Tuesday, November 27, 2018

Mengejar Sunset Di Pantai Baloho, Nias Selatan

Pantai Baloho, Nias Selatan

Lelah bergunung, peluh kering sudah. Namun, perjalanan belum berakhir. Laju kenderaan dari desa Bawomataluo cenderung tak bergerak. Macet tak terperikan. Jalanan desa yang sempit tetiba penuh sesak dengan ribuan orang, raturan kenderaan bermotor. Saling rapat, saling senggol, saling klakson, namun, tetap berusaha menggapai keleluasaan.

Saya dan tim genpi.co terpaksa memutuskan pulang sesegera mungkin, sesaat setelah perhelatan famadaya harimao berakhir. Tadinya, saya berharap dapat melihat sunset di bukit Matahari. Namun, mendung tak mau pergi dari ufuk barat.

Bang Fito, Pasha, Rizki, Yudha, Ivan, dan Aci, akhirnya sepakat. Kita balik ke penginapan. Istirahat, buang penat, packing, siap-siap besok kembali ke peraduan masing-masing. Saya? Tak mungkin tak mendukung ide banyak orang. Walaupun masih terasa sedikikt kurang.

Pantai Baloho, Nias Selatan

Bagaimana tidak, Sunrise tak dapat, padahal penginapan kami yang berada di pantai Sorake, tepat menghadap ke timur. Namun, cuaca mendung tak karuan selama trip ke Nias Selatan. Senja? Hampir senasib sepenanggungan dengan arunika. Hampir tak ada celah untuk mentari menampakkan keanggunan sinarnya.   

“bang Willi, bagaimana kalau kita ke Baloho dulu? Kan dekat sama penginapan, santai sore saja dulu di situ” Saya mencoba memberi masukan kepada driver yang setia menemani hampir 4 hari belakangan. Kapan lagi? Tugas liputan sudah selesai. Impian menggapai Nias melihat Fahombo Batu, tlah menjadi kenyataan. Yang kurang hanyalah lekuk sinar mentari di pulau yang terkenal dengan destinasi surfing ini.

Pantai Baloho, Nias Selatan

“Ah, boleh juga, dari pada kita duduk di penginapan saja kan? Siapa tahu bisa lihat sunset di sana, kan?” jawabnya mengiyakan permintaan saya. Dan, tim lainnya mengangguk tanda setuju. Dari pada di Sorake lagi?

Pantai Baloho, memang tak terkenal layaknya pantai Sorake, atau Pantai Lagundri. Ketiganya masih dalam kawasan kabupaten Nias Selatan. Pantai Baloho sangat berbeda dengan pantai lainnya. Jika di Sorake kamu bisa bermain Surfing dengan ketinggian ombak sampai dengan 12 meter pada musim angin tertentu. Dan begitu juga dengan pantai Lagundri. Namun, Baloho, adalah kebalikan dari keduanya. Tak ada ombak di sini.

Pantai Baloho, Nias Selatan

Pantainya berteluk. Sejatinya, ia lebih mirip danau dibandingkan dengan pantai pada umumnya. Di sini, benar-benar tenang. Hanya bibir pantai yang genit bermain dengan pasir putih yang tersisa. Di sisi utara, nyiur berderet menyusun bak pagar. Satu dua nelayan hanya duduk santai menunggu hari terang berubah menjadi gelap. Senja, tak lama lagi datang.

Tak banyak pengunjung di sini, walaupun di pinggir pantai, ada beberapa penginapan dengan tempat yang mumpuni. Awalnya saya sempat bingung, kenapa pantai begini bagus tapi sepi pengunjung?

“Abang ke Baloho? Ngapain bang? Nggak ada apa-apanya pantai itu bang. Mendingan ke lagundri bang!” beginilah tanggapan yang saya dapatkan kala saya mengutarakan kalau saya ingin balik lagi ke Baloho setelah acara Pembukaan  Ya’ahowu Nias Festival beberapa hari sebelumnya.

Pantai Baloho, Nias Selatan

Adalah Gregory dan kawan-kawan sepantarannya, merekalah yang memberikan pernyataan tersebut. Menurut anak-anak yang masih duduk kelas 2 Sekolah menengah atas ini, pantai itu tak lebih bak pantai mati. Tak ada pengunjung, sepi, sunyi, dan tak menarik karena tak berombak. Saya tak bisa mendebat mereka. Apa yang mereka katakan, mungkin benar adanya. Bagi mereka, anak-anak yang terlahir di daerah seindah Nias, serta selalu bergelut dengan deru gelombang pantai Sorake, maka Pantai Baloho tak ada apa-apanya.

