Sunday, October 7, 2018

Jelajah Aceh Pidie Bersama Satya Winnie

“Yank, bayinya nggak bergerak lagi ini!”
Istri mulai panik. Keadaan semakin runyam. Pikiran mulai membayangkan hal-hal yang tak diinginkan. Bagaimana jika bukan rezeki saya dan istri untuk amanah anak ketiga dari Tuhan? Sumpah, saya panik!

Tangan kanan, mengenggam kuat Ziyad, anak sulung yang memekik histeris. Menangis setiap kali letusan laknat itu berbunyi. Tangan kiri, action cam yang terus menerus menyala. Tidak jelas apa yang terekam. Istri, masih terus melarikan diri dari tengah keramaian yang tak tahu diri. Sembari menggenggam Bilqis, si kriwil, anak kedua kami. Perutnya yang hamil 7 bulan, bajunya yang gamis, ini seharusnya liburan keluarga bukan musibah!

Jika benar-benar terjadi, bayi dalam kandungan istri ini tak lagi bergeming, maka saya akan menggulai tiga orang sahabat yang menularkan ide gila ini kepada saya, dan Satya Winnie. Tersangkanya, Rio, Makmur dan Akbar. Tiga pria dewasa nan jomlo asli Pidie,  sekaligus teman tempat saya berbagi cerita tentang Sigli selama ini.

Saya dan keluarga, Rio, Akbar, dan Makmur, bermaksud memperkenalkan atraksi budaya asli Pidie kepada Women Travel Blogger Nasional, Satya Winnie. Dan ini, adalah kali kedua saya bertemu dengannya di Aceh. Kesan pertama bertemu dengannya? tak begitu bagus. Dia buru-buru mengejar konten hingga akhirnya hanya berbicara sepintas lalu.

Namun, tidak kali ini! Satya, si penggila paralayang ini, memutuskan untuk berpuasa di Aceh. 

Bilqis berselfie ria bersama Tante barunya, Satya
Yaps, Berpuasa sekaligus merasakan suasanan Idul Fitri di Aceh. Ntah apa yang dicarinya. Seperti yang kamu ketahui, Satya, beragama katolik. Namun, ia tetap bersikeras untuk mengenal kampung halaman saya yang tak seberapa megah dalam dunia traveling Indonesia ini.

Berulang kali, saya menanyakan kesungguhannya. Berulang kali ia menegaskan kalau ia ingin merasakan suasana Puasa di Serambi Mekkah! Tak tanggung-tanggung, ia juga menyiapkan beberapa pakaian yang sangat sopan untuk memuluskan niatnya tersebut.

“Tolonglah Satya, nanti orang-orang akan akan mengira jika ke Aceh wajib Jilbab terutama bagi yang non Muslim! Capek saya nanti menjelaskan ke netijen yang maha benar itu!” siapa yang tak gelisah, coba? Image Aceh selalu tak sempurna di mata para pemburu berita. Ini, seorang artis blog travel nasional malah nekat berpakaian “sopan” ke Aceh.

Mundurkah dia?

Tidak! Tekadnya sudah bulat. Aceh sudah masuk dalam list kunjungannya Ramadhan kali ini.

“Bang Yud, saya melakukan ini demi menghargai Aceh. di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung, kan? Orang-orang Aceh menghargai pendatang seperti saya. Sudah sepantasnya saya menghargai kalian, Aceh, dengan semampu saya.” 

tertebak kan dia ada di mana? source : instagram @satyawinnie
Tak diragukan, niatnya bulat sudah. Saatnya menyusun jadwal dan meng-list destinasi. Dan, terpilihlah Pidie dengan semua khasanah selama puasa dan lebarannya.

Akbar, Rio, dan Makmur, saya hubungi. Meminta bantuan untuk menjelajah Pidie di idul fitri. Sebenarnya sekalian, kebetulan kampung istri juga ada di Pidie. Tepatnya, di kampung Tong Pria, tak jauh dari kampungnya Tgk Chik Di Tiro.

Dari Meriam Bambu Sampai Masjid Tua Tiro


Tujuan awal kami, serombongan, adalah menikmati secara langsung pesta rakyat Pidie ketika malam Idul fitri kedua. Teut Beude Trieng ( Bakar Meriam Bambu). Mungkin, sebagian kita telah akrab dengan budaya ini. sebagian wilayah Indonesia ada melakukan budaya ini. Permainan rakyat ini, cukup familiar dengan mereka yang berumpun Melayu. misalnya di Pangkal Pinang, Minangkabau, dan Betawi. Atau, di Jawa tengah, Jawa timur dan Yogyakarta lebih mengenalnya dengan mercom Bumbung atau Long Bumbung.

Meriam dari bambu, dengan amunisi dari minyak tanah dan premium, hanya untuk anak-anak (?) Sumber foto : Akbar Rafsanjani
Apapun namanya, dia meledak! Dan di Pidie, dia meledak tak tahu diri! Sekencang-kencangnya, sekuat-kuatnya! Inilah yang membedakan budaya Meriam Bambu di Aceh dengan daerah lainnya. Budaya yang bertujuan untuk menjalin silaturahmi antar desa ini, memang sudah berlangsung sejak lama. Bila dahulu mereka menggunakan bambu sebagai meriam. Kini, mereka menggunakan drum besar yang digandeng tiga. Mesiunya? Karbit!

