Pantai Pasie Saka, Aceh Jaya; Jangan Mati di Sini

Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
 “Sekali ada yang meninggal di sini, kami satu minggu tidak ke laut. Atau sampai mayatnya ketemu. Baru kami akan ke laut lagi.”
*****
Siang menjelang sore, awal dari perjalanan panjang saya dan keluarga untuk menyusuri sisi barat Aceh hampir saja tersangkut di kabupaten Aceh Jaya. Kala itu seorang pemuda desa Jeumpheuek berbicara dengan nada sedikit tegas ketika saya meminta ijin untuk memasuki salah satu daerah wisata di kabupaten Aceh Jaya. Pantai Pasie Saka.
Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
Total ada 4 bukit yang harus di naiki...
Sedari awal perjalanan dari Banda Aceh ke Pantai Pasie Saka, saya sudah curiga. Fakhri dan makmur, berganti-gantian memainkan handphone mereka. Hanya untuk memastikan kalau rombongan kami (saya dan keluarga beserta 4 teman blogger Aceh lainnya) bisa masuk ke pantai yang mulai naik daun di awal tahun lalu. Entah berapa orang sudah yang mereka hubungi. Saban mereka memutuskan pembicaraan, raut wajah mereka berdua sama. Kecewa. Itu artinya, benar bahwa pantai pasie saka tutup!

Jujur, sempat terlintas rasa kecewa yang sangat besar ketika saya mendengar update-an dari rekan seperjalanan kali ini. Tapi, jalanan yang sudah ditempuh, mobil yang sudah di sewa, serta anak-anak yang kadung ikut, tak mungkin kami surut walau selangkah. Kita nekat!

Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
Dari jalanan Banda Aceh-Aceh selatan, tepat pada kilometer 116, mobil yang kami pacu dari Banda Aceh ini, berbelok ke sebelah kanan. Memasuki sebuah desa dengan susunan rumah bantuan pasca tsunami lalu. Sesekali, masih terlihat sisa bangunan hancur yang muncul dari balik semak belukar. Selang beberapa menit, sampailah kami di ujung jalan. Tertulis sayup-sayup, desa Jeumpheuk. Beberapa pemuda berdiri di ujung jalan. Ada yang sedang bersantai di bawah pohon. Ada yang sedang duduk menghisap rokok di bawah rumah panggung.

“Hanjeut jak dek!” ( tidak boleh jalan dek) ketika makmur dan fakhri mencoba menjelaskan maksud dan tujuan kami datang ke desa mereka. Desa ini, merupakan desa terakhir sebelum akhirnya kami bisa mencapai sebuah pantai “tersembunyi” dengan tekstur pasir putih seperti gula. Menurut kabar yang beredar, nama Pasie Saka ( Pantai Gula) memang di ambil dari tekstur pasirnya yang sangat menyerupai gula pasir.

Mereka, pemuda yang ada dihadapan saya, bersikukuh untuk tetap melarang kami melanjutkan perjalanan menuju ke pantai “gula pasir”. 

“Dek, neutulong meuphom siat. Menyoe na yang meuninggai lam laot, sigoe minggu kamoe hana meulaot. Kiban dapue kamoe?” Dek, tolonglah mengerti kami sedikit saja. Andaikata ada yang meninggal di laut (di seputaran desa) satu minggu kami tidak melaut. Bagaimana dapur kami akan berasap?

Saya, istri, dan teman lainnya terdiam dan berdiri mematung. Saya melemparkan pandangan ke Fakhri. Berharap ia bisa mencairkan suasana yang mulai menyamai udara Aceh Jaya yang memang panas. Syukurnya, Fakhri, pria tambun ini paham apa yang harus dilakukannya sesegera mungkin. Dan, tak perlu waktu lama. Suasana mencair dan solusi diberikan.

Tidak boleh ikut anak-anak dan istri. Hanya pria saja, ijin dulu ke pak Keuchiek (kepala desa) dan harus bersama guide dari desa. Deal!

