Siapa Bilang Ke Aceh Harus Pakai Jilbab? Nggak Perlu!

Sunset di Kepulauan Banyak (foto punya Om Cumi Lebay)

“Hati-hati kalau ke Aceh, ada Syariat Islam loh..ntar di tangkap ama polisi syariat, bisa dicambuk dimuka umum loh!”
Saya tahu, sebagian besar kalian akan berpendapat demikian ketika ingin berangkat menuju Aceh untuk pertama kalinya. Stereotip Aceh sebagai kawasan Syariat Islam telah membuat sebuah mimpi buruk menjadi kenyataan. Islam yang keras, tak ada perjudian, tidak ada wanita tunasusila, tidak ada bioskop, tidak bisa dugem, atau hal-hal yang lainnya yang berkaitan dengan semua keinginan duniawi yang biasa tersaji ditempat wisata lainnya di Indonesia. Dan, justru  karena hal itulah yang membuat Aceh itu unik, kawan!

Bayangkan! Bila kalian ke Aceh lalu kalian dikejar-kejar polisi syariat hanya karena kalian duduk “ngangkang” di motor. Atau, kalian dikejar polisi syariat karena duduk diwarung kopi sampai malam hari terutama kalian yang bergenre wanita atau yang berjiwa kewanitaan #eh? 

Ditangkap, dikawin paksa di penghulu dengan mahar emas yang bermayam-mayam. Harus tutup aurat dan pakai jilbab, bahkan ketika mandi laut! Dan yang terburuk? Tentu saja kalian bisa dihukum cambuk dan tak boleh balik lagi ke kampung halaman! Bayangkan! Betapa Aceh itu mengerikan dengan semua peraturan yang ada.

Jujur, sebenarnya sejumlah pertanyaan yang paling buruk sering saya dapatkan dari sebagian besar teman atau tamu yang sedang berkunjung ke Aceh. mulai dari rasisnya orang Aceh, sampai kejamnya orang Aceh karena mereka gila perang. Well.. paling tidak mereka tidak salah. Karena sebagian besar media mainstream hari ini memang menceritakan demikian.

Yakin nggak mau kesini??? (kepulauan Banyak foto oleh Barry kusuma)
Lalu, benarkah demikian? Separah itukah Aceh itu? Tidak bisa keluar malam, tidak boleh berdua-duaan, apa-apa harus berurusan dengan polisi syariat, cambuk dan sebagainya? Bagaimana kalau saya katakan bahwa ke Aceh, kalian tidak perlu pakai jilbab? Percaya tidak?

****
Salah satu program UNWTO ( World Tourism Organization) adalah mengkampayekan mengenai Respect Local Culture, dan Aceh, mempunyai kearifan local yang tetap harus dijunjung tinggi. Sama seperti Bali yang begitu menjaga adat-istiadatnya. Apakah di bali anda bisa berkeliaran dan menyalakan listrik ketika hari Nyepi? Tentu saja tidak bukan? Begitupun Aceh.

Aceh dikenal sebagai salah satu daerah dengan jumlah penduduk beragama muslim terbesar di Indonesia. Jadi, wajar saja bila akhirnya syariat islam merupakan salah satu Local Culture yang harus dijunjung. Berjilbab salah satunya. Aceh memang mewajibkan jilbab bagi wanita yang sudah dewasa (baligh) dan beragama ISLAM. Yups, hanya yang beragama islam saja. Yang non islam bagaimana? Ya silahkan anda berpakaian sebagaimana biasanya. Yang penting? Anda sopan kami segan. Bukannya anda panas kami terangsang ya? #hayyah.

Perihal duduk ngangkang? Dan harus pakai rok? Hmm.. ini hanya peraturan daerah tingkat dua, jadi bukan Aceh secara keseluruhan. Kabupaten dan kota di Aceh, telah mengadopsi system otonomi. Jadi, setiap daerah kabupaten/kota berhak mengatur daerahnya masing-masing sepanjang tidak bertentangan dengan UUD 45 negara republik Indonesia. (iya, kami masih bagian dari Indonesia, jadi ke Aceh tidak usah pake paspor kok hehe)

