Tujuan Wisata Budaya Di Kota Solo “Keraton Surakarta Hadiningrat”

Solo merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang dapat kamu jadikan tujuan wisata. Kota Solo memiliki kekayaan seni budaya yang unik dengan ciri khas kebudayaan Jawa yang kuat. Kunjungan ke kota tersebut dapat menjadi satu paket kunjungan kamu ke Yogyakarta karena jarak yang tidak begitu jauh.

Salah satu tema wisata yang menarik ketika mengunjungi Solo adalah kunjungan wisata dengan tema budaya, selain itu wisata belanja juga tidak kalah menarik mengingat Solo memiliki banyak produk batik yang khas dan menarik. Salah satu tujuan wisata bertema budaya yang dapat kamu jadikan tujuan kunjungan adalah keraton surakarta di solo yang merupakan bagian penting dari perkembangan budaya masyarakat Jawa di Jawa Tengah.

Ingin Nikahi Gadis Aceh? Jangan jadi Blogger!

Jangan mau jadi Blogger, begini nasibnya kalau sudah nikah
Sudah hampir setahun ini saya sering diragukan keseriusan dalam mengurusi keluarga saya, oleh mertua. Pekerjaan yang tak menentu, pagi-pagi tidur, malam bergadang sampai shubuh. Menantu macam apa saya ini? Pemalas!

Menggigil Di Teduh Hostel Kuta Tua, Jakarta

Eh gila lu Yud, tidur di tempat ginian? Udah lu tidur di sini lagi aja.”

Muka Farid, teman  saya dari jaman ngeblog multiply dulu berubah menjadi serius.  Baginya, walaupun saya pernah tinggal di Jakarta selama 5 tahun ketika kuliah dulu, bukanlah sebuah jaminan kalau saya akan aman di kota besar ini. Ya, saya percaya, segala sesuatu selalu ada “first time”. Kekhawatirannya cukup beralasan. Gambar yang muncul di layar komputer Farid memperlihatkan deretan ruko dengan warna cat yang kusam. Hitam seperti deretan bangunan tak berurus. Dan…

Ya.terkesan sedikit Creepy tapi...(foto by hikayatbanda.com)
Creepy, begitulah kesan awal yang terlihat. Atas dasar itulah Farid, merasa sedikit keberatan. Mungkin dia Lupa, kalau temannya ini, pernah ribut dengan hantu tsunami. Apalagi kalau nanti sampai ribut dengan hantu Belanda dari Kota Tua, mungkin ini akan menjadi sebuah pengalaman menarik lainnya, bukan?

Niat saya bulatkan. Ojek online saya pesan. Saya bersikeras untuk tetap naik ojek dari Perumnas Klender ke Kota Tua. Walaupun Farid berulang-ulang meminta untuk mengantarkan saya ke tempat tujuan.  Saya menolaknya berkali-kali pula. Kapan lagi? Mumpung ada di Jakarta, kan?

*****
much better kan hehehe (foto by hikayatbanda.com)
Mas, ini selimut, lampu usb, dan kunci lokernya.” Pria muda yang menjadi resepsionist sekaligus bell boy melayani saya dengan cukup ramah. Beberapa bule terlihat santai di depan Tv berlayar flat dengan tata ruangan lobby bak sebuah rumah sendiri. Warna hijau muda menghiasi dinding berselang putih tampak begitu rapi dan nyaman. Senyaman dua orang pria asing yang terlihat begitu serius menonton film.

Saya masih terpaku di depan pemuda tadi. Memandangi seluruh isi ruangan lobby hostel. Dan, yang lebih membuat saya bingung lagi adalah tiga benda yang berada di tangan saya sekarang ini. “ ini untuk apa? Saya hanya membatin sendiri.

foto by : teduh-hostel.com
di sini silahkan sesuka hati (foto by hikayatbanda.com)
Sambil berpura-pura mengerti, saya mengikuti pria tadi “mas, ini dapur kita. Silahkan minum kopi dan teh kapanpun Mas mau. Ini Jadwal makan paginya, dan di sini, silahkan mas layani diri sendiri. Anggaplah ini rumah sendiri. Saya hanya mengangguk-angguk. Lalu saya dipaksa untuk mengikutinya naik ke lantai atas.

