerakamu. Tetapi bidikan paling cantik itu saat mengambil view dengan latar sunset, saat warna biru langit berubah menjadi merah keemasan yang mengagumkan.

Keindahan sunset juga bisa kamu nikmati sembari menyantap makanan di café dekat Bandara Ngurah Rai. Kamu bisa menunggu jadwal keberangkatan pesawat di sekitar pantai ini. Bahkan banyak jugaloh yang sengaja datang ke pantai ini lebih awal sebelum melakukan penerbangan di Bandara Ngurah Rai.

Ada hal penting yang perlu kamu tahu, bahwa Pantai Segara mempunyai nama lain yakni Pantai Jerman. Jadi, jangan bingung ya jikaa da yang menyebut pantai ini dengan sebutan Pantai Jerman. Bahkan nama tersebut lebih popular sejak pertama kali obyek wisata ini dikenalkan ke masyarakat. Pantai ini juga pernah dijadikan sebagai pelabuhan dan juga kompleks perumahan yang dihuni oleh orang-orang Jerman saat masa penjajahan Belanda. Namun seiring perkembangan zaman, secara berangsur-angsur, pelabuhan tersebut tak beroperasi lagi.

Pokoknya Pantai Segara bisa jadi pilihan menarik selain Pantai Kuta, suasana pantainya juga lebih alamiah. Kamu juga bisa bermain pasir dan berenang di pantai ini, ditambah lagi suasana pantainya yang sepi, ombaknya yang tenang dan nuansa budaya local masih sangat terasa di pantai ini. Lalu lintas perahu nelayan local yang selalu sibuk di Pantai Segara akan membuatmu semakin intens bertemu dengan nelayan secara langsung. Bahkan kamu bisa membeli hasil tangkapan laut mereka yang masih segar.

Pantai Kuta dan Segara memang berjarak cukup dekat, yakni sekitar 1.5 km. Kamu bisa menggunakan sepeda untuk menuju Pantai Segara dan akan menghabiskan waktu sekitar 25 menit jika ditempuh dari Pantai Kuta. Dan di antara kedua wilayah pantai ini, terdapat banyak hotel berbintang yang mempunyai akses sangat mudah menuju ke laut. Hotel yang paling dekat dengan pantai ini adalah Solaris Hotel Kuta.

Pantai Segara dan Solaris Hotel Kuta yang Penuh Pesona

Hotel bintang tiga ini mulai beroperasi sejak akhir tahun 2012. Sebelumnya, Solaris Hotel Kuta bernama Solaris Kuta. Lokasinya sangat strategis dan berada di Jalan Wana Segara Tuban Bali. Bahkan Solaris Hotel Kuta ini hanya berjarak sekitar 1.2 km dari Bandara Ngurah Rai. Jadi akan sangat memudahkan kamu saat melawat ke Bali.

Pantai Segara dan Pantai Kuta berjarak sangat dekat dengan Solaris Hotel, yakni sekitar300 meter. Hotel ini cukup menarik dengan tampilan suith bathroom yang cantik dan juga pool bar di ruang terbuka yang cukup luas. Suasana di sekitar kolam renang sangat sejuk, di sekitarnya juga tersedia kursi-kursi yang nyaman untuk bersantai dan menikmati suasana sekitar.Apalagi harganya terbilang murah, pokoknya sangat ramah buat kantong kamu.

Untuk mendapatkan kemudahan dalam pengecekan hotel dan juga pemesanannya, kamu bisa menghubungi situs booking online Traveloka untuk mendapatkan harga termurah dan terbaik.
Hotel ini memberikan fasilitas yang cukup baik, Pengelola menyediakan fasilitas parker secara gratis. Kamu juga bisa meminta jasa jemputan atau penyewaan mobil kepihak hotel. Soal kamarnya juga tak diragukan lagi, meskipun hotel berbintang 3, hotel ini tertata sangat rapih, dengan interior desain khas Bali dan menggunakan warna-warna tanah yang tidak terlalu mencolok. Warna putih, coklat dan krem mendominasi interior di setiap ruangan hotel ini.

Pantai Segara dan Solaris Hotel Kuta yang Penuh Pesona
Jika wisatawan belum punya mata uang rupiah, bisa menghubungi pihak hotel untuk melakukan penukaran uang. D’Pine Restoran yang ada di hotel ini juga menyediakan sarapan menu nusantara dan internasional. Nilai plus lainnya, tak hanya restoran yang menyediakan menu lezat, hampir semua ruangan di hotel ini menyediakan spot dan tempat yang nyaman,juga homey saat dikunjungi.