Sudah, jangan tanya seberapa besar dentumannya. Dan anehnya, orang Pidie ini, bukannya mereka takut, malah beramai-ramai menontonnya dari jarak dekat! Rumah-rumah warga bergetar dengan hebat. Beberapa kaca rumah yang berdekatan areal perang, ada yang pecah. Namun, tak ada yang mengeluhkannya. Begitulah, ini menjadi ajang mereka berpesta pora. Menyambut saudara jauh yang pulang menyapa keluarga di Pidie.

ini? adalah sumbu pemicu ledakan maut dari meriam karbit!
Satya, terlihat kegirangan. Sesekali ia memekik kaget bercampur bahagia dan tawa. Dalam keramaian, kami terpisah. Satya bersama Akbar, Rio dan Makmur. Saya? Memilih mengamankan keluarga. Dentuman demi dentuman, terus bersambung-sambung. Acara yang berlangsung saban tahun ini selalu dimulai setelah shalat isya, lalu berakhir kala adzan shubuh berkumandang.

Malam, sudah cukup larut. Tak surut sedikitpun jejak langkah para pengunjung dari seantero Pidie. Kami, melanjutkan perjalanan. Badan sudah lusuh. Bau tak sedap lagi. Namun, menghabiskan malam begitu saja, rasanya tak seru. Kami, memutuskan untuk mengisi stamina yang telah usang ini dengan meneguk kopi khas tanah pidie. Bukan, bukan sanger! Tapi Kopi Boh Manok atau Kopi telur kocok.

Perpaduan kopi robusta dari tanah Tangse ( masih dalam kawasan kabupaten Pidie) dicampur dengan merah telur ayam kampung. Sedikit susu kental manis, sedikit gula, sedikit jeruk nipis, lalu jadilah dia dalam satu gelas.

Dari pinggiran Garot, rombongan kami menuju Keude Lameue, Kecamatan Sakti. Jika dari Gle Gapui, lokasi kampus Universitas Jabal Ghafur, lalu mengambil jalan nasional menuju Lamlo. Sekitar 5 km ke depan, ada deretan kedai kopi tradisional di sebuah pertigaan. Di sanalah warung kopi telur kocok pidie legendaris berada.

wajah wajah kekenyangan akibat kopi telur
Jam telah menunjukkan pukul satu malam. Namun, penggemarnya masih ramai. Awalnya, Satya sedikit meragu. Ini sudah larut malam. Wanita pula, bagaimana hendak duduk bersama menikmati lemak kopi telur tersebut. Namun, tiga jomlo bahagia pidie berhasil meyakinkan satya untuk turun. “insya Allah di sini Aman. Kan Aceh sudah damai” ungkap mereka secara bersamaan. Sehati rupanya, pantas, jomlo!

Kami, menyatu dalam syahdunya malam. Obrolan demi obrolan melantur. Bergosip, tertawa, sampai berbagi ilmu blogging. Kopi telah habis masuk ke dalam perut-perut lapar. Stamina telah terisi kembali. Saatnya kembali pulang, ke kota Sigli. Untuk esok melanjutkan perjalanan ke kampung halaman istri.

“Satya, di kawasan ini, kita akan dengan mudah menemukan masjid tua. Masjid-masjid dengan kaligrafi asli dari jamannya, berbahan dasar kayu, dan beberapa diantaranya merupakan peninggalan era kesultanan Aceh dahulu.” Saya berusaha menjadi guide yang baik sekaligus sok tahu kepada Satya.

Tak lama, kami berhasil menemukan sebuah masjid tua yang teronggok tak terurus. Tepatnya, di kawasan kecamatan Tiro. Masih satu dalam area sekolah agama Islam di Kecamatan ini. tak jauh dari pusat wisata Pemandian Pintu Satu Tiro.


Menurut penuturan teman saya yang cukup paham sejarah, ia menyakini, jika masjid yang kami temukan ini, merupakan  salah satu peninggalan dari Teungku Chik Di Tiro. Seorang pahlawan Nasional sekaligus seorang ulama besar dari Aceh. Sayang seribu sayang, tak terurus.

Sebagian bangunannya telah dimakan rayap. Saya, dan Satya melangkah perlahan. Menikmati setiap sudut yang masih tersisa. Menikmati setiap ukiran yang masih tampak indah. Takjub, sedih, haru, dan bahagia. Membuncah menjadi satu. Pidie memang selalu punya cerita.


Terkantuk-kantuk ia di kursi belakang. Sesekali ia tertidur. Perjalanan panjang ke Pidie membawa pengalaman tersendiri kepada Satya, begitupun kepada Bilqis dan Ziyad. Mereka menemukan tante baru dari Jakarta. Saya, tersenyum bahagia, karena akhirnya mengerti jika aceh ini, begitu banyak budaya dan wisata yang belum tertuliskan dalam blog sederhana ini.

“Yank, bagaimana bayinya? Apakah masih diam?” saya tiba-tiba teringat akan kejadian kala meriam karbit itu meletus.

“alhamdulillah, si dedeknya senang. Ia senang bisa jalan-jalan sekeluarga. Sehat terus ya Nak” istri saya menjawab sembari menenangkan ayah dari jabang bayi yang dikandungnya.

Syukurlah...

Post a Comment

Start typing and press Enter to search