Satu persatu anak tangga saya tapaki. Naik terus sampai ke lantai tiga, ruko yang disulap menjadi sebuah penginapan. Jujur, kesan creepy yang tadi saya lihat bersama farid di layar PC sama sekali tidak benar! Bangunan samping-samping hostel memang terlihat kusam. Berbeda jauh dengan bangunan Teduh Hostel yang lebih rapi, bersih dan tertata. Pandangan pertama yang terlintas, ini memang benar-benar teduh. Seperti namanya, Teduh Hostel Kota Tua.

Sesampai di kamar, saya semakin termangu dengan tirai yang menjuntai dari langit-langit sampai ke lantai kamar.  Sepertinya, untuk memisahkan ruangan satu dengan lainnya. Tapi, bukan masalah tirainya, yang ingin saya ributkan. Akan tetapi, lebih kepada warnanya. Kenapa harus warna putih sih?

Tempat tidur saya, tidak jauh dari pintu. Ukurannya tidak lebih dari 1 x 2,2 meter. Seperti capsul bed yang saya lihat di acara jalan-jalan ala backpacker di jepang. Setiap penghuni kamar akan disatukan dalam satu ruangan besar lalu tidur di tempat tidur yang di susun lebih menyerupai rak buku. Masing-masing mengambil bagiannya sendiri. Ada yang double caps, ada yang single. Saya kebagian yang single. Dekat pintu, sejajar dengan lorong kamar, dan hanya dibatasi dengan sebuah tirai tidur yang berwarna cream.

Selimut, kunci, dan lampu USB (foto by hikayatbanda.com)
double pod (foto by Teduh-hostel.com)

*****
“hey so hot here?”

Suara seorang wanita bule tiba-tiba terdengar di tengah malam buta. Saya mencoba menyalakan lampu USB, lalu diam tak bergerak. Jangan-jangan…

Tiit..tit..tit..nguuuuu…

Suara air conditioner tiba-tiba mengeras dan kencang. Suhu udara kamar semakin turun. Apa-apaan ini? Ternyata, seorang wanita bule yang tadi baru saja tiba dari entah berantah, menempati  capsul berseberangan dengan capsul saya, keluar dari kotak tidurnya. Dengan ehem pakaian tidur dan ehem celana kancutnya sedang berdiri mengamati AC yang tadi dia turunkan suhunya menjadi semakin dingin.

Kalian tahu bagaimana panasnya Banda Aceh kampung halaman saya? Malam di sana itu suhu normal hanya turun sampai 24 derajat celcius dan saya tidur sudah menggunakan selimut. Lah ini? 16 derajat, dari dua AC ukuran 1 PK sekaligus memenuhi ruangan yang sudah penuh dengan capsul. Dan ini sudah jam 2 pagi waktu Jakarta! Oh Tuhan.. di pagi yang buta ini, saya memang Engkau berikan anugerah yang baru ini saya dapati depan mata. Tapi mengapa harus Engkau uji saya dengan suhu sedingin ini?

Jadilah malam itu, adalah malam terdingin yang pernah saya nikmati. Jaket, celana jeans, kaus kaki, selimut, dan baju dalam dua lapis. Semua itu belum berhasil membuat saya berhenti menggigil sampai shubuh! Saya mengigil sampai pagi!

Di satu sisi, ini adalah sebuah pengalaman yang begitu berharga. Bagi saya, anak kampung, tidur di sebuah hostel yang semua settinggannya lebih ke Backpaker adalah hal baru. Tidur di kasur berbentuk kapsul, kamar mandi yang dipakai bersama-sama dengan bule. Eh, maksud saya kamar mandi yang bisa dipakai siapa saja. Bersih, nyaman, ada rak sepatunya, ada ruangan khusus wastafel, ada ruangan khusus merokok, bisa minum kopi 24 jam gratis (hidup kopi pre!) adalah sebuah kombinasi yang sempurna. Lebih keren lagi, para backpacker asing tak henti-hentinya mereka masuk dan check in di hostel yang “sederhana” ini.
Ketika Pagi  (foto by hikayatband.com) 
dan.. ketika malam hihi(foto by hikayatband.com) 
Tapi, sedikit yang menurut saya kurang “sreg” adalah sarapan paginya. Roti tawar, selai kacang, dan teh atau kopi. Walaaah… ini sih sarapan pagi bule bukan orang melayu macam saya. Tapi, secara keseluruhan, saya harus setuju dengan Trip Advisor yang memberikan nilai 4,5 dan 8,5 dari Agoda.com. Tempat ini memang nyaman, tidak terkesan creepy kecuali tirai putih yang menjuntai itu hehe. Pelayanannya juga ramah.