Aceh, tidaklah seseram yang kalian bayangkan. Pelaksanaan Syariat islam di Aceh sangat humanis, kecuali bagi mereka yang suka judi dan minum miras (khusus muslim) dan tidak seperti yang kalian dengar dari kabar burung yang tak jelas burung siapa itu. Di Aceh, kalian bisa berkeliaran sampai larut malam. Bagi wanita, asalkan ada yang menemani dan bukan untuk hal yang aneh-aneh, pun masih aman. Bioskop dan Diskotik memang nggak ada, tapi bukan berarti Aceh kekurangan tempat nongkrong yang asyik. Konser music, pameran, dan fashion show sering diadakan di Aceh. tentunya sesuai dengan peraturan yang berlaku.
kak Gemala Hanafiah diving di perairan Pulau Weh (foto dari www.gemalahanafiah.wordpress.com)
Polisi Syariah razia? Tenang, mereka itu cuma melakukan razia pada saat-saat tertentu. Dan bila kita tidak salah, kenapa mesti takut? Sama saja dengan pak Polisi, bila anda tidak melanggar mengapa mereka harus menangkap kita, bukan?

Jangan ragu untuk menikmati semua keindahan pantai-pantai di Aceh, apalagi bila kalian ingin surfing, diving, ataupun snorkeling. Karena penerapan jilbab tidak se-“kacau” yang anda kira. Seorang surfer wanita yang terkenal di Indonesia, Gemala Hanafiah, pernah surfing di pantai lhoknga tanpa pakai jilbab. Aman? Ya tentu sajalah aman! Atau lihatlah para bule yang bisa bersnorkeling ria di pantai Iboih, pulau Weh, dengan pakaian renangnya yang seksi tanpa jilbab. Aman? Yups, tentu saja. Kalau tidak aman, mana mau mereka balik lagi ke kampong saya ini, kan?

Kak Mala mau surfing di pantai Lhoknga Aceh Besar ( foto asli dari sini)

Najwa Shihab ketika meliput Aceh (foto by : fetzer.org)
Kami orang Aceh rasis dan kasar? Andaikata kalian mau membaca tulisan blog sederhana ini dengan sabar, saya pasti akan menjelaskannya panjang kali lebar mengenai hal ini. Tapi, itu sepertinya terkesan terlalu dipaksakan. Intinya, (saya copy paste saja tulisan bang Sayid Fadhil yang ini)

Kasar? Orang Aceh itu memang keras. Kadang candaannya juga keras. Tapi bukan berarti kasar tanpa tata krama. Bahkan di Aceh, tidak pernah terdengar kejadian ada pencopet dibakar hidup-hidup, atau dipukuli sampai cedera parah atau mati.

Kenyataannya orang Aceh sangat ramah kepada pengunjung. Bahkan dalam adat Aceh ada istilah pemulia jame, memuliakan tamu. Bila kita bertamu, dan menginap, jamuan makan untuk kita pastilah lebih dari pada kebiasaan makan sehari-hari. Bahkan dengan berat hati, terpaksa saya akui, kadang kala malah lebih memuliakan tamu dibanding keluarga sendiri hehehe

Nah, sampai disini dulu cerita saya mengenai Aceh, sebuah kampong di ujung barat Negara yang indah ini. Apakah kalian masih takut ke Aceh? atau masih bingung ke Aceh karena tak punya jilbab? Tenang, nanti kalau kalian (para wanita dan yang berjiwa wanita) ke Aceh dan tak punya kerudung atau jilbab, akan saya pinjami punya istri saya untuk kalian. Akan tetapi, bila tak mau, pun tak mengapa. Sepanjang anda berpakaian sopan, maka kami pun akan segan. Tapi bila anda berpakaian “panas” maka kami pun akan tergoda #makinkacau

Yakin tidak mau kesini??? 
Kesimpulannya? Saya kembalikan semuanya kepada anda semua. Saya tunggu kedatangan kalian semua di Aceh ya…



YR
Bna, 8/10/15

Yudi Randa

Saya, menyukai dunia travelling, Mencintai membaca, Mencintai duduk bersama keluarga sembari menikmati secangkir kopi, menyenangi berbagi bersama. Bisa di Hubungi di yudi.randa@gmail.com

86 komentar:

  1. Jilbab itu aturan Islam, bukan Aceh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan aturan bang bai, tapi syariat islam hehehe

      Hapus
    2. Yudi apanya bukan aturan ?? Jelas "SYARIAT ITU ARTINYA ATURAN SESUAI KETENTUAN ISLAM" -_- kamu jng memalukan diri sendiri

      Hapus
    3. hehehe slow bang Akmal :D
      ada baiknya dijelaskan secara mendetail bang. tak usah pake ngamuk2 macam tu hehe
      yups saya setuju dengan pengertian itu walaupun itu sedikit masih kurang pengertiannya :D

      Hapus
    4. Maaf bg yudi randa.. sebaiknya ab belajar lebih banyak lagi tentang syariat islam dan agama islam.. jangan sampai merancukan kata2 kepada org luar, sehingga mereka meremehkan syariat islam... tenang saja.. di Aceh banyak terdapat dayah atau pesantren dan zaujah yang dapat ab cari referensi sebenar ttg islam..