Pantai Pasie Saka
Ironi, mungkin ini adalah kata yang cocok untuk mengambarkan keadaan desa Jeumpheuk. Di satu sisi, mereka mengharapkan pemasukan dari sector pariwisata. Di sisi lain, mereka juga tak ingin bila tidak ke laut. Saya akhirnya mengerti. Tempat yang indah ini “terpaksa” ditutup. Bukan salah mereka sebagai pemililk lahan. Tapi salah pengunjung yang tak pernah mau mengerti local wisdom desa tersebut.

Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
Tapak demi tapak saya susuri semak belukar dan jalan setapak yang menanjak. Sesekali saya masih bisa mendengar suara Ziyad yang mencoba memanggil saya. Dia ingin ikut, tapi kesepakatan adalah kesepakatan. Merusaknya, sama dengan merusak hati masyarakat setempat. Berat memang, tapi semua ada harga yang harus di bayar.

Sepanjang jalan menuju Pantai Pasie Saka, bang Hamdan, Guide kami, menjelaskan bahwa ini sedang musim angin barat. Ombak laut sedang besar-besarnya. Kami di himbau untuk tidak mendekati pinggir laut sedikitpun. Kalau tidak mau berakhir dengan korban yang meninggal karena mencoba Selfie di salah satu sudut batu karang di tepi pantai Pasie Saka.

Kami semua mengangguk. Dan, tak lama, debur ombak terdengar mendentum layaknya meriam yang menyerang kapal. Beberapa ekor monyet berlarian ketika kami menyambangi pesisir pantai.
“Ini ya bang?” Tanya saya kepada bang Hamdan.

“bukan, masih dibalik bukit itu” sambil menunjuk ke sebelah kanan dari tempat kami berdiri. Alamak, masih harus naik bukit lagi? Dengan senyum manis, bang hamdan menjawab, bahwa masih ada dua bukit lagi yang harus ditapaki.

Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya

Belum sempurna nafas yang tersengal (inilah yang membuat saya malah trekking hiks) sudah harus menapak lagi. Waktu terus berjalan, mentari sudah mulai sore, deburan ombak masih berdegup sempurna.

Saya hanya terdiam. Makmur, Fakhri, Khairul, dan Zulvan duduk berjajar ditepian bukit. Memandangi arah yang sama. Melepas penat dan menikmati ciptaan Tuhan yang luar biasa. Sekeping syurga yang diturunkan di desa Jempheuk, kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya. Betapa ini begitu indah, hingga wajarlah banyak orang yang ingin mendatanginya. Berlarian dipasirnya yang lembut dan bak gula pasir. (minus manisnya doang).
Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
Hari itu, saya mengerti banyak hal. Bang Hamdan, Pasie Saka, desa Jempheuk dan wisatawan yang direnggut maut, semuanya menjadi sebuah frame besar. Saya jadi teringat akan percakapan saya dengan seorang penggiat Kawasan Ekosistem Leuser, beliau mengatakan;
“manusia hari ini aneh, masa alam yang diminta beradaptasi kepada manusia. Bukannya seharusnya manusia yang beradaptasi dengan alam”
Bukan Pantai Pasie Saka yang salah karena ombak besarnya, tapi salah manusia yang lebih mengedepankan egonya. 


&&&
Wisata Halal Aceh, Pantai Pasie Saka Aceh Jaya
Additional Information  (By Makmur Dimila) :
  1. Selanjutnya jika ingin ke Pasi Saka, pengunjung wajib lapor ke Keuchik Jeumpheuk, untuk diarahkan dengan siapa dan bagaimana cara mencapai lokasi objek wisata itu.
  2. Bawalah bekal sendiri ke Pasi Saka, dengan membelinya di supermarket atau kedai-kedai yang dijumpai di Jalan Nasional Banda Aceh – Aceh Selatan.
  3. Saat seramai sebelum kejadian naas itu, satu kelompok turis dikenakan biaya Rp150 ribu/trip (maks 10 orang). Sekarang, beri saja sesuai dengan pelayanan sang pemandu, jika tak ingin dikatakan seikhlasnya.
  4. Sebaiknya datang di Musim Angin Timur, ketika angin bertiup dari barat, sehingga laut tidak bergelombang.
  5. Datang di musim angin apapun, wisatawan dilarang mandi di Pasi Saka, karena arusnya dalam.
  6. Pantai ini cocok untuk camping ground, trekking, dan x-trail/tourbike.