ini dia sarapan paginya

Sayang, pagi itu saya harus segera meninggalkan Hostel untuk kembali mengejar agenda yang tersisa di Jakarta. Salah satunya? Nonton film di bioskop, hahaha

 &&&

Jalan Pintu Besar Selatan No. 82M Jakarta
021-6900 939

NO Silop area (foto by hikayatbanda.com)
Smoking Area (foto by hikayatbanda.com)
(foto by hikayatbanda.com) 
Lorong kamar mandi (foto by hikayatband.com)
Fun Fact :
  • Hanya 5 Menit bila ingin ke Stasiun Kota Jakarta.
  • Bukan hanya free Wifi, anda juga bisa minum kopi dan the sepanjang hari sampai kembung.
  • Harga kamar mulai dari 9 $ untuk single bed.
  • Walaupun masih berumur hampir 2 tahun, tapi tamunya ruame beud! Dan rata-rata bule bo!
  • Price include Breakfast!
  • Ah, hampir lupa, kalian juga boleh main Play Station sepuas hati




Bebek Kuntilanak, Sensasi Bersantap Gulai Bebek di Pelosok Aceh.

Bang, belok sini. Nanti kalau ketemu simpang, abang belok kanan. Jangan ke kiri. Kalau ke kiri nanti abang masuk hutan dan di sana banyak hantunya bang” 
Bebek Kuntilanak, Sensasi Bersantap Gulai Bebek di Pelosok Aceh.
sesaat setelah gerimis.. menuju ke rumah makan Bebek Kuntilanak

Seorang bocah kecil berkain sarung memanggul kitab suci menjelaskan arah ketempat tujuan saya malam itu. Beberapa bocah seusianya tertawa terbahak ketika mendengarkan penjelasan dari temannya yang tak fasih berbahasa Indonesia.

Sebenarnya, saya nyasar malam itu. Hujan gerimis masih turun sedari siang. Hawa sejuk masih terus memeluk tubuh ini tanpa henti. Tersesat di sebuah desa yang cukup pelosok dan berpenerangan minim bukanlah hal yang bagus. Beberapa pohon asam jawa berdiri rimbun sepanjang jalan. Kiri dan kanan jalan terhampar pelataran sawah yang luas yang seolah tak berujung. Hanya ada satu dua sepeda motor yang lalu lalang.

Sepanjang perjalanan, saya sudah merasa aneh. Terlebih lagi ketika Zaki, mengajak saya dan keluarga untuk mencoba merasakan masakan khas Aceh besar. Bebek Kuntilanak. Begitulah namanya. Sebuah nama yang tak lazim dan cukup menyeramkan. Rasa penasaran bercampur lapar memaksa saya untuk tetap meneruskan perjalanan yang berliku dan cukup jauh dari pusat kota Banda Aceh.

Bukan perkara mudah untuk sampai ketempat tujuan kami malam itu. 40 menit sudah saya menyusuri jalanan yang gelap. Sampai akhirnya, kami masuk ke sebuah lorong beralas semen sepanjang dua ratus meter. Kiri kanan hanya ada semak belukar yang menelungkupi jalanan. Andaikata ada mobil yang berpapasan dengan kami malam itu, mungkin, salah satu dari kami harus mengalah. Karena jalanan menuju ke tempat tersebut semakin sempit dan hanya bisa dilalui satu mobil pribadi saja.

