Friday, June 26, 2015

Aceh Tengah Suatu Ketika...


Danau Lut Tawar, Aceh tengah
Magrib mulai menggelayapi malam dipunggung Seulawah. Awan-awan jingga sudah memudar. Bergantikan kepakan sayap kelewar yang memutari puncak-puncak bukit. Sesekali, dia berdiam di sebuah pucuk pohon pinus. Sesekali dia terbang tanpa arah.
Malam tidak gelap kala itu, purnama yang membiru menemani perjalananku yang tak menentu. Deru mesin jeep mulai mengaung, memecah kesunyian di puncak seulawah. Kabut memutih mulai bergelayut di ranting-ranting pokok cemara. Persis seperti penunggu yang mematung sembari terus mengawasi setiap pengendara yang berlalu lalang. Bergidik bulu romaku dibuat olehnya.

Jalan aspal mulai gembung-gembung. Layaknya bisul pada tubuh busukku. Mobil jeep mulai kehabisan cara, tangki mulai bocor, tapi malam semakin gelap dan dingin. Sesekali, lolongan anjing hutan bersahut-sahutan. Seperti sebuah panggilan kematian yang turun dari puncak gunung yang beku.

Kelimpungan di tengah kabut dan malam yang dingin bukanlah sebuah mimpi dalam sebuah perjalanan yang indah. Tapi? Cinta ini harus ku labuhkan. Hasrat ini harus di sandarkan. Di sebuah tempat dalam bentangan alam gayo. Kalau begitu, biarlah malam ini aku bermalam di kakinya. Menarik selimut kabutnya. Sembari mencoba terlelap dalam pekatnya malam. Mobil rongsokan ini sudah mati total. Hanya bisa menunggu pagi untuk kembali menata persneling dan dapur pacunya. Aku terlalu lelah. Lelah menata hati, dan lelah bermandikan sinar purnama malam itu.

Diaroma malam, lolongan anjing gila, celetukan monyet-monyet bandot, yang berusaha memperkosa wanita tetangganya, membuat isi kepala ini berputar seratus delapan puluh derajat. Aku kini kembali harus menelan kecewa. Hanya sebuah buku diary yang entah dari mana yang hanya mengisahkan sebuah kematian yang pilu.


Dulu, beberapa tahun yang entah kapan, aku pernah bertarung mengeluti kematian dan cinta secara bersamaan. Tapi kini, sepertinya takengon menggetarkan kembali cerita lama itu. Jungkir balik aku mencoba mencernanya. Sekonyong-konyong kecantikan punggung Danau Lut Tawar mencoba memadamkan api cemburu. Padahal, tak ada kekasihku di sana. Kekasihku, ada di pinggir laut yang berpasir putih. Bermandikan cahaya mentari yang hangat. Bukan daerah dingin seperti ini.

Tapi, inilah cerita lain dari sebuah titik kehidupan. Malam, danau, dan cinta.

Perjalanan berlanjut. Badanku kini penuh oli mesin. Tubuhku kini berbau bensin. Sulut saja pakai rokok Marlboro. Pasti aku akan muntaz terbakar. Jalanan mulai ramai, Dari simpang Bireuen, aku putar haluan ke kiri. Menyusuri jalanan aspal mix yang mulus. Menyusuri lembah-lembah kesombongan anak manusia. Kebun sawit. Jalan terus mengular. Berkelok sesuka hatinya. Sesekali, tebing tua dan jalan aspal rusak menemani. Ah, aku pikir wajar saja. Jalan ini setua penjajahan di atas negeri ini.

Delapan jam perjalanan. Menjadi sebuah perjuangan tanpa henti demi sedikit rindu dan asa. Mengantarkan sebuah kesemberautan dalam lingkar kepala. Aku bingung, menjewantahkannya bagaimana lagi. Biarlah, cerita ini ku sudahi sampai disini.

Karena takengon, selalu mempunyai tempat sendiri dalam cerita cintaku. Mungkin, tahun-tahun yang bergulung, akan kembali mengantarkanku bersanding dalam kesunyian malam, desiran cinta, dan panggilan kematian…


Dedicated to : seorang teman yang kini telah menikmati kensuyian di sebuah tempat yang tak seorangpun tahu. I`m gonna miss u Na . Setengah mati aku menulis sepertimu, setengah mati pula aku kelimpungan. Padahal, aku ingin sekali meniru caramu bertutur. tapi, kau pergi begitu cepat. Baiklah.. aku coba mengerti. bahwa sebenarnya, inilah yang kau cari kan?  http://sarinahyamin.blogspot.com/










  1. berpikir keras ni kayaknya ya bg :D

    nana sangat menginspirasi,

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Dora.. mencoba gali2 lagi gaya tulisan lama yang masih mirip2 (sebenarnya jauh beda) ama tulisan nana.. tapi yaaa :D
      Iya, kehadirannya yang sesaat sudah sangat menginspirasi Saya

      Delete
  2. Ah, nana, engkau meninggalkan banyak kesan dan cerita

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih ya kak, udah "maksa" dia gabung di grup.. klo nggak mana mungkin bisa kenal ama dia :)

      Delete
  3. Sangat berkesan yaa,bg!. Kata-katanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya begitulah Sal.. tapi ah sudahlah :)
      lain kali kita bahas di warung kopi aja ya...

      Delete
  4. Ok, pulang nanti harus ke Takengon... Catet!

    Nana dengan kisahnya dengan kemisteriusannya dengan gaya tuturnya dengan kemanisannya...akan selalu menjadi bagian dari satu episode kehidupan kita.

    Allahummafirlaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kakak memang harus ke takengon kak, disana, begitu banyak kisah2 hebat..

      Delete
  5. subhanallah, bagus banget pemandangannya :) :ng

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak Alya.. makasih sudah mampir :)

      Delete
  6. Ending tulisan ini membuatku meluncur ke blog Nana. Membuka beberapa tulisan di sana, dan seketika seperti sedang membaca sebuah novel yang selalu ingin aku baca.

    O, ya, Takengon selalu indah di mata, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ooh aku kirain karena tulisanku hehehe ternyata kamu penasaran ya? :D

      iya, ada baiknya, mampirlah kesana bila ke aceh lagi

      Delete
  7. tulisannya keren banget bang, udahlah bikin novel sastra pembangun jiwa!

    ReplyDelete
    Replies
    1. duuh haya, itu yang kamu puji tulisan abang atau tulisan yang abang kasih link itu?
      novel sastra pembangun jiwa itu macam mana lagi? :(

      Delete
  8. Terpesona sama keindahan danaunya :)
    mupeng deh

    ReplyDelete
  9. Knp ngak beneran di sulut ama rokok ??? kan kalo terbakar jadi heboh hahaha #kaburrr

    ReplyDelete
    Replies
    1. #tunggu pembalasan Gw
      btw, habis di tana toraja ngapain om?? mau nyari waktu buka puasa yang cepet ya?? :))

      Delete

Start typing and press Enter to search