Cerita lain tentang perjalanan "Susuri cahaya aceh dari pantai barat" yang di sponsori oleh Dinas Pariwisata Provinsi Aceh adalah sebagai berikut :

Pulau Tailana, Sensasi Liburan Keluarga Di Pulau Pribadi

Pulau Tailana, Sensasi Liburan Keluarga Di Pulau Pribadi
Yuks main pokemon? foto by : makmur dimila
  Sesaat saya sempat meragu untuk melanjutkan perjalanan famtrip SUSURI CAHAYA ACEH DARI PANTAI BARAT. Sakit yang di derita oleh kedua anak saya tak kunjung pulih. Alih-alih berkurang, demamnya semakin tinggi. Beberapa kali saya menawarkan agar piknik kali ini hanya berakhir di Aceh selatan saja. Cukup sampai di sini.


Ada rasa tak nyaman ketika harus membawa mereka untuk meneruskan perjalanan yang terbilang cukup jauh. Banda Aceh-Aceh singkil, berjarak kurang lebih 17 jam perjalanan darat. Sebuah perjalanan terjauh yang akan ditempuh oleh Ziyad, dan bilqis. Ditambah 4 jam penyeberangan laut dari pelabuhan laut singkil ke Pulau Balai.

Pesona Aceh Selatan; Hati-Hati Dimarahi! #CahayaAceh

wisata halal aceh
sunset di pantai daerah bakongan, Aceh Selatan
“Hei!, tidak sholat?” sergah seorang bapak tua kepada saya, sembari ia terus tergopoh-gopoh masuk ke dalam pelataran masjid Agung Istiqamah, kota Tapaktuan, Aceh Selatan.
Bilqis masih terus merajuk dengan sesekali menangis. Bocah kriwil ini, kalau sudah merajuk dia memang sedikit sulit untuk dirayu. Sejuta rayuan pulau kelapa tak laku padanya. Ziyad, lain hal. Bila dia sudah menyenangi sesuatu, maka akan sulit untuk dilarang. Sepanjang perjalanan dari Banda Aceh menuju Aceh selatan, untuk selanjutnya ke Aceh Singkil, ziyad dan bilqis sedang tidak sehat.

Sesekali mereka berdua batuk. Sesekali demam tinggi. Perjalanan sudah memasuki setengah jalan. Tidak mungkin mundur kembali ke Banda Aceh yang berjarak delapan jam jalan darat. Saya mencoba menguatkan hati. Begitupun dengan istri, ini perjalanan kami terjauh bila akhirnya kami berhasil menginjakkan kaki ke Pulau Banyak.

Foto kiriman hikayatbanda.com (@yudiranda) pada

Kami tidak hanya berempat, melainkan ada 4 orang lagi rekan se-team Famtrip Susuri Cahaya Aceh di Pantai Barat. Beberapa rekan sempat mengkhawatirkan keadaan kedua bocah saya, tapi, resiko sebuah perjalanan keluarga dengan jarak tempuh hampir 21 jam via darat adalah sesuatu yang harus ditanggung oleh saya dan istri.

Perkarangan masjid Agung istiqamah kota tapaktuan memang tidak sebesar dan semegah masjid Agung kabupaten/kota lainnya di provinsi Aceh. Muadzin telah mengumandangkan iqamat dengan bertalu-talu. Saya masih duduk di pelataran masjid. Mendiamkan bilqis yang masih saja menangis sembari diselingi batuk. Ziyad telah lari mengejar ibunya ke ruangan wudhu khusus wanita.

Selembar kain sarung berwarna hitam dengan motif khas Aceh gayo saya bentangkan untuk menyelemuti tubuh anak gadis berambut kriwil ini. Dan,

Tragedy terjadi…

“Hei!, tidak sholat?” sergah seorang bapak tua kepada saya, sembari ia terus tergopoh-gopoh masuk ke dalam pelataran masjid Agung Istiqamah, kota Tapaktuan, Aceh Selatan. Mukanya serius. Air mukanya yang teduh menyiratkan bahwa ia sepertinya serius mengatakan hal tersebut kepada saya. Iya, kepada saya yang duduk sembari sibuk mendiamkan bilqis.

