Sabtu, 23 September 2017

Sabang Underground; Tempat Para Tahanan Perang Bercinta

Benteng Jepang di Pulau Weh


Beruntung, mungkin itulah kata yang tepat untuk mengungkapkan sebuah keadaan yang terjadi di akhir Maret lalu. Awalnya, saya sempat kebingungan ketika sebuah undangan famtrip dengan tema sejarah masuk ke email saya. Berulang-ulang saya membacanya. Ibarat menerjemahkan bahasa kaum hawa. Undangan ini singkat tapi penuh makna dan penghayatan.

Saya berusaha mengkonfirmasi melalui sambungan telepon pada nomor yang tertera. Lalu, seorang wanita menjelaskan perihal undangan tersebut. Paham? Tetap tidak. Lagi-lagi jawabannya harus dihayati dengan begitu dalam. Jujur saja, setiap kali seorang wanita berbicara, saya harus memanjangkan antena otak. Ini dia berbicara to the point atau muter-muter dulu?

Hari yang dinanti tiba. Istri dengan sepenuh hati mengantarkan saya ke kantor Badan Pelestarian Nilai Budaya Aceh. Muka istri yang sedari tadi sumringah, tiba-tiba berubah kusam, tatkala melihat para peserta yang hadir.

“Bang ini serius acara famtrip? Kok kayaknya anak SMU semuanya?” sergahnya. Seolah ia mulai mengkhawatirkan keadaan suaminya yang akan bepergian dengan rombongan anak SMU. Jangankan istri, saya sendiri sempat kaget ketika melihat para peserta yang jumlahnya ada puluhan orang yang sebagian besar dari mereka adalah Anak Baru Gede alias ABG...

***


“Hello Den Hag! Hier Sabang! (Halo Den Hag! Ini Sabang”

“Ibu, masih empat tahun lagi sebelum aku pulang ke Holland.”

“Halo Sayang, Ibu rindu sekali kepadamu, Halo?”

“Ya ibu, di sini aku” sesaat kemudian, Yang terdengar hanyalah bunyi Tet..tet..tet.. suara telepon Sabang itu pun terputus selamanya, ketika Sabang diserang dari berbagai sisi..hilang.. (saduran buku Sabang Dalam Lintasan Sejarah, 2015)


Kota Metropolitan di ujung Sumatera ini, akhirnya luluh lantak kala tentara Jepang berhasil merengsek masuk ke teluk Sabang.



Sebenarnya, Pulau Weh, atau yang lebih dikenal dengan sebutan kota Sabang ini, selain menyimpan keindahan bawah laut, ia juga menyimpan sejarah panjang didalamnya. Pulau ini, selalu menjadi rebutan para penjelajah sekaligus penjajah. Mulai dari Portugis, Belanda, sampai Jepang. Mulai dari jaman pra sejarah, sampai Perang Dunia ke dua. Tapi, tak banyak orang yang mau mengeskplorenya lebih jauh.

Kalian pernah dengar pulau Iwojima atau Perang Iwojima? maka Sabang, adalah miniatur dari pulau tersebut. Beberapa para sejarawan menyebutkan jika Kota Sabang, adalah kota diatas “kota”. Tepat pada tahun 1942, Jepang berhasil menguasai Indonesia dengan mengusir Belanda. Dan, posisi pulau Weh yang berada di pintu masuk selat melaka, menjadi alasan kuat, mengapa tentara Jepang menjadikan Sabang sebagai pulau pertahanan utama yang dilengkapi senjata yang luar biasa!

Benteng Jepang di Pulau Weh
Benteng Baterai Jepang, begitu sebutannya
Berlebihan? Awalnya mungkin terkesan lebay. Akan tetapi, kala bang Albina dan Mas Stanov memaparkan bagaimana kecanggihan teknologi Pulau Weh kala Perang Dunia II, saya hanya bisa bengong. Bayangkan, Sabang yang kota kecil itu memiliki telepon radio yang pemancarnya itu setinggi tower Telkom hari ini, pelabuhan dengan docking listrik, dan senjata meriam yang mampu menenggelamkan setiap kapal perang yang melintas masuk ke selat Melaka.

