Jumat, 02 Juni 2017

Wisata Aceh Tenggara, Mandi Air Panas Di Tengah Hutan

Wisata Aceh Tenggara, Mandi Air Panas Di Tengah Hutan
Masih sanggup bang? Udah dekat kok!” Rajab, guide dari wisma Cinta Alam desa Ketambe, terus menerus menyemangati saya. ini adalah kali kedua saya belajar tracking. Sumpah! Capek pake banget! Pagi masih, tapi nafas sudah mulai seperti kuda binal yang habis berburu nafsu birahi. Setiap tarikan nafas begitu berat. Sesekali, tegukan air minum yang diambil langsung dari setiap mata air sepanjang jalur tracking menjadi pelipur lara.

Awi, Khairul, dan Romi, hanya tersenyum dan sesekali menertawai saya. wajar saja. Gaya saya tracking bukan seperti anak hutan apalagi anak gunung. Melainkan seperti anak alay masuk hutan. Sepatu kets modal endorse, celana jeans semi kantoran dan baju kaos lengan pendek. Apa yang terjadi? Ah sudahlah, jangan tanya berapa kali saya terpeleset setiap kali ada turunan. Jangan Tanya berapa kali lengan tangan saya yang mulus ini menjadi korban pepohonan berduri. Dan, pacat! Iya, ini juga pertama kalinya saya digigit pacat. Rasanya? Ah.. sudahlah.. terkadang saya nyesal mengaku sebagai orang yang cinta konservasi alam.

Wisata Aceh Tenggara, Mandi Air Panas Di Tengah Hutan
Orangutan Sumatra yang ada di Hutan Leuser, Aceh
Perjalanan masih terus naik turun. Terhitung sudah hampir 2 jam semenjak Rajab mengatakan “tidak jauh lagi.” Sedangkan menurut saya, tak ada setengahnya perjalanan ini menunjukkan ujungnya. Pelajaran pertama dalam dunia tracking, kalau guide bilang “ayo bang, udah dekat kok” percayalah, ini hanya untuk menyenangkan hatimu saja, kawan! Dua jam jalan naik turun bukit dan hutan, itu semua masuk dalam kategori “tidak jauh lagi”.

Diantara lelah, letih, lesu, tapi tidak ejakulasi dini, saya bersyukur. Akhirnya saya masuk hutan kebanggaan dunia. Hutan Ketambe yang sudah menjadi Stasiun Pusat Riset Orangutan tertua di dunia. Yups, walaupun saya tak bisa masuk ke pusat risetnya, tapi saya cukup puas bisa melihat orangutan liar yang ada di pinggiran hutan Ketambe.

Mata Air Panas Yang Unik!


Wisata Aceh Tenggara, Mandi Air Panas Di Tengah Hutan
tetap bergaya dulu, walaupun dikaki banyak pacat!
Setelah puas melihat orangutan yang masih liar, saya tergiur kala Rajab mengajak kami untuk merasakan mandi air panas yang terletak ditengah hutan dan di antara aliran air sungai. Nah, jarang-jarangkan bisa mandi air panas langsung di sumbernya yang masih benar-benar alami kan? Terlebih lagi letaknya unik. Sudah di tengah hutan, di tengah aliran sungai pula! Iya, mata air panasnya itu ada di tengah-tengah sungai. Penasaran? Sama. Saya juga!

Demi menuntaskan rasa penasaran itu pula, saya menguatkan diri untuk terus melangkahkan kaki masuk lebih dalam ke hutan Ketambe. Hutan yang sedari dulu menjadi primadona wisata ecotourism bagi turis luar negeri. Awalnya saya sempat tak percaya saat Rajab mengatakan kalau nanti, di tempat pemandian, akan banyak bule yang mandi dan berkemah di sekitar air panas tersebut.

Wisata Aceh Tenggara, Mandi Air Panas Di Tengah Hutan
tenda bila kamu akhirnya menginap di dalam hutan

Wisata Aceh Tenggara, Mandi Air Panas Di Tengah Hutan
Bule, iya,, itu bule sedang merenung
Beruntung, tepat tengah hari, kami akhirnya tiba di lokasi yang dimaksud. Uap air panas memenuhi hampir seluruh permukaan air sungai yang mengalir cukup deras. Bau belerang menyeruak menembus hidung mancung ini. Sesekali, saya harus mengelap lensa kacamata yang dipenuhi oleh uap air panas. Bukan, saya bukan terharu karena akhirnya tiba juga di tengah hutan.