      Hapus
    5. Rancu ya?
      Yang mana?
      Saya hanya bilang, masih kurang tuh pengertiannya. Coba dinbaca ulangnya terima kasih

      Hapus
    6. jangan salah presepsi, jilbab itu pakaian tanpa putusan. seperti gamis. khimar / kerudung itu yang dikenakan dikepala.

      Hapus
    7. silahkan terus membahasnya hehe
      saya duduk saja

      Hapus
  2. Aceh ada di list aku dari dulu untuk berlibur, Bang.
    Sayangnya belum kesampean aja nih hehe.
    Justru aku lebih senang kota yang ada aturannya seperti Aceh ini, walaupun nggak menutup kemungkinan sebetulnya masih banyak celah oleh oknum tertentu ya.
    Pokoknya someday, i'll be thereeee :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo begitu, ayo ke aceh sekarang Anggi hehehe
      Klo mau terbang murah via airasie aja ya. Saya tunggu loh #eh

      Hapus
  3. Sangat ispiratif Bang Bro. Saya suka tulisan ini. Semoga pihak-pihak "perusak" nilai turisme Aceh mau memahami tulisan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mut.. Bentar lg akan dimuat di phinemi gara gara makmur share di fb hihihi

      Hapus
  4. Aku suka ama yg keras2, please bikin keras yoooo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau yang pake kopi atau pake viagra bang??? Hehehehe

      Hapus
  5. Aku sih nggak pake jilbab :p eh kalau pake celana pendek berarti nggak apa juga ya? Aku kalau jalan suka pakai celana pendek kemana mana XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo pake celana pendek ntar nggak boleh masuk ke masjid raya banda aceh ,bang.. Walaupun sekedar moto tetep g boleh. So far pake celana pendek di banda aceh masih sedikit ditolerir bang. Jadi, kpn ke aceh? Hihihi

      Hapus
  6. Ah Aceh, kapan bisa ke sana ya?

    Saya setuju kalau kearifan lokal Aceh yang berbentuk syariat Islam itu dijaga. Boleh dong orang Aceh menjunjung tinggi syariat Islam kalau memang dianggap sesuai dengan mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Daeng, Klo memang beneran pengen ke aceh, tinggal jual note 4 atau note 5 heheheh

      Hapus
  7. Itu fotoku pake kaca mata item dan kudungan, kenapa dipajang di sini? Bayar!

    BalasHapus
    Balasan
    1. He???
      Katerina udah berubah?? Menjadi arabian woman???
      No rekeningnya kak, saya transfer

      Hapus
    2. Kata orang sih aku mirip Najwa Shihab *pasang kaca mata*

      Hapus
    3. ooh.. ok.. baiklah.. aku pakai teropong dulu
      tapi klo gaya "wawancara"mu sih aku percaya kalau kamu itu mirip dengannya :D

      Hapus
  8. indah tulisanmu, mematahkan paradigma yang ada di masyarakat Indonesia mengenai Aceh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak..
      saya harus mengakui, kalau selama ini aceh memang sedikit tertutup dari dunia luar, sehingga berbagai informasi berkembang tidak terkontrol. salah satunya perihal jilbab ini :)

      Hapus
  9. Banyak hal baik dan positif dari Aceh yang harus disuarakan dan disebarkan kepada masyarakat luas. Sebelum ke Aceh, aku juga banyak dicibir tentang harus begini begitu. Tapi kupikir, di manapun itu, sikap sopan dan hormat pada penduduk setempat tetap harus jadi nomer satu. Aceh indah kok bagiku. Dan AMAN :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups bener banget mas Adie, karena pada akhirnya, budaya ketimuran itu jauh lebih berharga dimata orang banyak, daripada kita bersikap sok acuh tapi pada akhirnya kita sendiri yang menjadi tidak nyaman kan.