Ada begitu banyak benteng pertahanan Jepang yang tersebar hampir di seluruh pulau. Tak terkecuali di pulau Rubiah. Benteng-benteng ini hampir rata-rata berada di bawah tanah atau di bawah bukit-bukit batu. Sepintas, ia akan terlihat seperti lorong-lorong gelap nan pengap yang menghubungkan satu titik ke titik lain. Inilah yang dimaksud dengan kota diatas kota. Persis seperti pulau Iwojima, bunker Tentara Jepang sisa perang dunia kedua hampir mengisi keseluruhan pulau. Pun begitu di Pulau Weh, hampir di seluruh kawasan kota Sabang, dibawahnya pasti terdapat kurok-kurok Jepang ini. (kurok-kurok adalah sebutan orang Aceh untuk bunker Jepang)

Benteng Jepang di Pulau Weh
lorong-lorong seperti ini, akan mudah kamu temukan bila kamu jeli kala jalan-jalan di Kota Sabang

Penjara Bawah Tanah, Katanya!

Jalan becek. Sesekali, kubangan bekas sapi membuang hajat ternganga begitu saja. Pohon kelapa berjejer rapi. Tak jauh dari kota Sabang, sebuah areal terbentang datar seluas 700 meter dibatasi pagar pohon kedondong diikat dengan kawat berduri. Hampir-hampir tak ada yang menarik didalamnya, kecuali kawanan sapi yang tengah memamah biak.

Beberapa bangunan tua terlantar tersusun begitu saja. Beberapa masyarakat sekitar menyebutnya dengan benteng Baterai Jepang. Bangunan besar tanpa pintu dan daun jendela ini menghadap ke teluk Sabang. Dahulu, digunakan sebagai kantor meteorologi Jepang.

Benteng Jepang di Pulau Weh
bekas kantor meteorologi,katanya

Tak jauh dari bangunan tersebut, ada tangga turun ke bawah. Sebuah ruangan yang cukup besar dan lebar. Ini menjadi Bunker utama berdinding kokoh setebal 50 sentimeter. Di dalamnya ada empat ruang tersekat beton setebal 30 sentimeter. Suasana kemudian menjadi mengerikan. Udara yang lembab, pengap dan sedikit apek menusuk hidung. Beberapa bulu hidung saya merinding dibuatnya.

Beberapa saat kemudian, saya terperanjat. Ini kan.... 

Saya menahan nafas. Menelan ludah. Melihat sebuah hal yang cukup membuat bulu kuduk berdiri. Perasaan bercampur aduk. Sebuah lukisan tangan tergores sempurna di dinding bunker yang dipercayai berfungsi sebagai penjara sekaligus benteng pertahanan ini. 

Sebuah lukisan sepasang wajah anak manusia nan lusuh, digores dengan bebatuan kasar yang keras. Raut wajah dari lukisan yang terlihat cukup jelas itu, menyiratkan beragam makna. Ada kesedihan di relung bola matanya yang hilang tertelan usia. Ada garis kerinduan dalam setiap goresan tangannya. Air muka yang mirip orang Jepang campuran jawa ini, terlihat begitu sendu. Seolah merindukan sebuah pertemuan yang tak kunjung tiba.

Benteng Jepang di Pulau Weh
kamu, ketemu gambar ginian, ditengah malam gimana?
“Katanya, ini asli dari jaman Jepang dulu, bang..” hampir saja saya melompat lalu lari terkencing-kencing seperti kuda binal yang dipaksa lari dengan pecut. Seorang pria berperawakan sedang, muka gelap, dan bersuara sedikit parau tiba-tiba berbicara disamping saya. Suaranya terdengar jelas. Mengalahkan teriakan “cheese.. “ anak-anak abege yang sibuk swafoto didalam ruangan yang cukup angker ini.

Saya hanya mengangguk, lalu berjalan dengan cukup cepat meninggalkan pria misterius tadi. Menyusuri setiap bunker yang terletak di setiap sudut lahan datar ini, membuat Imajinasi saya membayangkan, betapa rindunya para pasukan Jepang ini akan kekasih hatinya nun jauh di negeri Matahari Terbit itu. Dalam setiap langkah tegapnya, hatinya tetap saja ingin memadu kasih dan cinta dengan belahan jiwanya. Atau mungkin, itu adalah lukisan dari para tahanan perang yang disekap dalam bunker dengan dinding beton setebal 30 sentimeter ini. Ah, bikin merinding..

Benteng Jepang di Pulau Weh
silahkan nilai sendiri...
Setelah puas mengambil beberapa foto, saya naik ke atas gundukan tanah yang menutupi langit-langit bunker. Satu stasi pemandangan yang indah terpampang. Kawasan Teluk Sabang terlihat jelas dari sini. Kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan tersusun laksana mainan kapal-kapalan Ziyad yang mengapung dibirunya air laut. 

Pulau Klah dan pulau Rubiah terlihat berbaris dengan ujung Pulau Sabang menyempil di sudut belakangnya. Sebuah pemandangan yang menguatkan mengapa bunker ini layak dibangun, dari sini, mereka bisa memantau dengan leluasa musuh yang masuk ke teluk Sabang. 