Pesona Aceh Selatan; Hati-Hati Dimarahi! #CahayaAceh
suasana di dalam masjid Agung Tapaktuan (foto by : wisataaceh.net/zlvn.net)
Seribu bahasa saya terdiam. Dengan berusaha tersenyum, saya katakan kalau saya sedang menjaga anak. Sedangkan ibunya, tengah ambil wudhu. Si bapak yang berpakaian kemeja biru tersebut tersenyum. Dengan suara yang begitu ramah, ia meminta saya untuk bisa tetap shalat walaupun keadaan sedikit sulit.

Saya bingung, seolah tak percaya. Terakhir kali saya ditegur seperti ini di kota Banda Aceh, itu, sekitar 20 tahun lalu. Sekarang? Kota Banda Aceh mulai menjelma menjadi salah satu kota metropolitan. Ah, teguran bapak tadi membuat saya rindu kisah syahdu di masa lalu.


*****  
“Dari mana nak? Sepertinya kalian bukan anak-anak tapaktuan ya?” masih di tapaktuan Aceh selatan. (lagi-lagi) seorang bapak tua, cukup tua malah. Bila dilihat dari gigi geliginya yang sudah rontok satu persatu. Kami terdiam. Terperanjat seolah tertangkap basah sedang mencuri keindahan pantai yang di kecamatan Sawang.

Ntah, dari mana, tetiba bapak yang belakangan saya tahu bernama Abdul Muthaleb, lahir di kota Medan tapi memutuskan menghabiskan masa tuanya di Aceh, muncul tepat disamping saung tempat saya dan rekan lainnya berteduh dari panasnya mentari siang. Di tepi jalan nasional Banda Aceh – Aceh Selatan, di desa lhok pawoh, sawang, aceh selatan.

Fakhri, mencoba menjelaskan siapa dan apa yang sedang kami lakukan. Beliau hanya mengangguk-angguk. Lalu berujar “Ayo ikuti saya, di kampong saya ada air terjun yang cukup bagus tapi belum di angkat media”

Eh? Kok?

Dengan sepeda BMX yang terlihat tua, seperti tubuh rentanya, ia mengayuh dengan penuh semangat. Kontur jalanan yang naik turun bukit tak menjadi masalah baginya. Kami? Hanya mengikutinya dengan perlahan. Tentu saja dengan mobil.  

Pesona Aceh Selatan; Hati-Hati Dimarahi! #CahayaAceh

Sepuluh menit kemudian, sebuah wahana alam yang keren tersaji dihadapan kami semua. Ziyad, dan bilqis bersorak gembira. Deburan air yang menabrak bebatuan cadas membuat sakit mereka hilang. Yang terpenting, lagi-lagi saya tersenyum dengan “teguran” seorang pria tua dari Aceh selatan ini. Tanpanya, mungkin air terjun “Tuwie Lhok” ini tidak pernah kami jumpai selama perjalanan menyusuri Aceh Selatan.

Cerita demi cerita mengalir menyejukkan seperti aliran air terjun yang membawa hawa sejuk ditengah siang yang terik di Sawang. Perlahan, saya merasa salut akan semua cerita yang terukir dari dirinya. Sosoknya begitu ramah.

wisata halal aceh
air Terjun Tuwie Lhok, di desa Lhok pawoh, Aceh Selatan
wisata halal aceh
air terjun Air Dingin di Aceh Selatan
 Inilah sebenarnya pesona dari Kabupaten Aceh Selatan itu, keramahan penduduknya yang tiada tara. Mereka tak memandang pendatang sebagai sesuatu yang menganggu. Seharian saya mengelilingi Kabupaten yang terkenal dengan legenda Tuan Tapa melawan naga ini, saya mendapatkan sebuah pelajaran menarik. 