Bekal nasi kami buka, memamah biak menjadi agenda pertama kali yang kami lakukan. Maklum, perut lapar tak bisa membuatmu berpikir jernih. Apalagi beberapa bule tersenyum manja kepadamu. Duh.. Gusti... istriku di rumah… semoga saya tak khilaf.

Wisata Aceh Tenggara, Mandi Air Panas Di Tengah Hutan
beberapa bule sedang balik ke peginapan mereka
Tepat seperti apa yang diceritakan oleh Rajab dan Romi, kalau air panas ini unik. Mata airnya yang berada ditengah aliran sungai membuat perpaduan yang luar biasa. Tak ada dinding semen, tak ada kamar ganti, tak ada kamar bilas, semuanya hanya engkau dan alam liar. Wonderful!

Jujur, saya menjadi kemaruk. Saking kemaruknya, saya lupa, kalau saya tak bawa baju ganti. Pun jangan Tanya dimana celana ganti saya. Jeans coklat yang saya pakai itu menjadi korbannya. Dari pada harus menyesal dikemudian hari, bukan? Lebih baik terlanjur basah.

“Wadooow…!” saya memekik karena kaki saya terbakar oleh air panas. Perih sekali rasanya. Saya tak tahu kalau ternyata, ada begitu banyak mata air panas yang bercampur dengan aliran sungai ketambe ini. Jadi, kalau salah melangkah bersiaplah kakimu melepuh kawan.

Wisata Aceh Tenggara, Mandi Air Panas Di Tengah Hutan

Wisata Aceh Tenggara, Mandi Air Panas Di Tengah Hutan

Romi menjelaskan, kalau cara yang paling mudah membedakan aliran air panas dengan air sungai adalah dengan melihat warna batu. Bila warnanya merah bata, maka itu ada air panas dibawahnya. Dan bila batunya berwarna bebatuan pada umumnya, insya Allah aman.

Pun demikian, lokasi tempat mandinya. Kamu harus berhati-hati untuk bisa mencapai posisi yang tepat dengan percampuran air yang tepat. Ini bukan kamar mandi hotel yang bisa kamu setting perpaduan air panas dan dinginnya sesuai kehendakmu. Salah cebur, kami menjadi cumi rebus!

Jadi, untuk yang pertama kalinya ke sini, saya menyarankan agar mengikuti semua intruksi dari guide. Kamu pun tetap harus menjaga kebersihan serta tata karma. Silahkan mandi dengan bertelanjang dada, sepanjang kaidah-kaidah tetap dijunjung tinggi.

Wisata Aceh Tenggara, Mandi Air Panas Di Tengah Hutan
inilah dia tempat pemandian air panasnya...
Hampir saja saya terlelap menikmati nikmatnya aliran air yang hangat sembari sesekali merasakan hawa sejuk alam. Bila bukan karena Rajab dan Romi mengingatkan kalau, jam 5 sore kami semua harus sudah kembali ke penginapan. Atau, tidur di hutan! Oh tidak, terima kasih. Saya belum siap mental untuk tidur bertemankan pacat. Kalau dia masuk kebagian anu gimana? Apa kamu mau tanggung jawab?

Alam Ketambe ini, memang luar biasa. Tatkala konservasi, ekonomi, dan wisata menjadi satu. Semuanya, terlihat begitu sempurna. Tak banyak tempat di dunia ini yang memiliki pemandian air panas yang unik seperti ini. Akhirnya, benarlah apa yang dikatakan oleh para Cerdik Pandai, bila kamu menjaga alam, maka alam akan menjagamu.

Saya, Romi, dan Rajab Credit Foto by : Khairul Gayo

&&&

** Perjalanan ini disponsori oleh Usaid-Lestari
** Photo Perjalanan credit by : Khairul Gayo
  1. Wah, asyik kali ya. Kalau mandi di sana pada bulan puasa gni.