“Bang, geser dulu sedikit boleh? Kami mau selfie..” Seru seorang gadis remaja yang membuyarkan lamunan saya akan suasana Benteng Baterai kala di puncak kejayaannya dahulu. Alamak! Saya lupa, kalau sebagian besar peserta adalah anak-anak remaja siswa SMU. Dan, saya adalah peserta “nyasar” sekaligus peserta tertua di acara tersebut. Ampun...


Benteng Jepang di Pulau Weh
inilah yang terjadi ketika engkau ikutan famtrip yang isinya anak-anak SMU hehehe #canda
  1. Aku nggak nemu gambar misterius tu Bang, saat ke benteng itu dulu. Pastinya yang membuat gambar itu telah menorehkan sejarah dari benteng tua itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa nggak nemu?? Ini benteng di cot bak u loh yelli.. bukan yang di anoi itam hehehe

      Hapus
  2. Menurut saya sih yang nyasar bukan dirimu Bang, tapi mereka anak-anak SMA itu. Eh tapi ini pendapat pribadi ya, hehe.
    Mudah-mudahan lukisan itu masih bertahan ketika saya berkunjung ke sana, haha #egois. Jarang-jarang ada peninggalan perang sekaligus emosional Perang Dunia II di Indonesia. Apa yang ada di Sabang ini mutlak mesti dipertahankan. Terbuktilah, Sabang bukan sekadar nol kilometer... karena bahkan meski kilometer menunjuk angka nol pun, masih ada yang pernah berharap pada sesuatu (atau seseorang) yang jauh di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cieee kalimat penutupnya penuh harap.. ntar kita keliling pulau rubiah. Di dalamnya masih banyak bungker dan karantina haji

      Hapus
  3. Sebuah info yang menarik dari serambi Mekkah di ujung negeri..
    Terima kasih sudah berbagi info...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga sudah berkunjung bang Anggara

      Hapus
  4. Ahahaha. Ini salah ngundang mereka atau gimana ya? Wkwk
    Tapi sebenarnya bagus sih mengundang pelajar untuk tur sejarah seperti ini. Tapi ya gitu deh wkwkwk

    Jadi sabang ga cuma titik nol kilometer indonesianya atau pantai dan bawah lautnya yg eksotis ya bang yudi. Ternyata juga menyimpan peninggalan sejarah.

    Pernah denger sih, dulu mau dibangun pelabuhan internasional sekelas singapura di sabang, menginga lokasinya yg strategis sekali. Tapi wacana ya tinggal wacana hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wacana tahun 2000 itu sempat hampir jadi kenyataan bro. Sayangnya politik singaparna terlalu kuat..

      Hapus
  5. Waaah masih ada peninggalan sejarah kaya gini disana ya. Semoga tetap terawat dan gak banyak coret-coretan kaya di Bandung :(

    Aku tahun depan mampir Aceh nih, harus ketemuan sama bang yudi hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. So far sih masih aman.. soalnya tempat ini cukup tertutup. Dulunya malah masuk kawasan militer. Tp ya semoga deh tahun depan masih aman..

      Hapus
  6. Jadi, akhirnya nda menikmati full ya acaranya? Keganggu ama anak ABG? Hihihi

    Harusnya emang mulai dipikirkan ya, gimana memperkenalkan sejarah kepada anak ABG dengan cara yang fun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Program ini memang udah digagas oleh BPNB sumut sih Daeng. Tapi memang masih kurang dalam mengkondisikannya. Terlebih lagi pesertanya itu sampai 120 orang.

      Yudi hanya kebagian alay alaynya aja darng hahaha

      Hapus
  7. Kok aku degdegan ya ngeliat lukisan yg di dinding itu, apalagi pas baca ceritanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo sendirian, aku juga nyerah bang hahaha

      Hapus
  8. Ini perjalanan di mana Bang Yudi jadi peserta paling "muda" kan ya? Hahahaha xD Waktu ke Sabang aku belum sempat mampir ke sini euy.... Berarti harus ke Sabang lagi xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa.. pas awak ngomong, semua pada bengong liatin dan ditanyain, guru Smu mana? Alamaaak.. yng tanya dari balige pulak

      Hapus
  9. Kebayang jalan sama anak SMA begitu. Pengen dapet suasana syahdu mendadak buyar ... Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya kak.. susah kali pun nyari photo. Pas mau ambil.. eee dia nongol

      Hapus
  10. wah datang ke tempat gini kalau punya six sense suka bikin merinding nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya udah, kalau gitu, ntar kita jalan bareng yuks Koh? plus kak Olive satu lagi hehe

      Hapus
  11. Hehe baru saja mau jadi penyair merangkai kata yellow mellow eh disuruh geser sama anak SMA...