Bebek Kuntilanak, Sensasi Bersantap Gulai Bebek di Pelosok Aceh.
si empunya Rumah Makan
Desa Turam yang terletak di Kecamatan Peukan Biluy, Kabupaten Aceh Besar ini, dulunya pernah menjadi daerah basis Gerakan Aceh Merdeka atau lebih di kenal GAM. Tak sembarangan orang dulunya berani  masuk ke desa ini. Letusan senjata dan rasa curiga sering mewarnai tempat asal muasal Bebek Kuntilanak ini. Lengkap sudah. Nama yang seram, terletak di pelosok desa, minim penerangan, ditambah lagi, tempat konflik bersenjata RI-GAM. Pikiran saya semakin bergelayut tak menentu. Memikirkan hal-hal yang tak diinginkan. Istiqfar dan memohon perlindungan dariNYA adalah cara terbaik saya membunuh rasa takut yang menghantui sepanjang perjalanan.

Sensasi Rasa Klasik Aceh

Ayah,begitulah orang-orang sekitar menyebut bapak yang kini berumur 56 tahun. Pria yang bernama asli Muhammad Nasir ini, memulai usahanya sejak tahun 1994. Dari mulai menjual nasi pagi, sampai akhirnya beralih ke nasi bebek Kuntilanak.

“Piyoh (mampir), silahkan duduk” sambutnya ramah tatkala saya berhasil menjejakkan kaki ke pintu rumahnya yang sederhana. Senyumnya merekah, ketika saya bersalaman dengannya. Istrinya yang terlihat hampir seumuran dengannya, langsung menyiapkan nasi untuk dihidangkan kepada saya, istri, dan beberapa teman saya yang turut datang malam itu.

Perkiraan saya yang membayangkan sebuah rumah makan yang mewah, sirna seketika. Rumah makan Bebek Kuntilanak ini, hanya beralaskan tikar dua lembar yang di gelar memenuhi sisi kiri kanan lantai. Tak ada pelayan yang cekatan datang menanyakan menu, melainkan hanya Pak Nasir dan istrinya yang melayani setiap tamu yang datang. Dalam bangunan semi permanen dengan ukuran kurang lebih 8 x 6 meter inilah bebek kuntilanak yang terkenal ke penjuru Aceh itu di jual dan disajikan.

Bukan hanya tempatnya yang membuat saya merasa berada di kampung tapi juga rasanya yang klasik. Yups, bebek Kuntilanak ini memiliki rasa klasik dari sebuah masakan ala desa. Aroma rempah khas Aceh yang menyeruak membuat saya tak dapat menahan diri untuk tidak menyantapnya segera setelah dihidangkan di hadapan saya.

Dalam setiap gigitan, saya bisa merasakan U Neulheu (kelapa gonseng yang di giling sampai halus) begitu kental terasa. Di tambah rasa yang gurih dari santan yang berasal dari kelapa “setengah baya” membuat saya sulit untuk tidak mengatakan ini enak sekali! Sesekali ada rasa pedas dari cabai kering dan ada rasa sedikit asam yang berasal dari asam sunti. Yaitu belimbing wuluh yang sudah dikeringkan dan di campur garam.
Bebek Kuntilanak, Sensasi Bersantap Gulai Bebek di Pelosok Aceh.
Bebek Kuntilanak aka Bebek Pak Nasir
Bukan Bebek Kuntilanak, tapi Nasi Bebek Pak Nasir

Rasa penasaran akan pemilihan nama yang unik, membuat saya memberanikan diri untuk bertanya kepada beliau. Sebenarnya dari mana ide untuk pemilihan nama dari warungnya. “"Bukan saya  yang menamakan nasi bebek kuntilanak, tetapi pelanggan sendiri. Mungkin karena saya mulai jualan ketika para kuntilanak baru keluar dari rumahnya kali ya?” Ia tertawa lepas. Geliginya terlihat masih sempurna dan putih.

Wajar saja, beberapa penikmat masakan pak Nasir menyebut warung nasi bebeknya, sebagai bebek kuntilanak. Warung ini buka sejak habis magrib sampai menjelang shubuh. Lalu, terletak di pelosok desa lengkap semak belukar. Sebuah tempat sempurna bagi dedemit untuk membangun sebuah keluarga, bukan?