      terima kasih sudah berkunjung ke Aceh mas adie

      Hapus
  10. Hhaa..Dulu saya juge denger kalo ke Aceh harus pake hijab. Ternyata gak perlu asalkan sopan. Namun di Mesjid Baiturrahman tetap harus pake penutup kepala hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua masjid dan mushalla di aceh, semuanya berlaku hal yang sama Mbak. harus nutup aurat baik itu perempuan dan pria. sami aja :D
      Jilbab itu hanya berlaku bagi mereka yang beragama islam mbak. selebihnya? kami tidak mungkin memaksa yang non muslim untuk mengenakan jilbab bukan? :)

      Hapus
  11. Pulau dan lautnya langsung menghipnotis saya, jadi pengen kesana terus nyobain diving.

    (Btw, aku juga di Aceh punya kerabat)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naaah klo gitu Wida bisa menghemat cost tuh klo ke aceh.. manfaatin keluarga untuk bisa tidur dan jalan2 gratis hehehe

      Hapus
  12. waduh, masa iya aceh sekasar itu .. tapi yaa balik lagi ke diri masing-masing :)
    btw, itu pemandangannya indah mas, jadi pengen liburan kesana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaa banyak yang bilang orang aceh itu kasar, padahal.... #ngibasponi
      ntar klo liburan ke sini kabar2in :D

      Hapus
  13. Kadang orang udah negatif dulu denger kata syariat ya bang yg dipikir cambuk2nya aja padahal sisi positif ga kalah banyak.
    Insyaallah di dalam bukuku nanti ada 1 bagian khusus yg membbahas ini..tujuanku juga supaya orang2 tahu bahwa ayariat islam itu ga main paksa dan selama kita menyesuaikana diri dgn budaya setempat libutan si Aceh ga kalah seru sama liburan di Bali..malah lebih seru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. naaaah yudi nunggu buku kakak!!
      nggak bisa disalahkan juga sih kak, sekarang islam phobia itu semakin luas dan ditambah ada beberapa oknum yang melakukan demikian akhirnya islam terlihat menyeramkan

      Hapus
  14. akkk semogah ada rejekiny bisa ke aceh aamiin....

    BalasHapus
    Balasan
    1. via KL aja mbak wi lebih murah hehehe

      Hapus
  15. Kebetulan taun depan saya mau ke Pulau Weh.. Jadi kalo wanita Islam wajib pake jilbab? Jilbab memang diwajibkan, tetapi di daerah lain msh ada yang belum pake jilbab seperti saya.

    Untuk aturan naik motor gak boleh ngangkang, kalo wanita yang bawa motor boleh? Semisal sendiri atau dibonceng oleh sesama wanita?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berpaikanlah yg sopan kaka. Klo bisa pake kerudung atau selendang tentu Lebih baik.
      Boleh boncengan n membawa motor tidak ada masalah. Kl masih ragu, japri saya saya by email jga boleh klo mau kesabang

      Hapus
  16. Aceh kebagian kabut asap nggak?

    BalasHapus
  17. salam kenal bang yud, kunjungan perdana. awal liat photo pertama, tanpa liat captionnya, sempet mbati, kok kayak om cum ya??hee. ternyata posenya dia mudah dikenali,,haaa.*OOT*
    waktu dikediri kemaren sempet temenan sama orang asli aceh, sedikit banyak cerita soal aceh dari tsunami sampe hukum yang berlakuk diaceh.
    Ah kapan ya bisa ke sabang,,, penginya gak ketulungan,,,, kebetulan dimerauke nya udah puluhan tahun, harus main kesabang, biar lengkap jadi orang indonesia asli,,heee,

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu sengaja pake poto Blogger travel terkenal, biar bisa numpang tenar bang Ibnu hehehee
      berdasarkan cerita teman bang Ibnu, gimanakah aceh itu?
      saya tunggu kedatangannya ya bang, klo terlalu mahal, via KL aja bang heheh

      Hapus
  18. Ternyata Aceh tak seseram yang ditulis di koran ya. Memang pintu wisata mesti dibuka selebar-lebarnya aga segala imaji yang keras selama ini perlahan terhapus. Ya wisatawan juga mestimenghormati adat istiadat Aceh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya begitulah Mbak, media sudah terlalu sering membuat kami disini gelisah dan galau tak menentu Mbak.
      Dan Yudi rasa, diimanapun kita berada kita wajib menjga adat istiadat setempat kan mbak? misalnya di badui dalam yang tak boleh bawa Hp ya kita tidak bawa hape kan? :)