Apa yang terlihat biasa saja bagi kita, belum tentu bagi orang lain. Begitulah yang selalu saya pahami. Saya mencoba menunjukkan foto dari udara yang sempat diambil oleh Ivan sehari sebelumnya. Dan, mereka semua termenung. Memandang tak percaya. Berkali-kali mereka menanyakan, “ah yang benar saja bang, masa itu Baloho?” Gregory, seolah menjadi ketua suku dalam rentetan pertanyaan tersebut. Saya, hanya tersenyum. 

Yudha, pemuda  bertubuh jangkung, masih sibuk dengan bola biliar sasarannya. Sesekali terdengar tawa, sesekali ia mengeluh. Bola sembilannya, tak masuk ke lubang. Sesaat kemudian, ia lari tergopoh-gopoh mengambil kamera, mencampakkan kaca mata hitamnya. Hampir-hampir lemon tea hangat saya tumpah dibuatnya. Tak peduli, ia melihat ada semburat senja di ufuk barat.

Pantai Baloho, Nias Selatan

Di antara pekatnya mendung, cahaya keemasan yang dipancarkan mentari terpantul cantik di atas air laut yang tenang. Tak mengapa mendung menyapa, namun tak berarti hujan. Mungkin tak sempurna, tapi, pencarian akan senja mau tak mau harus diakhiri. Saya menyudahi suapan mie instan, ikut berlarian mengejar senja yang tak lama akan tenggelam.


Mentari sore itu, bak pelita yang menyala dalam kegelapan dan kemelut mendung. Namun semburat yang kuat membuat hati-hati yang lelah kembali ceria. Tak lama memang, namun cukup mengisi relung cerita yang kosong. Tak cukup memang, namun paling tidak, ada senyum yang keluar sore itu. Sayup-sayup ia menghilang ditelan awan dan hujan gerimis. Saatnya menyiapkan diri untuk kembali pulang kampung. Saya, menitip rindu pada pantai ini. siapa tahu, kelak, bisa mengunjunginya lagi untuk memenuhi hasrat mengejar senja. 

Pantai Baloho, Nias Selatan

Pantai Baloho, Nias Selatan





How To Nias Selatan :

Udara
Jarak tempuh menuju Kepulauan Nias berkisar 45 menit dari Bandar Udara Internasional Kualanamu (Medan) - Bandar Udara Binaka (Nias) dengan harga tiket antara Rp 400.000 s/d Rp 700.000.

Darat
Dari Kota Medan menuju Kota Sibolga berkisar 10 jam dengan mengendarai Jasa Angkutan Darat seperti Taxi, Mini Bus dll harga tiket sekitar Rp 120.000

Dari Kota Medan menuju Kota Pelabuhan Aceh Singkil berkisar 8 jam dengan mengendarai Jasa Angkutan Darat seperti Taxi, Mini Bus dll harga tiket sekitar Rp 120.000

Laut
Sesampainya di Pelabuhan Sibolga, perjalanan laut menuju Pelabuhan Gunungsitoli dapat memakan waktu 10 jam dengan menggunakan Kapal Penyeberangan dengan harga tiket sekitar Rp 80.000 s/d Rp 130.00. Kapal ini beroperasi setiap hari dengan jadwal keberangkatan Malam dan sampai di Gunungsitoli pagi hari.

Dari Pelabuhan Aceh Singkil dapat menyeberang dengan menggunakan kapal penumpang yang beroperasi 2 kali seminggu yaitu hari Selasa dan Kamis. (sumber google)
  1. Saya selalu percaya, di manapun kita melihat sunset ataupun sunrise pasti indah. Bagi masyarakat melihat pemandangan tersebut sehari-hari itu biasa, kalau kita yang pada dasarnya datang hanya beberapa hari, melihat sunset di pantai yang jauh dari tempat tinggal kita pasti bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi iya bang, dan dia selalu datang tanpa ingkar janji, Halah

      Delete
  2. Itu pulau rayuan pulau kelapa bener ya... sepanjang pantai sejauh mata memandang kok pemandangannya kepala tinggi semua.. rayuannya bikin aku pengen kesana hahaha

    ReplyDelete
  3. Romantis banget, menitip rindu di pantai ini, saya kok ya lebih suka pantai yang sepi, meski kata orang tidak menarik

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama kak, enakan yang sepi dan sunyi, terkadang cukup kita sama kekasih hati aja.. eaaa

      Delete
  4. pertama kall komen di sini...
    foto sunset yang dari udara keren, bang...
    matahari nya kayak betulan tenggelam...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa,,, bedalaah blogger terkenal dikau hahaha

      Delete
    2. Jangan muji, bg...
      Bisa panjang nanti tangan ni...

      Delete

Hai... Terima Kasih sudah membaca blog ini. Yuks ikut berkontribusi dengan meninggalkan komentar di sini 😉

Start typing and press Enter to search