Ija Kroeng, Dari Tradisi Sunat Sampai Perang

Ija Kroeng, Dari Tradisi Sunat Sampai Perang
keren kan kan kan? :D
Sebagai seorang pria yang ingin meng-sah-kan dirinya sebagai salah satu calon pria dewasa dalam beragama muslim, saya harus di sunat. Bukan sunnah ya, tapi S-u-n-a-t. itunya diilangin sedikit. Jangan Tanya rasanya bagaimana ketika “sesuatu” di colok oleh sebatang jarum. Tunggu dulu! Waktu itu, jarum halus belum ada di Aceh. kalaupun ada, harganya mungkin sedikit mahal. Sekarang, bayangkan! Betapa nyerinya ketika besi tajam nan berkilau itu mulai menjamah bagian tersayangmu. Sekali? Tergantung kondisi, kawan. Kalau tubuhnya terlalu imun dengan obat bius, maka akan ada jamahan lagi ke bagian tersayang itu. Saya? Pak Mantri memerlukan 3 kali hentakan tajam ke bagian yang selalu saya lindungi dalam hidup ini. Auuuhhh…
Lebay? Ya bisa jadi.

Sebenarnya, efek setelah itu yang menjadi perhatian dalam oretan ceracau tak jelas ini. Saya, harus memakai sarung sampai satu minggu lamanya. Mau tidur sarung itu harus diikat dan digantung agar bagian sarung tak kena kepala gundul yang baru saja di babat habis isi kepalanya. Kalau kena? Geli bercampur nyeri akan sukses membuat matamu terjaga walaupun sudah minum obat lelap.

Hendak ke kamar mampi-pun harus bersarung ria. Itu lengkap dengan gaya jalan kangkang seperti orang kelamaan duduk kuda atau terkena penyakit gajah pada bagian pangkal paha. Plus, tangan sebelah kiri harus menarik kain sarung sedikit maju ke depan. Kenapa? Apalagi kalau bukan karena rasa geli bercampur perih setiap kali kain sarung itu berusaha menyentuh dengan nafsunya kebagian “itu”.

Mau makan, bersarung. Mau main bola, kudu bersarung, sekalinya kena tendangan bola di bagian yang baru di sunat tersebut, maka jatah memakai sarung harus ditambah lagi 4 hari. Tergantung seberapa parah. Kalau berdarah ya masuk RS lagi. Kalau hanya bengkak, palingan hanya kena jewer emak. Selesai!

Seminggu bersarung, cukup mengajarkan saya betapa sarung itu sungguh berguna. Bukan hanya dipakai untuk ke meunasah, atau buat tangkap kalong, atau untuk menakuti para gadis ketika pulang mengaji sehingga ketika mereka menjerit histeris, hadirlah saya sebagai pahlawan di malam buta. Hahaha!

Begitulah, sarung, sebagai salah satu mainan masa kecil saya. Kain sarung, atau ija kroeng, di Aceh memang menjadi sebuah kain yang tak bisa terpisahkan. Bahkan, ketika seseorang meninggal pun, kain sarung mengambil bagiannya.

*****
“ija kroeng di Aceh itu harus kuat yudi!” bang khairul dengan begitu semangat ia menarik kain sarung ciptaannya sekuat tenaga. Plak! Plak! Tidak koyak dan tidak ada sedikitpun terkesan akan koyak. Saya masih bingung dengan kelakuan janggalnya.

Pria berambut gondrong dan berkulit putih ini masih berdiri tepat dihadapan saya. Membantu saya memasang kain sarung khas dari tanah rencong yang jahit sendiri olehnya. Khairul namanya. “orang Aceh pakai kain sarung pada saat perang, pergi ke sawah, mencari ikat di laut, dan dulu, dipakai juga ketika berkuda. Ini bukan saya yang ngomong Yud, tapi fakta sejarah!”  Saya hanya bisa mengangguk. Karena saya baru kali ini mendengarnya berbicara landasan ia menciptakan kain sarung yang sudah lama menjadi tradisi turun temurun di Aceh.
Ija Kroeng, Dari Tradisi Sunat Sampai Perang
kain sarung pun bisa menjadi pelipur lara ketika diri sedang jomblo :D

“Maka dari itulah orang Aceh membutuhkan kain sarung atau ija kroeng yang kuat Yud! Sayangnya, tidak ada literature sejarah yang mengatakan kalau ija kroeng pernah di produksi di Aceh. ini sungguh kasihan kan? Makanya saya ambil sikap dan memulai usaha ini” Gila! Landasan bang Khairul berpikir dalam menciptakan produk, sangat kuat sekali.