      Hapus
  19. terhibur baca komentar-komentarnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yudi juga terhibur dengan kehadiran kk disini :D

      Hapus
  20. Sebenernya aku ngerasa agak ambigu sama aturan jilbab itu Bang Yud. Iya sih emang bener wanita di Aceh hampir semuanya berjilbab. Tapi yang aku herannya itu kok masih pada seneng pakai kaos lengan pendek ya? Hahaha. :D

    Aneh aja, jilbaban tapi kok pakai kaos lengan pendek. Apa nggak pernah ditegur polisi Syariat atau gimana itu Bang Yud?

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkw udah nikmati aja.. toh udah pernah ke aceh kan Mas? :D
      hmm klo ada razia tentu saja mereka kena, pria yang bercelana diatas lutut juga sama. yang berboncengan dengan non muhrim dengan gaya duduk yang ehem2 juga akan ditehur.. klo ada razia loh ya? :D

      Hapus
  21. Alhamdulillah 3 - 5 Oktober 2015 berkesempatan ke banda aceh ada even kantor mengunjungi tempat2 tsunami dan pantai lampuuk ... belum begitu puas siy krn urusan kerjaan ...next kesempatan mau ke sabang :)

    BalasHapus
  22. waaah alhamdulillah ya..
    ikutan senang akhirnya mbak bisa ke aceh juga.
    sipp.. saya tungguin trip selanjutnya ya. Saran saya, ada baiknya ambil cuti 4 hari ya mbak. biar puas dengan sabangnya :)

    BalasHapus
  23. Hahaha, quote yang terakhir sukses bikin ngakak
    Aku tetep aja nyimpen Aceh sebagai destinasi impian, nanti aku dimuliakan layaknya tamu ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ada kaka.. Makasih kak sulis udah mampir disini.

      Siaaaaapp.. Mau makan gulai pliek u??

      Hapus
  24. keren banget pulaunya kalau deket udah kesana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. deket kok.. orang tinggal terbang dong :D

      Hapus
  25. Saya sangat menghargai tulisanmu ini. Kamu berani untuk 'speak up' dan ini adalah salah satu contoh untuk lebih mengenalkan Aceh kepada semua orang terutama bagi masyarakat Indonesia saja dulu. Sungguh saya sangat terkesan dengan perjalanan saya di Aceh. Aceh benar-benar menakjubkan tidak seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Thank you and thank you Aceh. Salam petualang!

    BalasHapus
    Balasan
    1. membaca komentar kak Fiona, saya jadi speechless :)
      tapi bukankah itulah kenyataannya kan kak? dan saya senang dengan cerita kakak tentang aceh. terima kasih sudah mau bertemu dengan saya kak dan aceh. Salam petualang.. kak Fiona emang kereeeen :)

      Hapus
  26. jadi pengen ke Aceh :) itu gambar terakhir yg ada perahu dan laut birunya di sertai caption "Yakin tidak mau kesini" aaah abang, yaa mau laah kesana hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi kak Syifna kapan mau kemari? hihihi

      Hapus
  27. Ya ampun Aceh, ini destinasi yang aku idamkan dari kecil kaaaak.
    Semoga bisa langsung terbang ke Aceh kelar skripsi nantiii dan bisa ketemu blogger - blogger Aceh :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh Ya?? Wow!1 hayo hayo selesaikan skripsinya. terus kita jelajahin aceh :)
      sampai ketemu di banda aceh ya kak Astari ;)

      Hapus
  28. Tapi apa benar memakai hijab mayoritas sudah wajib utk warga Aceh ?

    Watch movie bluray

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau uuk muslimah di aceh, ya itu di wajibkan. sama seperti di hukum agama Islam bang.

      Hapus
  29. wah terakhir sy ke pulau mursala sibolga, ternyata udah dkt ke singkil ya, tau gitu lanjut ke singkil krn byk pulau keren. planning thn ini sih klo bisa ke pulau weh dan banda aceh mudah2an bisa terwujud. mungkin 2 atau 3 tahun lg mau ke tapak tuan dan singkil. mudah2an bisa terwujud smua.. amin....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amien.. mudah2an bisa terwujud ya Bang Tedi

      Hapus
  30. Tanya dong,
    Kalau lari pagi di Aceh untuk perempuan non-muslim, bagaimana baiknya?
    Apakah bisa dilakukan seperti pelarian biasanya?