Tapaktuan ternyata begitu sejuk di hati. Raut muka yang ramah berbalut senyum manis dari bibir yang mengembang. Bersanding dengan pesona alam yang luar biasa. Maka sungguh, sangat sayang bila setiap kali perjalanan menyusuri pantai barat Aceh, kamu tidak menyinggahi kabupaten Aceh selatan, tempat awal mula legenda Tapaktuan berasal.

wisata halal aceh
Pantai Air Dingin Aceh Selatan
&&&

Perjalanan ini disponsori oleh Dinas Pariwisata Aceh, dalam rangka Branding The Light Of Aceh dan Wisata Halal Aceh

Semangat Pagi Dari Pulau Balai, Aceh Singkil #CahayaAceh

Wisata  Aceh pulau banyakl #TheLightOfAceh
anak anak di pulau Balai Aceh Singkil, laut adalah taman bermain bagi mereka
Saya beruntung, penyeberangan dari pelabuhan Jembatan Tinggi, Aceh Singkil ke pulau balai tak menemui kendala berarti. Angin yang sedari kemarin bertiup cukup kencang, saat itu, diam dan mematung.

Lautan berubah layaknya sungai. Tak berombak. Hanya beriak dan mengalun pelan. KM mutiara bahari menarik sauhnya. Lalu merayap perlahan keluar dari mulut kuala Jembatan Tinggi. Semakin menuju tengah laut, kapal kayu yang bermuatan 30 GT ini, semakin kencang. Sesekali, bang Musdar, sang pemilik sekaligus kapten kapal menyapa dengan ramah.

7 Tempat Wisata Unik Di Banda Aceh

7 Tempat Wisata Unik Di Banda Aceh
taman putroe phang banda aceh, foto by : Rinaldi Ad

Wisata Banda Aceh, bukan hanya tsunami track. Bukan hanya masjid raya Baiturrahman yang menjadi icon provinsi Aceh. Banda Aceh, walaupun kecil, ternyata masih bisa menyuguhkan hal-hal menarik lainnya.
Hal yang sederhana, misalnya, kehidupan pasar pagi di seputaran pasar Aceh. Pasar Aceh ini, konon katanya telah ada sejak jaman kesultanan Aceh dahulu. Kehidupannya, nyaris tak berubah. Walaupun rongrongan pertumbuhan pasar-pasar baru di Banda Aceh terus menghantui pasar Aceh, tapi dia tetap menjadi primadona.

Secara tak sengaja, saya akhirnya menyusun 7 destinasi tempat wisata yang tak biasa. Yang menurut saya, ini unik dan bisa membuat kita menikmati sesuatu darinya. Berikut ini adalah tujuan destinasi wisata unik di Banda Aceh :

  • Pagi Di Pelabuhan Ikan Lampulo


Bila pagi menjelang, dan kalian bingung hendak kemana di Banda Aceh, maka tak ada salahnya kalian mencoba bermain ke pelabuhan Ikan Lampulo. Pelabuhan pendaratan ikan samudra ini, baru saja diresmikan tahun lalu.

Menariknya, kegiatan bongkar muat ikan di pagi hari yang dilakukan oleh para nelayan dan agen ikan menimbulkan sebuah irama kehidupan yang unik. Ikan yang tertumpuk-tumpuk, berkeranjang-keranjang. Tersusun rapi berjejer di pinggir bibir dermaga.

Potret kehidupan seperti ini begitu sayang dilewatkan begitu saja. Apalagi, bila kamu punya sedikit uang dan ingin nanti malam makan ikan bakar, kenapa tidak beli saja? Seplastik ikan hanya 10.000 rupiah saja.

  • Sensasi Kuburan Tua Segala Lini
7 Tempat Wisata Unik Di Banda Aceh

Mungkin,bila saya katakan kalau Banda Aceh mempunyai sebuah kerajaan besar dulunya, tak seorangpun akan percaya. Mengapa? Karena di Aceh, anda tidak akan menemui bekas reruntuhan istana ataupun kerajaan.  Bangunan jaman kerajaan Aceh dahulu hanya tersisa satu-satu. Semisal gunongan, dan taman putroe phang. Selebihnya?

Nah, beruntungnya, sebagai pusat kerajaan Aceh Darussalam, Banda Aceh menyimpan begitu banyak “misteri”.  Salah satunya adalah banyaknya makam-makam kuno yang terserak hampir di seluruh sudut kota. Mulai dari dekat terminal bus, sampai mendekati Bandara. Mulai dari pinggir sungai sampai ke tengah pemukiman penduduk.

