Mencari Situs Kapal Tsunami Yang Terpendam Di Banda Aceh


Situs Tsunami Kapal KPLP Malahayati
Pemandangan dari atas Kapal PLTD Apung
Situs Tsunami Kapal KPLP Malahayati”Nah, ketemu, motor saya belokkan kekiri. Menyusuri jalan yang sedikit sempit. Lalu berbelok lagi kekanan. Begitu seterusnya. Hingga tak lama, mata saya terperangah.
Saya berani bertaruh, hampir semua  dari kita hanya tahu, jika di Banda Aceh hanya ada dua bangkai kapal sisa tsunami 10 tahun lalu. Pertama, kapal nelayan yang mangkrak di atas rumah penduduk. Yang terletak di desa Lampulo. Dan, yang satu lagi, kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Apung I milik PLN yang juga tergeletak manis di tengah perumahan penduduk desa Punge Blang Cut, Banda Aceh.
Setelah keisengan saya melakukan blog walking, saya baru tahu, ternyata, masih ada kapal yang berukuran cukup besar, yang terdampar terkulai lemas tak berdaya didepan rumah penduduk desa. Ya, bukan di tengah, bukan di atas rumah, tapi di depan rumah masyarakat. Eh, kok? Terganga saya dibuatnya. Ternyata, selama ini, seolah PLTD apung I berhasil menyihir begitu banyak pengunjung untuk melupakan sebuah peninggalan tsunami lainnya.

Penasaran saya dibuatnya.

Masa, setelah sepuluh tahun berlalunya tsunami, saya dan keluarga tidak mengetahui perihal kapal yang nyasar berlabuh ini.  Motor butut kembali menjadi andalan untuk menyusuri jalanan kota Banda Aceh, yang sudah mulai ramai. Terlebih di waktu sore minggu, semua tempat wisata rasa-rasanya ingin meledak. Tumpah ruah masyarakat datang dari penjuru untuk melihat beberapa situs peninggalan tsunami 2004 lalu.

Target awal penjelahan kota Banda Aceh hari minggu lalu, adalah PLTD APUNG I. Cuaca tidak panas, hanya sedikit mendung. Adzan ashar baru beberapa saat lalu selesai berkumandang.  Waktu yang tepat untuk melakukan penjelajahan kota Banda Aceh. Pun, saya masih punya banyak waktu untuk mencari kapal yang menjadi target saya nanti. Takut-takut, kesasar entah kemana. Ya, Banda Aceh memang kota kelahiran saya, tapi semenjak tsunami selesai, semua tatanan kota dan desa terutama yang terkena dampak langsung, sudah hampir berubah total. Saya sering lupa lorong dan jalan yang harus di tempuh.

Motor butut, saya arahkan ke PLTD Apung I, tujuannya, mencapai dek paling atas kapal apung tersebut. Katanya, posisi kapal yang saya cari tersebut ada didekat-dekat situs kapal Apung, artinya, saya akan lebih mudah untuk mencarinya dari ketinggian, bukan begitu? Terlebih lagi, di bagian dek atas kapal apung itu, ada binocular koin. Masukan koin gopek, dia akan menyala selama kurang lebih satu menit. Dengan teropong ini, saya bisa dengan mudah mencarinya. Toh, saya tinggal cari saja moncong kapal diantara perumahan penduduk sekitar situs kapal apung, kan?

Still looking…
Ternyata mencarinya tidak semudah yang saya kira di awal. Saya tidak terbiasa dengan teropong koin ini. Entah sudah berapa gopek yang saya masukkan kedalamnya. Entah beberapa kali saya hanya melihat tupai yang menari layaknya chipmunk di just Alvin – lebay..padahal hanya rimbunnya saja. Akhirnya, dengan sedikit rasa malu, saya bertanya pada bapak penjual koin gopek teropong tersebut. Dimanakah letak kapal yang katanya terdampar didepan rumah penduduk desa Punge Blang Cut. Dengan penuh senyuman, dan menyodorkan koin lagi, dia menunjukkan kira-kira di mana letak tepatnya kapal tersebut. Yah, gopek lagi deh!