    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertanyaan kak Veronika menarik :)
      tapi biasanya perempuan non muslim yang lari pagi di seputaran lapangan atau di jalan2 protokol tetap tidak menggunakan jilbab. hanya pakaian sopan saja. boleh celana 3/4 kok kak :)

      Hapus
  31. wah kyknya menarik ya itu aceh apa lagi pulau weh nya. Mungkin bisa jadi planning liburan nanti , makasih min :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kembali airpaz sudah berkunjung :)

      Hapus
  32. Setidaknya, saya memiliki teman meskipun baru sebatas di dunia maya, yaitu Mas Yudi, untuk bisa saya datangi bersilaturahim, sharing-sharing, doakan ya Mas hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah.. dan saya masih seorang yang tidak wajib pake jilbab di aceh bang hehehe

      saya doakan semoga bisa ke aceh tahun depan

      Hapus
  33. Setuju, kalau lain ladang lain ilallang.. Harusnya sebagai wisatawan kita menghormati kelokalan yang dimiliki dalam berbagai aspek.. masuk ke kuil di Bali aja kudu pake sarung..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups benar sekali bang agun.. Tp terkadang kota malah lupa utk saling menghargai ya?

      Hapus
  34. Thanks infonya, ajak teman ke aceh tp ditolak trus, alasannya ke aceh perlu jilbab gak boleh pakey jeans lol, sekarang ini buktinya.. Makasih....

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga jadi referensi ya mbak Lady :D

      Hapus
  35. Hallo..saya menyukai tulisan anda, kredibel dan independent tentang Aceh..Saya lahir dan dibesarkan di Aceh sampai saya SMA dan setelah itu saya merantau ke luar pulau dan negara, belasan tahun, untuk menuntut ilmu dan mencari nafkah sampai sekarang, kadang kala balik ke Aceh....Dari perantauan saya,banyak teman dengan berbagai adat istiadat yang saya cermati..Dan setelah melakukan perbandingan, saya sampai pada satu kesimpulan yang sama dengan anda "Orang Aceh memang KERAS" he..hee..hee..bukan prianya saja termasuk wanitanya..jangan tersinggung, that's fact..Keras dalam arti apa..yup, watak , tabiat dan tutur katanya..Namun tentu saja ada baiknya..loyalitas, syar'i dan pemulian terhadap tamu salah satunya dan saya yakin banyak kebaikan lainnya..intinya tidak ada suku bangsa yang sempurna, pasti ada leakingnya..dimanapun seperti itu, Oke bro..thanks artikelnya, very inspiratif and very helpful ..
    Oh yaa..kalo boleh saran, jangan terlalu detail membahas syariah islam dalam mempromosikan daerah aceh di blog anda ini, karena hal tersebut sensitif..sensitif banget bro, kecuali anda "sangat ahli" dalam pemahaman hadits shahih dan penafsiran kitab suci Al-quran dari para mufassirin terkenal, well that's okay..bro..Anda dapat menjawab segala comment yang menyerang anda dari sisi syariah dengan "cool"..yup , jawaban yang syar'i tanpa terpancing emosi..silahkan memberitahukan hal-hal yang positif tentang Aceh, but be carefull about syar'i problem, don't judge it, because that's crusial and sensitive area, ..okay..Well, suggesting only,...
    Keep Blogging bang Yudi Randa...and Keep promote our beautiful Aceh..We really appreciate it..All my friends want to Aceh especially to Sabang..
    Sallam..

    BalasHapus
    Balasan
    1. thx for you advice bang riyandi :)

      Hapus
  36. Mas yudi randa saya baca artikel and a maaf Dan jujur saya sedikit takut kesana tapi suami saya orang Denmark sangat penasaran dengan aceh.saya may mengunjungi 0 kilometer.bagaimana untuk berpakaian disana? Maaf saya khawatir disana nanti gimana. Terimakasih infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mbak Ghea,
      khawatir dalam hal apa ni? pakaian? sepanjang mbak berpakaian sopan (tanpa jilbab) tidak akan menjadi masalah kok Mbak.
      utk suami mbak yang "bule" juga berlaku hal yang sama. Bila ke pantai tidak memakai pakaian "two piece" dan bikini. semuanya Aman kok mbak
      bila masih ragu. bisa menghubungi saya via email. terima kasih

      Hapus