Apa yang menarik dari nisan-nisan tersebut? Nisan Aceh, adalah salah satu nisan ynag mempunyai aksara dan cerita disetiap nisannya. Setiap nisan juga berbeda tahun dan Negara asal sang batu. Hmm.. penasaran?
  • Ngopi Di Kubra
kedai kopi beurawe foto by : google

Coba Tanya sama orang Banda Aceh, kalau sehabis shubuh mereka minum kopi di mana? Sebagian besar akan menjawab Kubra! Kubra, adalah singkatan dari kupi Beurawe. Seperti kopi solong, nama Kubra juga tak kalah tenar.  Menariknya, kubra buka selepas shubuh dan tutup menjelang magrib. Berbeda dengan kopi solong yang buka pada pagi hari dan baru tutup pada malam hari.

Mau lihat bagaimana masyarakat kota Banda Aceh ramah tamah selepas shubuh dan membicarakan segala hal? Silahkan mampir di kubra selepas shalat shubuh.

  • Jalan-jalan ke Taman Walikota Nusantara

Pengen ngadem di Banda Aceh yang terkenal panas? Mungkin Taman Kota BNI Banda Aceh solusinya. Saya lebih suka menyebutnya taman walikota nusantara. Taman ini terletak tak jauh dari universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Tepatnya di desa tibang.

Kenapa saya menyebut taman walikota nusantara? Karena ketika kamu bermain didalamnya, kamu akan menemukan Sebuah taman yang berisi pohon-pohon khas dari seluruh nusantara. Mulai dari walikota  kota Sabang, sampai walikota kota Jayapura, Papua. Total secara keseluruhan 99 Walikota dari kota di Indonesia menanam bibit pohon khas kotanya masing-masing. 

Cukup variatif dan cukup bermanfaat bagi generasi muda, yang ingin mengetahui pohon-pohon asli Indonesia. Bahkan, kabarnya, Walikota dari salah satu kota di Belanda, juga ikut menanam bibit pohon di taman Walikota Nusantara ini

  • Main Ke Kelenteng

Banda Aceh bukannya semua muslim ya? Kok bisa ada kelenteng? Percaya tidak percaya, di Banda Aceh juga ada “pecinan” yang bernama peunayong. Pemukiman ini sebenarnya juga termasuk salah satu pemukiman kuno di Banda Aceh. Etnis thionghua telah hidup di Banda Aceh selama lebih ribuan tahun.

Ada terdapat 4 vihara di Banda Aceh di seputaran Peunayong: Vihara Sakyamuni, Vihara Dewi Samudera, Vihara Maitri dan Vihara Dharma Bhakti. Keempat vihara tersebut memiliki aliran yang berbeda-beda tetapi tetap berada di bawah naungan Budhayana. Dan, kamu boleh memilih sesuka hatimu untuk mencoba berwisata religi versi lain dari Banda Aceh.

  • Keliling Pasar Sayur Peunayong

Nah, ini dia salah satu pasar tradisional yang sudah berumur ratusan tahun. Pasar yang telah ada sejak jaman kerajaan kesultanan Aceh berdiri ini, masih menempati posisi awalnya. Pun, sebagian besar penghuninya masih sama. Etnis thionghua.

Pasar yang tak pernah mati ini, terlebih lagi semenjak konflik mereda, pasar ini memang terlihat tak ada matinya. 24 jam nonstop. Mau cari jengkol? Ada. Mau cari rambutan? Ada. Mau cari penganan masa kecil? Ada. Bahkan saya dengan senang hati melepas kedua bocah saya di dalam pasar. Aman? Aman dong.. ini Banda Aceh kawan.
  • Shalat Di Masjid Tua Ulee Kareng
7 Tempat Wisata Unik Di Banda Aceh
foto by google
Jujur,bila melihat padatnya pemukiman ulee kareng, sebuah kecamatan yang merupakan asal muasal kopi ulee kareng ini, kita tidak akan percaya. Di pemukiman yang padat ini, ada sebuah masjid yang sangat bersejarah bagi kota Banda Aceh. Orang-orang menyebutnya sebagai masjid Tua Ulee Kareng.