Hotel ini juga memiliki akses yang sangat mudah dan cepat untuk menuju pusat perbelanjaan seperti Lippo Mall, Centro, juga Discovery Shopping Mall. Pokoknya asyik dan pas banget buat persinggahan saat berwisata ke Kuta Bali. Selain dapat kenyamanan menginap, kamu bisa setiap saat mengunjungi Pantai terdekat, Jadi makin lengkap dan berkesan deh Liburan di Kuta Bali.

Pantai Segara dan Solaris Hotel Kuta yang Penuh Pesona

Bagaimana? Ingin mencoba menjelajah ke pantai di Kuta Bali yang belum pernah kamu kunjungi? Atau mungkin ini akan jadi pengalaman menarik kamu saat liburan di Pulau Bali. Tunggu apalagi, jadwalkan segera liburan kamu ke Pantai Segaraya! ;)




Pantai Pasie Saka, Aceh Jaya; Jangan Mati di Sini

Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
 “Sekali ada yang meninggal di sini, kami satu minggu tidak ke laut. Atau sampai mayatnya ketemu. Baru kami akan ke laut lagi.”
*****
Siang menjelang sore, awal dari perjalanan panjang saya dan keluarga untuk menyusuri sisi barat Aceh hampir saja tersangkut di kabupaten Aceh Jaya. Kala itu seorang pemuda desa Jeumpheuek berbicara dengan nada sedikit tegas ketika saya meminta ijin untuk memasuki salah satu daerah wisata di kabupaten Aceh Jaya. Pantai Pasie Saka.
Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
Total ada 4 bukit yang harus di naiki...
Sedari awal perjalanan dari Banda Aceh ke Pantai Pasie Saka, saya sudah curiga. Fakhri dan makmur, berganti-gantian memainkan handphone mereka. Hanya untuk memastikan kalau rombongan kami (saya dan keluarga beserta 4 teman blogger Aceh lainnya) bisa masuk ke pantai yang mulai naik daun di awal tahun lalu. Entah berapa orang sudah yang mereka hubungi. Saban mereka memutuskan pembicaraan, raut wajah mereka berdua sama. Kecewa. Itu artinya, benar bahwa pantai pasie saka tutup!

Jujur, sempat terlintas rasa kecewa yang sangat besar ketika saya mendengar update-an dari rekan seperjalanan kali ini. Tapi, jalanan yang sudah ditempuh, mobil yang sudah di sewa, serta anak-anak yang kadung ikut, tak mungkin kami surut walau selangkah. Kita nekat!

Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
Dari jalanan Banda Aceh-Aceh selatan, tepat pada kilometer 116, mobil yang kami pacu dari Banda Aceh ini, berbelok ke sebelah kanan. Memasuki sebuah desa dengan susunan rumah bantuan pasca tsunami lalu. Sesekali, masih terlihat sisa bangunan hancur yang muncul dari balik semak belukar. Selang beberapa menit, sampailah kami di ujung jalan. Tertulis sayup-sayup, desa Jeumpheuk. Beberapa pemuda berdiri di ujung jalan. Ada yang sedang bersantai di bawah pohon. Ada yang sedang duduk menghisap rokok di bawah rumah panggung.

“Hanjeut jak dek!” ( tidak boleh jalan dek) ketika makmur dan fakhri mencoba menjelaskan maksud dan tujuan kami datang ke desa mereka. Desa ini, merupakan desa terakhir sebelum akhirnya kami bisa mencapai sebuah pantai “tersembunyi” dengan tekstur pasir putih seperti gula. Menurut kabar yang beredar, nama Pasie Saka ( Pantai Gula) memang di ambil dari tekstur pasirnya yang sangat menyerupai gula pasir.

Mereka, pemuda yang ada dihadapan saya, bersikukuh untuk tetap melarang kami melanjutkan perjalanan menuju ke pantai “gula pasir”. 

“Dek, neutulong meuphom siat. Menyoe na yang meuninggai lam laot, sigoe minggu kamoe hana meulaot. Kiban dapue kamoe?” Dek, tolonglah mengerti kami sedikit saja. Andaikata ada yang meninggal di laut (di seputaran desa) satu minggu kami tidak melaut. Bagaimana dapur kami akan berasap?

Saya, istri, dan teman lainnya terdiam dan berdiri mematung. Saya melemparkan pandangan ke Fakhri. Berharap ia bisa mencairkan suasana yang mulai menyamai udara Aceh Jaya yang memang panas. Syukurnya, Fakhri, pria tambun ini paham apa yang harus dilakukannya sesegera mungkin. Dan, tak perlu waktu lama. Suasana mencair dan solusi diberikan.