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah Itu! itu dia mbak Wi...baru aja mencoba mencari sensasinya.. eeeeh buyar blas udah

      Hapus
  12. Jadi, maksudnya bercinta dengan bayangan, ya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya begitulah.. tiga tahun jepang menjajah, cukup membuat pulau Weh ini hancur berantakan

      Hapus
  13. tempat yang eksotis sekali bang...salam kenal dari bandung...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali bang Doni.. yuks ke sabang

      Hapus
  14. arghh mau ke sabang lagiiiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayyuk laaah :D
      ntar tak bawain ke pulau rubiah ngeliat bunker di sana :D

      Hapus
  15. Geli deh baca cerita Bang Yudi, telusur sejarah bersama anak SMA. Berasa muda lagi, ya Bang. Walaupun pada hobi selfie, setidaknya mereka masih mau menapaki jejak sejarah negerinya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. untung waktu itu rambut saya gondrong.. jadi nggak keliatan kali orang kantorannya hahaha

      ya, itu satu langkah bagus dari badan pelestarian nilai budaya kanwil sumatra bagian 1 kak

      Hapus
  16. Belanda pernah liburan ke sabang, bukan lagi menjajah, katanya. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, memang. bahkan di sana ada kompleks elit mereka lengkap dengan taman bermainnya :)

      Hapus
  17. wah, aku jadi bayangin misal jalan bareng ABG, yg kadang2 ngajak bumerang tiba2, wkwkwk. Aku jadi tau kl Sabang ternyata ada ini juga, ga cm tulisan 0 KM, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkk untungnya waktu itu nggak ada yang kepikiran bikin bumerang kak.. klo ada, habis sudah aku diomelin ama istri hahaha

      Hapus
  18. mayan ya tempat sejarah seperti ini, bikin nuansa yg berbeda :)

    BalasHapus
  19. Hahaha walau tua tapi kan jiwa muda om. Btw kok aku lihatnya tempat yang ngeri ya mas. Hiks :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha no sepatunya berapa kak? :D
      aku juga mendapatkan kesan yang sama sih kak

      Hapus
  20. biasanya kalo tempat kaya gitu suka angker.. waktu itu bulu kuduk pada berdiri gak mas? wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. klo saya sih, kebetulan sering gituan hehehe

      Hapus
  21. Reruntuhan bangunan dan bentengnya banyak nilai2 sejarahya iya bang,?

    Gambar yang ada didindingnya walaupun terlihat serem, tapi kalo dilihat-lihat lagi, bagus loh, detailya gambar fotonya.

    Owh iya bang, salam kenal iya dari kepulauan riau. :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh, salam kenal balik bang.. semoga tahun depan saya bisa ke kepri :)

      Hapus
  22. Wah... pengen kali masuk dan liat-liat kurok-kurok tu.

    Dah betol ni, seharusnya Sabang itu dijuluki kota sejarah dan aset-aset peninggalan sejarahnya dipugar kembali kan bang? Kuburan ulama banyak juga di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu dia.. makanya sekarang, abang lagi senang2nya menjelajah sejarah di sabang. jadinya, nanti sabang nggak hanya cerita underwaternya tapi semua aset yang berharganya

      Hapus
  23. waktu main ke pulau Weh, sempat mampi r ke Benteng Jepang tapi belum sempat mampir ke penjara yang abang ceritakan.

    Saya yang melihat gambar hanya lewat komputer merasa kalau gambar itu hidup sekali. Banyak cerita yang sepertinya mau diungkaplan oleh kedua gambar itu.

    Semoga masih ada kesempatan untuk kembali ke Aceh dan mengunjungi tempat ini.

    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. posisi benteng jepang yang bang Darius datangin itu posisinya pasti di Anoi Itam. nah, ini dekat pelabuhan penyeberangan. makanya nggak bakalan nemu hehehe

      Hapus
  24. Antara kasian dan serem pas lihat lukisan wajahnya. Semoga saksi sejarah ini terus terjaga dan terawat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amien.. iya bener banget, selalu ada dua sisi ya

      Hapus
  25. Baru tau ada tempat ginian di Sabang, trimkasih sharingnya Papa Yudi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sami sami Nak Rahmat.. saatnya Nak Rahmat eksplore lebih luas :)

      Hapus

Start typing and press Enter to search