Di muat di Koran Kedaulatan Rakyat 11-04-2015

 Banda Aceh seolah tidak pernah hancur lebur. Sepertinya tak ada lagi rasa perih yang dulu menghampiri. Semuanya, kini hanya senyum yang tergambar, membuncah dari dalam diri. Mewarnai langit layaknya sinar matahari senja di pantai Lampuuk sore itu.






Salam

Alhamdulillah, tulisan sederhana saya yang berjudul Bertandang Ke Banda Aceh  di muat oleh Koran Kedaulatan Rakyat dalam rubric Pariwisata. Senang rasaya, ini adalah tulisan yang PERTAMA kalinya di muat oleh media cetak nasional. Tak pernah terpikirkan dan terbayangkan sama sekali. Bermimpi pun saya tak berani. Alhamdulillah.. semoga menjadi langkah awal untuk terus bisa menjadi lebih baik.

Penggalan Artikel :
               
Banda Aceh hanya sebuah kota kecil. Luasnya sekitar 61.36 KM2, tidak lebih luas dari kota-kota besar lainnya yang berada dalam satu pulau. Kendati kecil, Banda Aceh memiliki tempat wisata yang terpusat di tengah kota. Jadi, mudah bagi saya untuk melakukan jelajah wisata di kota ini. Tinggal mengunjugi pusat kota, bisa langsung mendapati banyak tempat wisata. Sebut saja Masjid Raya Baiturrahman, Taman Krueng Aceh, Taman Sari, Museum Tsunami, Museum Aceh, Pendopo Gubernur, Makam Sultan Iskandar Muda, Tugu Pesawat RI 001, dan masih banyak lainnya.

Jika di India ada Taj Mahal, Prasat Hin Phimai di Thailand, dan Inggris punya Kastil Stratford, maka di Aceh ada Gunongan, sebuah bangunan yang di dominasi warna putih. Bentuknya berundak-undak seperti pyramid. Bersegi sepuluh, dan diatasnya terlihat seperti sebuah kelopak bunga mekar. Seperti mekarnya cinta sang Sultan kepada permaisurinya.

Dan seterusnya… (Edisi lengkap ada disini)

Selengkapnya bisa di baca di Koran Kedaulatan Rakyat edisi sabtu 11/4/15 atau bisa di lihat pada epaper Kedaulatan rakyat (http://krjogja.com/)


Banda Aceh, kini menawarkan banyak hal untuk pecinta travelling. Kota kecil ini memiliki objek wisata yang terbilang cukup lengkap. Mulai dari wisata religi, wisata budaya, wisata tsunami (yang bisa di pastikan jarang terdapat di daerah lain di Indonesia) sampai kepada wisata kuliner. Waktu yang dibutuhkan untuk berkeliling semua objek wisata pun tergolong singkat. Hanya dalam waktu dua hari, semua objek wisata bisa di kunjungi. Jadi, tidak usah bingung bila ingin berakhir pekan bersama keluarga dengan waktu dan budget terbatas, Banda Aceh bisa menjadi pilihannya. 



***Thx untuk semua yang telah mendukung dan membantu saya dalam menulis. 

Yudi Randa

Saya, menyukai dunia travelling, Mencintai membaca, Mencintai duduk bersama keluarga sembari menikmati secangkir kopi, menyenangi berbagi bersama. Bisa di Hubungi di yudi.randa@gmail.com

8 komentar:

  1. Selamat. Ikut senang membaca berita ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah..
      bang terima kasih atas dukungannya :)

      Hapus
  2. Jangan berhenti, segera lanjutkan perjuangan.

    Selamat ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Uni insya Allah, perjalanan masih panjang, baru juga start kan uni?
      terima kasih atas dukungannya uni

      Hapus
  3. Selamat ya, Bang... Keren artikelnya (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih ya ka Dee, mohon doanya biar bisa jadi kayak kak Dee

      Hapus
  4. Wah.. Selamat ya, Bang :D

    Aku belom pernah pas senja ke Lampuuk.. Pernahnya pas pagi aja waktu itu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya beb..
      klo nggak sempat ke lampuuk, jangan sedih, ngeliat sunset di banda aceh juga bisa di kampung jawa, alue naga, dan ulee lheue kok.. ini salah satunya beb http://www.hikayatbanda.com/2015/03/berburu-sunset-dari-kuala-cangkoi.html

      Hapus