Bebek Kuntilanak, Sensasi Bersantap Gulai Bebek di Pelosok Aceh.
Bukan Kuntilanak, tapi Pak Nasir :D

Harga jual yang tak terlalu mahal, hanya 12.000 rupiah per lauk-nya. Membuat orang begitu ramai berduyun-duyun untuk mencicipi bebeknya. Kenapa per lauk? Karena setiap kali saya atau siapapun yang ingin menambahkan nasi, silahkan saja. Tak dihitung. Yang di hitung hanya lauknya saja.  Dalam sehari, pak nasir harus menyiapkan bebek sampai 8 ekor/hari. Dan, nasi sampai 3 bambu. Sebuah jumlah yang tak sedikit mengingat tempatnya yang cukup sulit di capai.

Tempat Sederhana Dan Keramahan Warga Lokal

Satu persatu tetamu datang. Ruangan yang tak terluas ini pun mulai terasa sempit. Salah satu tamu yang datang mengatakan kalau ia selalu menyempatkan diri untuk bisa mampir ke warung nasi Bebek pak Nasir saban kali ia berkunjung ke Banda Aceh. Bang Dedi, telah menjadi pelanggan semenjak tahun 2000 lalu. Baginya, bila ke Banda Aceh, tak pas rasanya bila tak mampir ke desa Turam.

Suasana yang hangat di tengah dinginnya cuaca malam membuat siapapun yang duduk di dalam rumah/warung nasi bebek pak nasir menjadi betah. “serasa rumah sendiri kalau makan di sini” begitulah bang Dedi menimpali sebelum akhirnya, ia pamit pulang. Ya, saya harus mengatakan setuju dengan ungkapan bang Dedi. Makan di sini, memang tak terasa layaknya warung nasi seperti biasanya. Melainkan seperti makan di rumah sendiri. Duduk lesehan, air putih ambil sendiri, ingin nasi tambah pun ambil sendiri. Hanya bebeknya saja yang dihidangkan.

Bebek Kuntilanak, Sensasi Bersantap Gulai Bebek di Pelosok Aceh.
tempat mulai penuh padahal semakin malam
Bila sudah begini, siapa yang tak ingin berlama-lama duduk di sini? Tapi, menurut penuturan beberapa pelanggan yang saya temui. Biasanya, tempat pak Nasir akan penuh pelanggan ketika malam jumat tiba. Atau di malam-malam sabtu dan minggu. Bangku-bangku atrian yang terjejer rapi di luar akan penuh. Bahkan, ada yang harus menunggu sembari berdiri. Hanya karena tak dapat tempat di dalam warung.

“Di sini, hanya ada satu aturan. Yaitu tidak boleh makan di luar ruangan. Tidak sopan. Mana ada tamu di perlakukan demikian. Karena kita, orang Aceh pantang berlaku demikian bukan?” tutupnya di malam itu. Benar sekali, bukankah kini, Aceh yang tengah menggalakkan Visit Aceh mengangkat jargon “Peumulia Jamee Adat Geuntayoe (Memuliakan tamu adalah adat kita). Tanpa perlu mengerti jargon visit Aceh, pak nasir dan istrinya, sudah lebih dahulu memuliakan tamu-tamu yang datang ke warung nasi bebeknya semenjak 13 tahun silam.

Semua Masih Alami

Insya Allah mandum bumbu mantong alami ( insya Allah semua bumbu masih alami). Saya tidak menggunakan penyedap, seperti ajinomoto dan semacamnya. Memasaknya masih menggunakan tungku api. Menghaluskan bumbu-bumbu masih menggunakan lesung kayu. Nasi yang kamu makan juga masih di tanak menggunakan tungku api. Jadi, wangi nasinya” Pak Nasir menjelaskan perihal resep rahasia dari Bebek Kuntilanak-nya.

Menurutnya, dengan demikian, orang-orang yang memakan masakannya tidak akan terkena penyakit. Karena semuanya ia racik sendiri tanpa menggunakan bumbu berbahan kimia. Saya semakin lahap.

“Ayah, saya tambah satu piring lagi!” Zaki ternyata lebih dulu habis. Padahal, sedari tadi dia hanya diam saja. Sedangkan saya? Saya sibuk mendengarkan cerita sang empunya bebek Kuntilanak ini.