Saya masih terkesima tak percaya. Walaupun kain sarung ini terkesan mahal, tapi kisah dan untaian sejarah dibaliknya, membuat saya terkagum-kagum. Hari itu, saya kembali bangga mengenakan kain sarung. Bangga menjadi seorang pemuda Aceh, dan pemuda nusantara yang ingin menjadi sarung, bukan hanya sebagai sebuah produk budaya, melainkan sebuah jati diri.

Di ruangan yang sederhana milik bang khairul, saya kembali melengkapkan khasanah cerita kain sarung di tanah rencong. Begitu banyak fungsi kain ini. Bahkan hampir di setiap perjalanan ia menjadi teman yang setiap. Baik sebagai pelepas dingin, maupun penghalau nyamuk. Pun, mungkin, menjadi pengobat rindu, bagi mereka yang merasa kesepian. Aih..

&&&
Ija Kroeng, Dari Tradisi Sunat Sampai Perang
Tulisan singkat ini, diikutkan dalam pesta Giveaway Sithoen Ija KroengR.  Yang diadakan oleh www.safariku.com yang bekerja sama dengan  (instagram) @Ijakroeng yang akan melangsungkan ulang tahun ke satu nya tanggal 13 maret 2016 nanti.


Bagi kalian yang ingin memiliki kain sarung khas etnik Aceh ini, Gratis kok. (Di sini ada caranya ). Untuk yang malas menulis, bisa juga dengan mengikuti kontesnya di instagram. Selain kain sarung, kalian juga bisa mendapatkan tas goody bag khas dari ija kroeng loh.. buruan!!

Yudi Randa

Saya, menyukai dunia travelling, Mencintai membaca, Mencintai duduk bersama keluarga sembari menikmati secangkir kopi, menyenangi berbagi bersama. Bisa di Hubungi di yudi.randa@gmail.com

14 komentar:

  1. Cakep Yud saya naksir sarung putihnya itu loh, dan bukan naksir orang yang pakai sarungnya kok. Qiqiqi. Beneran ini bisa didapat secara gratis? ciyus?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kak.. hanya perlu ikutan giveawaynya aja kok :D
      itu linknya sudah yudi lampirkan

      Hapus
  2. Jadi kamu di sunnat saat usia berapa ??? Hahaha. Meskipun sakit tp sekarang nikmat kan ?? Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. yudi di sunat di usia 12 tahun kok Om.. masih dalam katagori standar laah.. belum lebat betul yang disamping2nya :D
      sekarang? ah itu nanti aja om rasa sendiri :))

      Hapus
  3. Biasa yang aku liat sarung itu banyak aksennya mas tapi yang mas pakai simple bingit hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. naaah justru itu Wi..kita pengen tampil beda hahaha

      Hapus
  4. 3 kali di suntik rasanya seperti kejang pengen lompat aja ya mas. Hahaha.

    Sarung memang multi fungsi, selain buat sholat aku kalau naik gunung jg selalu bawa. Kurang hangat rasanya kalau nggak pake syal sarung. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. duuuh ngilunya itu loh bang hahaha

      wess.. syalnya harus kain sarung?? luar biasa!
      untungnya saya tak hobi naik gunung bang Inggit :D

      Hapus
  5. Ija kroeng jadi pelipur lara kala jomblo, bang?
    Aih, bang yudi jomblo bersarung rupanya. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha udah jangan ribut2.. mumpung bisa ngejomblo nikmatin aja

      Hapus
  6. Motifnya cakep Bang. Punya kekhasan sendiri tampaknya Sarung ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang Rahman..
      bahannya saja sudah beda, ditambah lagi motif lukis dengan "Bunga Kerawang Gayo" nya :)

      Hapus