    BalasHapus
  2. Kenikmatan tersendiri berendam di tengah hutan gitu..berarti kudu hati2 milihnya di aliran air yg g deras dan tidak terlalu panas

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.. klo soal deras sih... udah dari sononya.. tpi soal mana posisi panas dan dingin ini lain cerita mas hehehe

      Hapus
  3. Dan memang harus bilang WOOW!

    BalasHapus
  4. Hahaha pernah ngerasain jalan ke hutan pake sebatu kets. JEBOL :D
    Dan emang mestinya pake baju lengan panjang ya, atau pake hmm semacam sarung tangan kayak cewek jilbaban itu.

    Yang kurus aja ngap, apalagi yang semok kayak aku. Tapi kok cakep hutannya. *kedip Usaid-Lestari

    omnduut.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu namanya manset om :D
      hahaha hutannya emang masih cakep..apalagi ada... ah sudahlah :p

      Hapus
  5. Tendanya transparan gitu? Klo pas hujan apa gak serem? hehe
    tp seru ya, hutan itu bikin imajinasi melayang kemana2 :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha udah kak, nggak usah dibayangin :D
      tpi sebenarnya tenda transparan itu emang untuk mengawasi atau ngeliat hutan kala malam Kak :)

      Hapus
  6. Aku kok tertarik sama tendanya yang transparan hahahahha.
    Kayaknya butuh perjuangan ke sini :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha itu untuk observasi bang.. klo malam2 kita bisa liat hewat2 nocturnal Bang.. semisal Kambing Hutan, Kukang, atau kadang2 harimau :D

      Hapus
    2. Oalah itu toh alasannya.
      Pantes kok kelihatan unik hehehheh.

      Hapus
    3. iya.. jadi sangat disarankan malam di hutan ketambe ini kita tidak tidur.. lalu paginya trekking lagi? :(

      Hapus
  7. Berkunjung ke sini beneran sesuai pepatah ya bang yud, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Indah bingiiiit...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak.. buanget.. apalagi untuk pemula kayak saya :D

      Hapus
  8. perlu perjuangan buat kesini bang. tapi setimpal lah hehe.
    lain kali jangan salah kostum lagi wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahagia kali kau ku tengok laaah... Namanya juga awak nih masih anak alay main ke hutan huhuhu

      Hapus
  9. Membaca tentang hutan tracking dalam hutan dan kemudian berjumpa air panas di tengah sungai Liat aja kalau ke Aceh sampai di tempat ini. Tapi tidak jadi karena pacet pemberitaannya. 2 jam yang lalu dia bilang sudah dekat artinya dekat berikutnya 2 jam lagi. Ini bukan perjalanan untuk emak emak seperti saya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha dan itu ada photo sungai yang bulenya kan uni? nah kita harus nyebrang manual di sungai itu :D

      Hapus
  10. Transparan gitu tendanya menginap di hutan? wow., bisa langsung lihat bintang, dan binatang yg lewat disekitar tenda. LOL.
    Tapi suasananya alami banget, nggk pa2 deh capek2 menuju kemari, tergantikan dengan suasana alamnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.. asal kuat aja nanti akan ada nyebrang sungai juga hihihi

      Hapus
  11. butuh budget berapa bg, supaya troh keunan bak awak luwa manoe nyan? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sehari biaya guide perorang 350rb bang :D

      Hapus
  12. Seru banget ini. Lama tinggal di Aceh belum banyak kemana-mana. Memang harus datang kembali, datangi satu persatu tempat-tempat cantik di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ternyata memang ada buanyaaak banget tempat keren di aceh, tapi yudi tahun depan targetnya harus bisa ke lampung Bang.. mau belajar sesuatu

      Hapus
  13. di Banjarnegara pun ada lokasi pemandian air hangat yang bercampur dengan aliran air sungai yang dingin tapi tak seindah yang di Aceh, pohon2nya masih alami dan semoga terus lestari

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh... dimana2 itu indah kok mas.. tinggal cara kita menikmatinya saja :)

      Hapus
  14. Gara-gara kemarin kita ngobrolin ini terus aku baca ini terus ngiler pengen cepat-cepat ke sana. Hahahahah xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah ah, aku nggak mau cerita lebih jauh lagi.. ntar klo jadi kemari, rasain sendiri :))

      Hapus

Start typing and press Enter to search