Sejurus kemudian, kurang dari semenit, sebelum teropong ini padam, saya telah menemukan Kapal tersebut. Persis seperti yang di katakan oleh bapak penjaja koin dan hasil googling. Tak menunggu lama, saya langsung mengajak anak dan istri untuk segera turun dan pergi ke situs yang tersembunyi tersebut. Si bapak penjaja koin juga menyebutkan rutenya. Ternyata memang tak jauh dari situs kapal Apung. Sekitar 500 meteran. Hanya saja, jalannya sedikit berkelok. Inilah yang saya katakan tadi, terkadang jalan yang berkelok dan hanya beralaskan semen cor suka bikin saya kesasar tak menentu arah.

Berbekal pentunjuk dari bapak tersebut ditambah sedikit rasa ego dan  feeling, akhirnya saya menemukan plang yang tergantung di atas pohon, dan sedikit tertutup rimbun daunnya.
Situs Tsunami Kapal KPLP Malahayati

Situs Tsunami Kapal KPLP Malahayati”. Nah, ketemu, motor saya belokkan kekiri. Menyusuri jalan yang sedikit sempit. Lalu berbelok lagi kekanan. Begitu seterusnya. Hingga tak lama, mata saya terperangah.

 Ada dua buah kapal patroli  yang terdampar disini. Yang paling besar terletak melintang, bagian ekornya sedikit menduduki bagian jalan desa yang sudah cukup sempit. Yang paling kecil, terdampar sedikit ke ujung. Diatas tanah kosong dan hampir-hampir mengenai dapur rumah warga. Dulunya, kapal ini milik Apdel Kesatuan Pengamanan Laut dan Pantai (KPLP) Malahayati Aceh. Namun, sejak minggu pagi tanggal 24 desember 2004 lalu, dua kapal tersebut hanyut dan terbawa ke tengah pemukiman warga.

Waktu mulai beranjak senja. Angin barat sudah mulai berhembus sedikit kencang. Niat hati ingin menaikinya dan memoto bagian dalam kapal tersebut, sepertinya harus di urungkan dulu. Langit juga sudah mulai mendung. Saya hanya sempat mengambil beberapa foto, memasukkan sebagian uang di sebuah kotak sumbangan. Motor kembali saya nyalakan. Kali ini, arah pulang.

Sepanjang jalan pulang, saya berpikir, andaikata semakin banyak orang yang menulis tentangnya, semakin banyak orang yang mengunjungi situs kapal tersebut, mungkin, nanti pemerintah Daerah Kota Banda Aceh akan mau merehabilitasinya. Menjadikannya seperti situs tsunami lainnya di kota banda Aceh. Ya, bisa dikatakan kondisinya mulai sedikit mengkhawatirkan. Tak ada sentuhan tangan Pemda pada situs ini.

Situs Tsunami Kapal KPLP Malahayati


Situs Tsunami Kapal KPLP Malahayati
tak lebih seperti besi tua yang tak berharga


Situs Tsunami Kapal KPLP Malahayati
Jadi taman bermain anak ^__^
Jadi, kenapa tidak anda kunjungi situs tsunami ini, dan ceritakan tentangnya?!
Banda Aceh, 3/3/15
YR

NB: Thx to www.ferhatt.com atas informasinya yang bikin saya penasaran ^_^

Yudi Randa

Saya, menyukai dunia travelling, Mencintai membaca, Mencintai duduk bersama keluarga sembari menikmati secangkir kopi, menyenangi berbagi bersama. Bisa di Hubungi di yudi.randa@gmail.com

10 komentar:

  1. ini masih dihalaman pltd apung kan ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak, kita harus keluar dari halaman kapal apung, tapi masih satu desa. Kira2 300an meter dri kapal apung

      Hapus
  2. satu kata ya bang ... sayang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget Mas.. ini bener2 sayang banget

      Hapus
  3. kemarin itu nyari tapi gk ketemu, mau nanya sama warga karena kepagian jd pada masih tutup pintu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti belum jam 9 pagi ya mbak? Hehehe
      Posisi museum ada di dalam bangunan kapalnya mbak

      Hapus
  4. Udah tahu sih ttg kapal ini, walau belum sampe ke situ. Apa mungkin jadikan warung kopi aja Yud? ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. idenya menarik tuh Bang.. dari pada terbengkalai begitu? dan pemda juga keliatannya g aceh

      Hapus
  5. Sepertinya harus kesini, sebelum meninggalkan banda aceh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.. nanti klo udah g di banda aceh lagi bakalan nyesel loh hehe

      Hapus