Selasa, 09 Mei 2017

Budaya Ta’ziyah Di Labuhan Haji, Aceh Selatan [Guest Post]

Sunset, di Aceh Selatan. 
Labuhan Haji, Aceh Selatan, adalah daerah yang menjadi sebuah bukti kalau Aceh, ada hubungan yang erat dengan tanah Minang, Sumatra Barat. Di tanah ini pula, banyak dilahirkan ulama-ulama hebat Aceh. Sebut saja Teungku Peulumat yang bernama asli, Tengku Syekh Abdul Karim, beliau lahir pada tanggal 8 Agustus 1873 di Kota Baru Sungai Tarap Batu Sangkar Minangkabau Sumatera Barat. Ada pula Syekh Muda Waly Al Khalidy yang juga keturunan dari Batu Sangkar, Sumatera Barat. Jadi, jangan heran. Kalau kamu ke labuhan haji, sebagian besar masyarakat di sana berbicara dengan bahasa yang berdialek Padang.

Daerah yang berbatasan langsung dengan samudra hindia pada sisi barat ini, ternyata luput dari bencana Gempa dan Tsunami tahun 2004 lalu. Ada berbagai opini yang muncul. Tapi satu jelas, daerah yang dulunya merupakan salah satu tempat berangkatnya masyarakat Aceh ke tanah suci, Makkah, untuk menunaikan rukun Islam ke lima, Naik Haji.

Ada satu hal yang menarik dari kecamatan Labuhan Haji, Aceh Selatan ini. Yaitu budaya Ta’ziyah. Dalam Islam, berta’ziyah menjadi sunnah dilakukan. Tujuannya, untuk menghibur dan meringankan keluarga yang ditinggalkan atau yang tertimpa musibah kematian.

Di sini Desa Pisang Labuhan Haji Aceh Selatan, rumah duka tak usah memikirkan asap di dapur lagi. Karena, ketika ada yang meninggal,  warga setempat  akan dengan sigap untuk segera mengantarkan rantang untuk rumah duka.

Mereka semua berduyun-duyun mengantarkan sebanyak tujuh rantang yang berisikan nasi lengkap dengan lauk di pagi, lalu tujuh rantang lagi di siang. Sedangkan pada malam hari, ada 7 sampai dengan 12  rantang untuk makan malam keluarga yang tengah berduka.

FOTO BY  Fakhrizan Bin Mahyeddin

Menariknya lagi, setiap warga atau masyarakat setempat, sudah mengetahui kapan gilirannya untuk mengantarkan rantang tersebut. Menunya pun begitu luar biasa, mulai dari ayam goreng, bebek, ikan sambal sampai kuah gulai. Begitu beragam isi rantangnya.


Bagi mereka, masyarakat desa Pisang, Labuhan Haji, Keluarga yang sedang berduka, hanya cukup untuk menerima tamu saja  tanpa harus memikirkan perihal dapur.  Karena untuk urusan dapur, sudah ditanggung oleh masyarakat setempat yang secara bergotong royong bahu membahu bergantian mengantarkan makanan ke rumah duka. Baru pada hari ke Lima atau di hari ketujuh setelah jenazah dikebumikan, dapur rumah duka kembali mengepul sebagai mana sediakala.

FOTO BY  Fakhrizan Bin Mahyeddin

Termasuk dalam bentuk ta’ziyah adalah membuatkan makanan untuk keluarga yang terkena musibah. Ini sangat dianjurkan untuk menghibur mereka, sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‎اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَر طَعَاماً فَقَدْ أَتَاهُمْ أَمْر يشغلهُمْ -أو أتاهم ما يشغلهم-

“Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far, karena mereka sedang tertimpa (musibah) yang menyibukkan mereka.“ (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah. Hadist ini dihasankan oleh Syekh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah no. 1316)

Indahnya sunnah Rasulullah SAW. Begitulah kehidupan masyarakat Aceh khususnya pada Desa Pisang, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan.

By : Fakhrizan Bin Mahyeddin
Penulis adalah Traveller Aceh yang juga pecinta budaya Aceh.

Silahkan cek akun instagramnya disini

anak muda kita. 

  1. memang anda luar biasa.......................................

    BalasHapus
  2. itulah hebatnya anak juli bang :D

    BalasHapus
  3. 😂😂😂 nyan hai pak sekdes gampong kamoe ka geukomen 😁

    BalasHapus

Start typing and press Enter to search