Tidak boleh ikut anak-anak dan istri. Hanya pria saja, ijin dulu ke pak Keuchiek (kepala desa) dan harus bersama guide dari desa. Deal!

Pantai Pasie Saka
Ironi, mungkin ini adalah kata yang cocok untuk mengambarkan keadaan desa Jeumpheuk. Di satu sisi, mereka mengharapkan pemasukan dari sector pariwisata. Di sisi lain, mereka juga tak ingin bila tidak ke laut. Saya akhirnya mengerti. Tempat yang indah ini “terpaksa” ditutup. Bukan salah mereka sebagai pemililk lahan. Tapi salah pengunjung yang tak pernah mau mengerti local wisdom desa tersebut.

Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
Tapak demi tapak saya susuri semak belukar dan jalan setapak yang menanjak. Sesekali saya masih bisa mendengar suara Ziyad yang mencoba memanggil saya. Dia ingin ikut, tapi kesepakatan adalah kesepakatan. Merusaknya, sama dengan merusak hati masyarakat setempat. Berat memang, tapi semua ada harga yang harus di bayar.

Sepanjang jalan menuju Pantai Pasie Saka, bang Hamdan, Guide kami, menjelaskan bahwa ini sedang musim angin barat. Ombak laut sedang besar-besarnya. Kami di himbau untuk tidak mendekati pinggir laut sedikitpun. Kalau tidak mau berakhir dengan korban yang meninggal karena mencoba Selfie di salah satu sudut batu karang di tepi pantai Pasie Saka.

Kami semua mengangguk. Dan, tak lama, debur ombak terdengar mendentum layaknya meriam yang menyerang kapal. Beberapa ekor monyet berlarian ketika kami menyambangi pesisir pantai.
“Ini ya bang?” Tanya saya kepada bang Hamdan.

“bukan, masih dibalik bukit itu” sambil menunjuk ke sebelah kanan dari tempat kami berdiri. Alamak, masih harus naik bukit lagi? Dengan senyum manis, bang hamdan menjawab, bahwa masih ada dua bukit lagi yang harus ditapaki.

Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya

Belum sempurna nafas yang tersengal (inilah yang membuat saya malah trekking hiks) sudah harus menapak lagi. Waktu terus berjalan, mentari sudah mulai sore, deburan ombak masih berdegup sempurna.

Saya hanya terdiam. Makmur, Fakhri, Khairul, dan Zulvan duduk berjajar ditepian bukit. Memandangi arah yang sama. Melepas penat dan menikmati ciptaan Tuhan yang luar biasa. Sekeping syurga yang diturunkan di desa Jempheuk, kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya. Betapa ini begitu indah, hingga wajarlah banyak orang yang ingin mendatanginya. Berlarian dipasirnya yang lembut dan bak gula pasir. (minus manisnya doang).
Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
Hari itu, saya mengerti banyak hal. Bang Hamdan, Pasie Saka, desa Jempheuk dan wisatawan yang direnggut maut, semuanya menjadi sebuah frame besar. Saya jadi teringat akan percakapan saya dengan seorang penggiat Kawasan Ekosistem Leuser, beliau mengatakan;
“manusia hari ini aneh, masa alam yang diminta beradaptasi kepada manusia. Bukannya seharusnya manusia yang beradaptasi dengan alam”
Bukan Pantai Pasie Saka yang salah karena ombak besarnya, tapi salah manusia yang lebih mengedepankan egonya. 


&&&
Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
Additional Information  (By Makmur Dimila) :
  1. Selanjutnya jika ingin ke Pasi Saka, pengunjung wajib lapor ke Keuchik Jeumpheuk, untuk diarahkan dengan siapa dan bagaimana cara mencapai lokasi objek wisata itu.
  2. Bawalah bekal sendiri ke Pasi Saka, dengan membelinya di supermarket atau kedai-kedai yang dijumpai di Jalan Nasional Banda Aceh – Aceh Selatan.
  3. Saat seramai sebelum kejadian naas itu, satu kelompok turis dikenakan biaya Rp150 ribu/trip (maks 10 orang). Sekarang, beri saja sesuai dengan pelayanan sang pemandu, jika tak ingin dikatakan seikhlasnya.
  4. Sebaiknya datang di Musim Angin Timur, ketika angin bertiup dari barat, sehingga laut tidak bergelombang.
  5. Datang di musim angin apapun, wisatawan dilarang mandi di Pasi Saka, karena arusnya dalam.
  6. Pantai ini cocok untuk camping ground, trekking, dan x-trail/tourbike.

Cerita lain tentang perjalanan "Susuri cahaya aceh dari pantai barat" yang di sponsori oleh Dinas Pariwisata Provinsi Aceh adalah sebagai berikut :