Bebek Kuntilanak, Sensasi Bersantap Gulai Bebek di Pelosok Aceh.
foto taken by : ahmad Zaki

Fun Fact :
  • Makan nasi bisa sepuasnya, karena yang dihitung hanya lauknya saja
  • Peminat paling ramai adalah anak-anak mahasiswa karena bisa makan sepuasnya
  • Bila datang malam jumat, anda di wajibkan memesan tempat terlebih dahulu ( 085238502520 Pak Nasir)
  • Anda tersesat? Itu sudah biasa. Karena anda bukan yang pertama kali tersesat ketika hendak ke warung tersebut.



* Di muat pada majalah Getaway Magazine edisi bulan Mei 2016*

Bebek Kuntilanak, Sensasi Bersantap Gulai Bebek di Pelosok Aceh.

Di Muat di Majalah Getaway Magazine! Edisi Mei 2016 Rubrik Love Indonesia



 “Bang, belok sini. Nanti kalau ketemu simpang, abang belok kanan. Jangan ke kiri. Kalau ke kiri nanti abang masuk hutan dan di sana banyak hantunya bang” 
Seorang bocah kecil berkain sarung memanggul kitab suci menjelaskan arah ketempat tujuan saya malam itu. Beberapa bocah seusianya tertawa terbahak ketika mendengarkan penjelasan dari temannya yang tak fasih berbahasa Indonesia.

Sebenarnya, saya nyasar malam itu. Hujan gerimis masih turun sedari siang. Hawa sejuk masih terus memeluk tubuh ini tanpa henti. Tersesat di sebuah desa yang cukup pelosok dan berpenerangan minim bukanlah hal yang bagus. Beberapa pohon asam jawa berdiri rimbun sepanjang jalan. Kiri dan kanan jalan terhampar pelataran sawah yang luas yang seolah tak berujung. Hanya ada satu dua sepeda motor yang lalu lalang.

Tragedy Di Museum Bank Indonesia ; Ketika Aceh Dilupakan

Museum Bank Indonesia, Jakarta
Badan ini, rasanya masih remuk redam. Seharian kemarin, asam lambung naik karena stress di tinggal pesawat. Entahlah, saya tak bisa membayangkan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh mantan hanya karena purnama tak kunjung datang. Sedikit kopi arabika gayo sepertinya dapat membantu untuk menguatkan kembali tubuh yang sudah kurus tak beraturan ini. Tapi, ini Jakarta bukan Aceh!

Mengejar "Mantan" di Jakarta

Tapi kalau kau sampai menikah, kau tak akan pernah lupa bahwa mobil sudah di gerbang! Kami datang untuk membawamu pada Rancho. Tapi hanya karena takut pada orang-orang kau menikahi keledai ini, Phia
Penggalan percakapan Film 3 Idiot ini terus menerus terngiang di telinga. Rashtogi, salah satu pemeran pria dalam film tersebut berusaha menyakinkan seorang wanita, bernama Phia untuk berani melangkah. Mengambil sebuah keputusan besar agar tidak kecewa dikemudian harinya.

Cagar Budaya Kota Tua Jakarta

Cagar Budaya Kota Tua Jakarta
Sumber Foto : wikipedia.org
Tidak sedikit orang yang berpikir mengunjungi Jakarta karena pusat perbelanjaannya yang begitu banyak dan megah. Semua tersedia dimanapun tentunya karena Jakarta terkenal dengan sebutan kota metropolitan. Selain itu untuk wisata hiburan tentunya Jakarta terkenal dengan Taman Impian Jaya Ancol, Kebun Binatang Ragunan, Taman Mini Indonesia, maupun lainnya. Tentunya Monumen Nasional atau yang dikenal dengan Monas tidak pernah terlewatkan karena Monas merupakan ikon dari Ibukota Jakarta. Namun tidak banyak orang yang terpikirkan untuk mengunjungi Museum Bank Mandiri. Salah satu museum yang dimiliki oleh Jakarta selain Museum Fatahillah, Museum Satria Mandala, maupun Museum Wayang dan lainnya.