Evatya Luna, Museum Tsunami; Merenung Dalam Damai (11 tahun Tsunami)

jembatan harapan Museum Tsunami Aceh

2004, Tsunami Aceh. Sebelas tahun tragedi itu berubah menjadi sejarah. Kemarin saya tertakdir memasuki museumnya. 

Serambi Mekkah, daerah istimewa plus menjunjung tinggi norma agama. Saya bahkan menyesuaikan pakaian saat ke sini, menyimpan jeans kebangsaan dan menggantinya dengan gamis yang saya anggap lebih syar'i. Memang tidak ada larangan dalam hal ini. Justru saya yang menikmati.

Kembali pada museum tsunami. Bangunan berbentuk entah yang agak sulit untuk dideskripsi. Dari gambar dan miniaturnya, gedung itu mirip huruf Q namun oval. Tidak terlalu mewah namun unik dan istimewa.

Di ruang tiket tertera keterangan bahwa tidak perlu membayar untuk masuk ke dalam museum ini.
Dekat pelataran terpajang kerangka helikopter hancur, salah satu 'karya' arus tsunami. Dan tepat di depan pintu masuk tertulis peringatan bagi pengunjung yang memiliki riwayat sakit jantung atau gak kuatan mendingan langsung berbalik arah aja -yang ini kalimat editan saya. Beda kata tapi maksudnya gitu lah-.

Lorong sempit dengan dinding yang didesain alami menjulang tinggi di kanan kiri. Air yang terus mengalir dari tiap tepi lorong, memercik dan sedikit membasahi kita. Meski pastinya jauuuuh berbeda, nuansa air dan kecemasan mulai menggiring pengunjung ke bencana itu.

Lorong air yang terlewati berujung pada ruangan sangat luas berdinding cermin. Tebaran prasasti diletakkan berjajar rapi di lantai yang berundak. Saya melihatnya seperti nisan.

Tidak sekadar hiasan, di tiap 'nisan' itu ada Lcd yang menayangkan slide foto peristiwa yang sampai sekarang masih menorehkan sedih di hati kita. Allah, Allah, dan Allah terdengar dari gumaman orang-orang yang melihatnya. Tidak ada lagi yang akan kita ingat saat berada di titik takut dan sedih selain Dia.

Bukan, slide itu bukan menjadikan korban sebagai bahan tontonan. Tidak satupun foto yang saya anggap tragis dan tidak pantas untuk ditunjukkan karena memperlihatkan korban dalam kondisi yang memalukan. Tidak sekedar korban manusia. Rumah, gedung, sekolah, pasar, jalanan bahkan kota luluh lantak. Yaa Rabb, sulit dijelaskan.

Kami meneruskan langkah. Keluar dari ruangan, terlihat sebuah kamar bertuliskan Sumur Doa. Sumur Doa...? Apa pula? Bayangan saya mungkin berisi tulisan-tulisan doa dan harapan dari para keluarga korban. Nyatanya salah. Di dalam kamar melingkar, pandangan mata yang hanya disinari sedikit cahaya kekuningan menangkap ribuan nama korban yang melekat di dindingnya, diiringi suara lantunan ayat al-Qur'an. Saya mulai gemetar menerka masa depan. Seperti apa jalan cerita kematian saya nantinya? Bisa jadi mayat saya juga bernasib entah, menghilang tak ditemukan, bahkan tak juga ada nama yang tertuliskan sebagai penanda seperti nama-nama di dalam sumur ini.

Pandangan nanar masih berputar mengelilingi kamar, terus menyapu nama-nama hingga ke atas dan tak lagi terbaca. Ruangan ini perpaduan antara kerucut dan tabung. Mengecil ke atasnya, tapi tidak sampai meruncing. Tepat ketika saya melihat ke puncak, tangis saya pecah. ALLAH...! Lafadz itu tertulis besar di atap kubah, terlihat indah sekaligus gagah. ALLAH... terbaca sangat besar menyimbolkan kebesaran-Nya. 

Nama para korban Tsunami pada sumur Doa
Lantunan al-Qur'an masih terus terdengar. Sumur doa seolah bercerita bahwa mereka para korban kini telah berada dalam kasih sayang-Nya. Sumur doa seperti mengingatkan kita akan kembali kepada-Nya. Dalam sumur doa saya berdoa. Doa untuk para almarhum-almarhumah, juga doa untuk kita.


Wajah basah air mata, tapi sesak dada mereda. Mungkin benar, tangisan mampu membuat kita lebih lega. Saya kembali melangkah. Kali ini kejutan yang saya dapatkan sangat indah.

Jembatan menanjak yang terletak di lantai dua ini terasa tinggi karena pandangan kita dapat langsung tertuju ke lantai satu. Kolam dengan ikan-ikan yang berenang tenang, dan bola-bola batu serupa karang terlihat di situ.

Di atas titian tergantung bendera dari berbagai negara bertuliskan satu kata. Di sisi bendera Saudi Arabia saya membaca Assalam dengan huruf hijaiyah. Di samping bendera Inggris tertulis Peace, dan bendera Malaysia tercetak kata Damai. Berpuluh bendera dan tulisan berbeda yang bermakna sama. Satu kata yang sepertinya menjadi tujuan seluruh manusia dan dunia, DAMAI...!

Jembatan mengarah pada ruangan pertunjukan. Serupa bioskop yang memiliki jadwal, kami harus menunggu untuk bisa masuk. Tepat di sebelahnya, ada kamar berisi potret-potret besar seperti banner tapi lebih kokoh. Tentu saja bukti sejarah tsunami. Sebagian besarnya gambaran before and after. Foto-foto kecil berbingkai tertempel pada dinding.