Mesjid ini didirikan oleh Sayyid Al Mahalli, seorang ulama dari Arab. Beliau datang bersama anaknya dan Tgk Di Anjong untuk mensyiarkan ajaran Islam. Menariknya, kalian tidak harus pergi ke Indrapuri untuk melihat masjid yang masih dipertahankan bentuknya dari jaman kerajaan Aceh dulu. Cukup melipir sehabis minum kopi di simpang tujuh Banda Aceh, eh udah ketemu.

Shalat, dan duduknya sejenak. Nikmati setiap sisi unik dari masjid tua ini. Ukirannya, tonggak kayu, ornamennya. Dan setiap sudut ruangannya.

&&&

Lalu, apa masih berani bilang kalau ke Banda Aceh hanya ingin ke museum tsunami dan kapal apung saja? Rugi tahu!


Mau enak? Jangan ke Aceh!

wisata halal aceh

Males ah ke Aceh, nggak ada bioskop. Nggak bisa bebas pake baju apa aja. Peraturan daerahnya saklek. Suka mati lampu, susah nyari angkutan umum.
Jaringan selular tidak semuanya nyala. Mall masih se-alakadarnya. Tidak ada dunia “malam”. Apa-apa syariat, apa-apa tidak bebas.

Lalu untuk apa ke Aceh bila tidak bisa seru-seruan layaknya di tempat lain atau di kota besar lainnya. Bukankah berliburan atau berwisata itu butuh kesenangan?

Tidak, itu sama sekali tidak salah. Apa yang kalian rasakan tentang Aceh, benar. Di Aceh memang tidak sama seperti tempat lainnya di Negara Indonesia ini. Perihal jilbab saja, sampai hari ini saya harus menjelaskan panjang lebar. Belum lagi perihal penerapan hukum yang sebagian berlandaskan syariat Islam.

Dan, disinilah letak kesalahan para pendatang atau wisatawan ke Aceh. Mereka mengharapkan “Eropa” atau “Bali” di Aceh. Ini sama seperti anda ke papua, lalu anda berharap mendapatkan pizza asli Italia yang lezat tersaji di atas meja makan. Begitupun bila anda ke Aceh. Jangan berharap Aceh akan memberikan pelayanan setingkat Bali atau Bandung. Aceh masih jauh dari itu semua. Akan tetapi, berharaplah sesuatu yang tak pernah anda temukan dari daerah lain.
Baca juga : Ke Aceh Tidak Perlu Pakai Jilbab!
Berlibur ke Aceh, memang tidak akan memberikan apa yang anda inginkan. Melainkan apa yang Aceh punya. Masyarakat yang masih ramah dan ringan membantu sesama. Makanan yang masih alami, jauh dari hal-hal yang mengerikan.

the light of aceh
danau laut tawar, aceh tengah

Nuansa alam yang teduh, serta adat dan budaya yang membuat kalian bisa betah duduk berlama-lama di sudut desa. Atau, bila anda menginginkan hal yang “ekstreme”, sekali waktu, ikutlah menyaksikan orang di cambuk karena mesum atau mabuk. Antara ngenes sama exciting. Bercampur menjadi satu. Rasanya? Seru!

Di Aceh, kalian akan menikmati hidup bak petualang sejati. Mengukir nasib sendiri diatas tangan dan kaki sendiri. Menghilang dari lorong kesibukan dunia untuk bisa menikmati dunia dengan diri sendiri. Di sini, masih banyak laut yang belum didatangi orang ramai. Untuk mencapainya, dibutuhkan tenaga dan keberanian yang besar. 

Kenapa? Pertama, tempatnya masih tersembunyi dan sangat sulit di akses. Kedua, bisa dipastikan jarak tempuhnya tidak sebentar. Otomatis, kita butuh tenaga yang besar. Belum lagi dengan hewan liar. Yups, beberapa tempat di Aceh masih sedikit “wild”. Jadi, sesekali ketemu hewan liar sebangsa babi, gajah, dan ular adalah hal yang lumrah.

Bila ke Aceh, jangan cari kebab, tapi carilah kue leumpeng. Penganan khas dari Aceh besar ini punya rasa manis nan unik. Terbalut rapi dengan daun pisang dan dibakar di atas bara. Jangan cari spaghetti di Aceh. Tapi carilah kelezatan mie tumis Aceh yang terkenal seantero dunia. Dan, bayangkan betapa makyusnya kepiting payau berbalut dengan pedasnya mie Aceh. Sluurp.. intinya, kuliner di Aceh juga “gila”. Tergantung seberapa kuat anda menahan hawa nafsu untuk mematahkan ketatnya program diet.

Walaupun media nasional dan international mengatakan kalau Aceh itu tidak aman bagi pendatang. Walaupun di mana-mana diperlihatkan kalau Aceh selalu ribut dengan sesamanya. Tapi tahukah kamu? Aceh salah satu kota yang aman di Indonesia. Jalan-jalan ke pasar anda tidak perlu mengenggam tas seperti anda berjalan di tanah abang atau pasar minggu, Jakarta.
the light of aceh
postingan di facebook saya, tentang kamera saya yang hilang
Saya, pernah tertinggal kamera di sebuah warung kopi yang baru pertama kali itu saya duduk. Dan saya baru “ngeh” kalau kamera saya hilang seminggu kemudian. Yups Seminggu! Dan kamera itu masih selamat! Ini belum lagi cerita ketika hampir saban hari saya ketinggalan kunci motor di motor butut saya yang terparkir sempurna di jalanan ibukota. (apalagi kalau di sabang, hampir semua orang tak peduli dengan hal ini)

Ya begitulah adanya Aceh. Tidak ada yang “mudah” di Aceh. Berkeliling kota harus menyewa kenderaan. Akan tetapi, itulah sensasi petualangan.
Mau enak? Jangan ke Aceh. Karena ke Aceh itu, enak banget!

Selamat Berpetualang Di Provinsi Paling Barat Indonesia

the light of aceh
danau aneuk laot, pulau Weh, Sabang, Aceh

the light of aceh
sesekali, saya numpang narsis di blog sendiri :D

Meulingge, Pesona Desa Di Ujung Barat Indonesia

wisata Aceh, desa meulingge pulau breuh, Aceh Besar
Bangunan berwarna merah berselang putih membubung tinggi tepat dihadapan. Tingginya 85 meter terhitung dari titik didirikan. Warna cat merah dan putih terang membuatnya terlihat begitu menyilaukan. Bak bendera Negara Indonesia berkibar diantara hijaunya hutan dan birunya samudra.

Saya tak henti berdecak kagum. Berdiri dihadapan sebuah karya yang begitu luar biasa ini, membuat saya tampak begitu kecil. Menara ini begitu tinggi menjulang. Semakin ke atas, semakin kecil. Di ujung atas terlihat ruangan berkaca lengkap dengan lampu bulat yang bisa berputar. Angin laut yang terus menerus menerpa wajah bersamaan dengan panasnya mentari siang menjadi sebuah simfoni tersendiri di hati.

Ramadan Di Aceh, Saatnya mengejar Kuliner Khas Perang Aceh

Ramadan Di Aceh, Saatnya mengejar Kuliner Khas Perang Aceh
bahan-bahan untuk membuat kuah Keumamah Aceh (foto by rubama nusa)

Ramadan telah berada di penghujung. Keriuhan selama Ramadan yang menghiasi kota Banda Aceh akan segera berakhir. Lantunan bocah yang mengaji di muhasalla dari tengah malam sampai menjelang sahur bisa dipastikan selalu mengaung-ngaung rata sudut kota.

Saban malam, terlihat lebih hidup dari pada malam-malam biasanya. Mulai dari banyaknya kuliner yang buka sampai larut malam, sampai warung kopi yang kembali hidup setelah terawih berakhir dengan shalat witir.

Yah Ziyad, beli sambai peugaga Yuks?” Pinta istri saya di suatu sore. Tahun ini, adalah tahun pertama kalinya saya berkenalan dengan sebuah “makanan” khas Aceh yang satu ini. Menurut penuturan almarhum nenek. Sambai peugaga ini adalah salah satu makanan khas perang Aceh di masa lalu.