Tepat jam setengah tiga, kami kembali ke ruang pertunjukan. Mirip bioskop mini berisi lima atau enam deret bangku, yang per deretnya mungkin ada sepuluh tempat. Kurang lebih kapasitas lima puluh orang.

Sebelum film dimulai, petugas berwajah asli Aceh menyampaikan aturan plus larangan selama film diputar dan tujuan agar kita bisa mengambil hikmah.

Dalam tayangan yang tak lebih dari sepuluh menit, kembali emosi kita tergugah. Tayangan demi tayangan mengingatkan lemahnya manusia. Bahkan oleh air pun kalah. Harta yang mungkin selama ini kita jaga, saat tergulung dan menimpa tak lagi ada harganya. Orang dan barang menjadi sama, sama-sama terbawa air bah.

Selain duka, ada hal indah yang terlihat dalam tayangan ini. Ketika seluruh dunia bergerak dan bertindak. Fitrah manusia memang belas kasih. Iba adalah naluri. Bantuan datang dari berbagai belahan bumi. Bahkan gajah pun dimanfaatkan untuk mengeksekusi. 

Sedihnya, kenapa nilai kasih ini menggeliat hanya ketika ada bencana hebat? Entah...


Over all, Museum Tsunami saya rekomendasikan untuk dikunjungi bila ke Aceh. Porsinya pas banget, gak menyajikan kesedihan lebay dan sarat akan hikmah. Makin mengidolakan sang arsiteknya, Bapak Ridwan Kamil. Great job euy...!

Last but not least saya menulis ini di atas batu karang, menikmati kerennya salah satu pantai di Aceh. Tak ada musik yang tepat untuk menemani catatan ini selain suara ombaknya.
Air, Api... 
Lautan, Gunung...
Juga Manusia...
Semua dasarnya indah bila tak marah. 
Semua akan jadi bencana saat murka.

Assalam, Peace, Damai...!




Penulis adalah salah satu penulis Buku Umrah Backpaker yang berkolaborasi bersama dengan mbak Butet Lubis Atau Elly Lubis. 
Tulisan ini sepenuh sudah atas persetujuan penulis untuk di muat di blog ini.  (yiihaa ada Guest Post euy hihihi)


Yudi Randa

Saya, menyukai dunia travelling, Mencintai membaca, Mencintai duduk bersama keluarga sembari menikmati secangkir kopi, menyenangi berbagi bersama. Bisa di Hubungi di yudi.randa@gmail.com

23 komentar:

  1. Dan pada kejadian itu tsunami aceh sudah di jadikan film dalam judul 'Hafalan Shalat Delisa' terharu dan sedih kalau mengingat tragedi yang menimpa aceh beberapa tahun silam =D

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangankan nonton filmnya Wi, baca bukunya aja mewek hiks.. :(

      Hapus
  2. Berkunjung ke museum ini membuktikan bahwa kita memang kecil, kecil sekali :)). Saya sangat bersyukur dulu sudah pernah mengecap sensasi serupa. Museum memang menjadi pengingat--membuat kita ingat. Tidak mesti ingat yang jelek-jelek, tapi bagaimana mengambil kebaikan dari setiap kejadian di muka bumi.
    Tulisannya bagus dan menggugah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bang. apalagi pas masuk ke "lorong Tsunami" beeeuh..bikin merinding seksi.

      jadi, kapan pergi lagi ke banda aceh bang?

      Hapus
  3. hebat ya disen pak ridwan. kapan ya saya bisa kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoo datangi aceh segera sebelum aceh itu di larang lagi hehe

      Hapus
  4. Museum tsunami selalu asik untuk ditulis ya :)

    BalasHapus
  5. Museum Sunami (0.0) Wah keren banget. memang pas banget itu museum, bisa mengingatkan bahwa Indonesia pernah menghadapi cobaan yang sangat berat, dan Allhamdulillah kita bisa melaluinya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, dan kerennya lagi, this the only one di asia tenggara bang Annas :)

      Hapus
  6. Entah, bawaan ingat Tsunami Aceh, tiap liat museum ini digambar (walau belum pernah ke sana) bawaannya pengen nangis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan bang Nasir tahu? setiap kali orang yang masuk kemari, di awal-awal pasti nangis :)

      Hapus
  7. Ngak terasa sudah 11 tahun yaaa, semoga semua korban mendapat tempat yg layak di sisi Allah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amien.. Allahumma Amin.. Iya bang, nggak kerasa, tapi rasa tsunami itu masih terasa di aceh :)

      Hapus
  8. Museum tsunami memang terlihat serius dalam pengelolaannya ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu asbabnya adalah, situs tsunami ini di kelola oleh Kementerian ESDM kak :)

      Hapus
  9. Sudut pandang yang menarik dan pilihan tempat menulis nya juga. Ahaa, kian cinta saja dengan tempat Wisata Tsunami yang satu ini. Keren :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya Bang.. wajarlah, Beliau juga salah satu penulis nasional :D

      Hapus
  10. Keren nih ada tulisan dari Guest. Ulasannya menyentuh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi kapan safariku jadi guest post di sini? :D

      Hapus
    2. Nanti kalo meja kerja Safariku sudah tidak lagi di Banda Aceh, insyaallah. :D

      Hapus
    3. nyaaan bereeeh hoe rencana ? hahaha

      Hapus